Posts tagged ‘tips’

August 25, 2012

Pilih-Pilih Apartemen

Bisa dibilang kami termasuk nekat. Kota yang kami datangi bukan kota yang banyak diminati mahasiswa Indonesia sehingga kami tidak punya teman yang bisa dimintakan tolong untuk mengecek kondisi apartemen yang diincar.

Berbekal dengan kenekatan ini saya mengecek berbagai website. Berikut website yang menurut saya sangat berguna:

  1. http://www.apartmentfinder.com/New-York untuk mencari apartemen.
  2. http://www.apartmentratings.com/ untuk mengecek rating dan review apartemen yang dituju.
  3. http://www.city-data.com/ review kota tujuan bahkan sampai lingkungan tempat kita akan tinggal.

Jangan ditiru kalau anda tipe yang sangat demanding. Teman-teman suami saya, bahkan yang satu kota dengan kami mendapatkan hasil mengecewakan setelah memesan tempat tinggal dari Indonesia.

Kriteria saya dalam memilih apartemen:

  1. Studio. Kami hanya berdua, enough said
  2. Lokasi dekat dengan pusat kota
  3. Utilities (listrik, pemanas, water heater dan AC) sudah termasuk dalam biaya sewa
  4. Harga, harga dan harga.. wkwkwkwk…

Alhamdulillah sekali saya berhasil menemukan apartemen yang sesuai dengan keinginan saya. Itupun masih dapat bonus, dengan harga yang wajar sudah dilengkapi dengan kompor besar, oven dan lemari es dua pintu. Jendela dan pintu yang menuju balkon juga sudah rapih dipasangi windows blind (saya sempat kuatir membayangkan repotnya kudu pasang tirai di jendela).  Pun masih ada fasilitas kabel TV standar. Selain itu lokasinya persis di depan bus stop.

Ya memang masih ada minusnya. Harga sekian tidak termasuk paket internet. Itulah sebabnya 3 minggu pertama saya masih ngap-ngapan mencari sinyal (dasar fakir wifi). Sebetulnya pengelola menawarkan kompleks apartemen lain yang dilengkapi wifi dengan harga 30 USD lebih mahal. Tetapi sewaktu di Indonesia kami memutuskan  untuk memangkas harga sewa dan memilih cari paket internet sendiri. Terbukti kami mendapatkan best deal dengan cara ini (akan dibahas kapan-kapan).

Sistem sewa apartemen di sini ketat sekali. Kontrak mengikat selama 1 tahun (ada yang setahun kalender, ada yang setahun masa kuliah jadi masa liburan musim panas tidak dihitung). Apartemen yang kami sewa menyebutkan klausul bahwa unit tidak bisa di-sublet-kan selama kami sewa. Sublet: disewakan kepada pihak lain.

Tetapi ada klausul tambahan yang meringankan kami, mengingat di tahun kedua jelas saja saya dan suami tidak akan tinggal di sini selama setahun kalender. Kami harus membayar sejumlah uang (200 USD kalau tidak salah) di awal tahun sewa saat tanda tangan kontrak untuk membebaskan dari denda dan kewajiban sewa setahun dengan syarat menunjukkan surat harus bekerja di tempat yang minimal 30 mil jauhnya dari alamat apartemen. Fiuh *lap keringet*.

570 USD per bulan dikali 3 bulan khan lumayan buat nambah DP apartemen di Indo? #eh

pemandangan dari balkon apartemen

pemandangan dari balkon apartemen

Tags:
August 22, 2012

Tips & Trik Membawa Uang ke Luar Negeri

note: catatan ini ditulis oleh suami saya

Salah satu hal yang menjadi kekuatiran para pengembara S2 Luar Negeri waktu itu adalah bagaimana cara membawa uang secara aman dan nyaman. Mulai dari saat pengambilan uang (di Kantor Cabang Khusus) sampai tiba di negeri seberang. Apalagi uang ransum yang diberikan di awal jumlahnya cukup lumayan (untuk men-cover biaya hidup 3 bulan pertama), tidak lucu apabila tetiba tercecer, hilang, atau bahkan dirampok di tengah jalan, 3 bulan pertama di sana mau makan apa? Ati bukan salah satu opsi untuk dimakan di sana.

Dari pengalaman angkatan-angkatan sebelumnya, didapatkan beberapa pencerahan. Ada yang memisah-misahkan uangnya dalam kumpulan-kumpulan kecil kemudian ditaruh di berbagai tempat. Mulai dari koper bagasi, koper kabin, dalam kaos kaki, diinjak di dalam sepatu, dan di balik kutang. Ok, baiklah, 3 tempat terakhir memang sengaja dilebih-lebihkan agar suasana terlihat lebih intens gentingnya. Tujuan si empunya ide tentu saja, meminimalkan risiko kehilangan, jadi kalaupun terembat orang, tidak semuanya. Awalnya berisiko kudu puasa 3 bulan penuh jadi cuma ga mandi 3 hari (apa hubungannya?).

Ada pula yang khusus membeli tas pembawa uang (merek-merek yang menyediakan utils untuk para travellers seperti Delsey, Samsonite menyediakan tas untuk keperluan itu, berkisar 150-300 ribu rupiah) yang biasanya berukuran tipis seperti tas pinggang, dikenakan di bawah baju agar dari luar tak tampak sedang membawa uang dalam jumlah besar. Risikonya sih, apabila butuh uang lebih, dijamin mendadak kudu nari Saman, karena untuk mengambil uang dalam tas itu jadi rada ribet, harus buka-buka baju segala.

Nah, sebagai seorang IT perbankan bermental orang kaya, saya memilih metode yang lain. Dengan membagi uang menjadi tiga bagian. Satu bagian saya bawa dalam perjalanan sebagai bekal di sana barang 1-2 minggu. Dan dua bagian yang lain disimpan dalam rekening valas, dengan harapan sesampainya di sana, setelah membuka rekening di sana, akan saya SWIFT-kan dari Indonesia (catatan: SWIFT = transfer uang ke luar negeri).

Ongkos transfer via SWIFT yang estimasi awalnya (saat dikonfirmasikan di cabang BRI terdekat) USD 5 + USD 25 (biaya tambahan yang harus dikeluarkan oleh pengirim agar nominal yang dikirimkan diterima penuh di rekening tujuan a.k.a. full amount fee) dianggap tidak menjadi masalah.

Saat itu sempat pula terpikir sisa uang tersebut ditarik di sana dari ATM berlogo Cirrus. Tetapi setelah berhitung dengan menimbang (1) maksimum nominal penarikan sehari dari ATM Cirrus (maks. 10 juta rupiah per hari), (2) jumlah uangnya sendiri dan (3) biaya 1x penarikan di ATM tersebut (30 ribu rupiah) jelas terlihat metode 1x transfer via SWIFT masih lebih mangkus dan sangkil.

Hanya saja, metode SWIFT ini memiliki kekurangan yang sangat mendasar, harus ada yang mengeksekusi instruksi transfer tersebut (karena pada kebanyakan bank, SWIFT remittance harus dilakukan di counter CS+teller). Jadi siapa yang bisa melakukannya? Saya tidak bisa, either as Putri, karena dia akan ikut bergerilya dari awal (ada hak dia juga sih di sini).

Untung saja, sejak jaman kapan tauk Putri memegang rekening valas USD di Bank Commonwealth. Internet banking bank yang berafiliasi dengan Australia ini ternyata dilengkapi fasilitas SWIFT remittance. Apalagi PIN memakai sistem token, alih2 via mobile token. Sip, cara ini bisa digunakan. Tentu saja, teriring doa sesampainya di tujuan, token tidak rusak dan tidak juga drop batere.

Lebih meyakinkan diri, saya sempat mendatangi CS di kantor Bank Commonwealth terdekat, dan iya, si CS meyakinkan apabila transfer SWIFT ke berbagai bank di luar negeri sangat dimungkinkan dengan menggunakan internet banking bank tersebut, saya bahkan mendapat tawaran demo apabila saat itu sedang membawa token.

Singkat cerita, checking account Chase berhasil diperoleh di cabang terdekat dari kampus saya. Lega menyeruak, mengingat nama bank ini cukup kesohor, jadi tidak ada kemungkinan tidak ada dalam daftar bank tujuan internet banking Bank Commonwealth. Analogi lain, teman di Pittsburgh dan Maryland membuka rekening di PNC atau Capital One, yang notabene less familiar di telinga Indonesia kebanyakan, mungkin saja untuk mempertebal confidence level, saya akan buka rekening satu lagi hanya untuk keperluan ini, hehehe…

Dengan bermodal routing dan account number, malamnya saya mengakses internet banking Bank Commonwealth di: https://commaccess.commbank.co.id/

 

Yang perlu diperhatikan saat melakukan transfer hanya nominal uang yang dikirimkan, harus dipastikan tidak terjadi overdraft balance (uang habis) setelah dikurangi biaya transfer SWIFT via internet banking yang setara IDR 25 ribu atau setara USD 2.64

Masalah lain lagi, dalam sistem, kolom isian routing number yang biasanya juga disertakan saat SWIFT remittance tidak ada. Tapi dengan segala kebulatan hati, malam itu transaksi dieksekusi. Klik Send!

Hari berikutnya (dari pagi hingga malam), belum terjadi perubahan apa2 dalam kolom Credit rekening saya

Keesokan paginya, uang tersebut sudah masuk. Syukurlah, ternyata hanya perlu satu hari saja. Tetapi uang yang diterima berkurang sebanyak USD 15 dari nominal yang dikirim (saya memang tidak memilih opsi full amount). Bisa jadi incoming fee SWIFT dari bank penerima (Chase), sesaat saya bersorak karena nominalnya lebih kecil dari full amount fee yang biasanya USD 25 itu. Hanya saja saat itu status transaksi masih PENDING alias belum terbuku.

Baru kemudian hari berikutnya transaksi tersebut resmi terbuku. Semakin lega. Hanya saja, ada potongan USD 15 tambahan lagi pada rekening. Agak sedikit geram. Usut punya usut, itu incoming fee untuk transfer domestik dari Chase. Sialan, sepertinya bank-bank di Amerika memiliki policy sedikit2 menaruh biaya untuk setiap transaksi pemegang rekening. Transfer keluar/masuk selain dengan rekening Chase terkena potongan USD 15. Ini yang namanya konsekuensi kenyamanan, diambil hikmahnya saja, uang sudah sampai di sini dengan selamat. Tidak ada kecemasan jadi gelandangan di sini…

detil biaya beberapa bank di Amerika

KESIMPULAN:
Plus: cepat, cuma butuh 1 hari uang sampai di tujuan, walaupun belum terbuku dalam rekening; transfer fee sifatnya fixed, mau kirim dari USD 1 sampai nominal maksimal transfer (setara IDR 200 juta) bebannya sama
Minus: potongannya lumayan, USD 2.64 (di bank pengirim) + 2 x USD 15 (di bank penerima)

PS (revisi artikel  tanggal 22/08/2012): total SWIFT fee di bank penerima = foreign incoming wire transfer fee + domestic incoming wire transfer fee (sesuai tabel di atas untuk 10 bank terbesar di Amerika). Jadi kalo pengen murah di ongkos, buka rekening di Citibank atau Capital One atau bank lain yang ada promo gratis incoming wire transfer fee ya…

Testing berikutnya, kirim-kirim uang via PayPal…

Tags:
August 19, 2012

Buying Refurbished Item

I might say that I set my buying criteria a little bit too high before. Don’t get me wrong. If I choose to buy something, I want it be forever. Brand, specification must be perrrfect 😀

Living as a student’s wife with zero income has turned me into someone-not-too-picky anymore. Added to the point that we will live here for 2 years only.

During my microwave oven hunt I do look over all Walmart page to get the best deal. I don’t insist on having the latest one, I just need one microwave oven that works best! Hence I don’t have reluctance buying a refurbished one. I do search, is it safe buying a refurbished? Well, at least the product has a warranty and I dealt with an established seller (who doesn’t know Walmart?)

Currently I have used this for a week. Hope it won’t bother me with any problem

Tags:
July 18, 2012

Pre Departure Briefing

Yesterday we had pre departure briefing regarding to our departure in August. Not only for US grantees, but also UK grantees. In this briefing we’re told about what to bring, what to do, what is allowed and what is not.
I think this is a useful meeting since I’ve never had such a long journey before. Moreover it is my first trip abroad (yay!).

The trainer said that things to be concerned are:

  1. Original documents (I20, Visa, TOEFL, GRE, GMAT, passport, Airlines ticket, Marriage certificate, transcript, financial support)
  2. Complete university address (and your future apartment address)
  3. Copy of birth certificate
  4. Proper clothing
  5. Personal needs
  6. Travel adapter
  7. TSA secure lock
  8. Cash, travel checks that not exceeds 10.000USD (in all currency)
  9. Luggage max 2 pcs. Each max 23 kg
  10. Hand carries 1 piece max 7 kg

PS: thanks to Hardani for the picture

Tags: