February 3, 2019

Autonomous Weapon – will it be our future?

Disclaimer: I haven’t read this book, despite the fact that I want to. I stumbled upon this title on (as usual) Bill Gates’ blog. He picked up this book: Army of None: Autonomous Weapons and the Future of War by Paul Scharre as one of his favourites. Reading the synopsis then brings me back to a year ago, one of the most difficult time during my school year in University of Melbourne.

In my third semester, I took one subject titled Impact of Digitisation which learn anything about effect of technology on daily life, be it on social life, marriage, work, health care even on crime! When the lecture assigned us to write an essay on whatever topic we like, I purposefully choose the impact of Artificial Intelligence on war. Decision that I regret.

Why? Simply because I was too attached to the issue.

Below is the excerpt from my essay:

The development of Autonomous Weapon Systems (AWS), although the technology does not exist yet, has raised the ethical and moral issues. These potential future weapons have garnered attention and invited debate amongst the high-profile leaders. Autonomous means that once activated, the system will perform a task on its own. This triggers the research questions whether and to what extent dehumanisation takes place in the process and what actions should be taken to prevent this from happening. Based on the analysis, the negative impacts outweigh the positive values. Therefore, support from society and strong policies are required.

The key is: dehumanisation. During the writing process, I can’t stop thinking on how the advancement of autonomous weapon systems has shifted the weapon machine operation from automatic technology to autonomous.

The journals, the book chapter, the videos all presented on how cruel human can be. Can you imagine on the real war, when we employ the autonomous weapon, it will perform no judgement on situation. The further the distance, the lesser psychological impact on the life-taker due the detachment of the actor from the consequences. 

Interestingly, the more I dislike the subject, the more it intrigues my curiosity on it. Thus, I put this title as the next-book-to-read.


January 27, 2019

Laut Bercerita – Leila S. Chudori

Matilah engkau mati

Kau akan lahir berkali-kali

Demikian nukilan puisi Sutardji Calzoum Bachri ini diucap, ditafsirkan dan diolah di bawah sadar sang tokoh utama: Biru Laut. Nama yang bagus dan tidak biasa ya? Buku ini memang bercerita tentang kehidupan dan kematian Laut di bagian pertama. Kisah dan deskripsi kejadian dinarasikan oleh dirinya sendiri semasa hidup dan setelah mati.

Laut adalah seorang mahasiswa yang kritis, suka membaca, berpikir dan juga berdiskusi. Sayang, kekritisannya ini mengambil waktu dan tempat yang tidak tepat. Alhasil dirinya lenyap tanpa jejak, meninggalkan pertanyaan besar bagi adik semata wayang dan kedua orang tuanya. Sedih, perih, karena semua serba ga pasti apakah Laut masih hidup atau sudah tiada. Dialog-dialog sederhana antara Bapak, Ibu dan Mara sang adik, sukses membuat air mata saya menggenang.

“Mas Laut ndak suka kalau pisaunya bau bawang. Harus bersih…”

“.. kalau kita semua pergi nanti Mas Laut datang, rumah kosong.”

Yep, the loss of their child has forever transformed their thoughts and dreams. It shifts the perspective of the life they thought they had. Their sole daughter, Mara, has her own rationale thinking. Not only once she tried to bring the topic to discuss with her parents clearly, sensibly, and logically. Still, Bapak and Ibu opt to stay in the denial mode, the thing that I as a reader can’t blame.

Saya pernah membaca di sebuah kanal berita bahwa Leila S. Chudori memang memutuskan untuk mengambil sudut pandang Mara karena ia lebih logis dan kuat secara batin.

“Tak mungkin saya menceritakan dari sisi ibu Laut, karena bisa-bisa saya menangis sendiri saat menuliskannya.”

Kurang lebih begitu kata Leila, yang memang masuk akal. Karena kadang ketidakpastian lebih menyakitkan ketimbang kematian, terutama bagi orang tua yang kehilangan anaknya.

Alur cerita buku ini bersifat maju mundur, namun tidak membingungkan. Latar belakang lokasi pun beragam, mulai dari Jogja, Solo, Ciputat, bahkan sampai Sumatera. Menarik, realistis namun juga pahit. Sungguh khas Leila.

January 20, 2019

How’s Life?

What’s new and exciting? Well.. a lot, I must say.

Tahun 2019 ini dibuka dengan beberapa kebiasaan baru.

  1. Kencan reguler. Pernah denger taktik gimana caranya supaya tetep semangat di hari kerja? Dalam kasus ini ternyata solusinya mudah saja: bikin jadwal kentjan mingguan di penghujung minggu. Jadilah setiap Jum’at malam saya dijemput suami buat makan malam, nonton dan pulang bareng. Buat yang sehari-hari biasa pulang pergi kantor sendiri, dijemput itu ternyata sangat menyenangkan. Apalagi disambung dengan nyobain tempat makan baru dan nonton bioskop.. Serasa kayak pacaran lagi, hihihi.
  2. Baca buku elektronik di kereta. Gara-gara di pagi hari biasanya saya menghabiskan waktu 1 jam lebih gelantungan di kereta, mau ga mau jadi mikir bahwa waktu harus dihabiskan secara produktif. Yasud, kebiasaan beli buku di kindle pun dimulai kembali. Buku pertama yang dibeli: Becoming by Michelle Obama.
  3. Spend the weekend wisely. Aktivitas sehari-hari di kantor kadang bikin ga sempet chatting sama suami sama sekali. Makanya trus saya tebus dengan kencan mingguan :D. Namun ternyata itupun masih kurang, jadi kami tambah dengan menikmati akhir pekan berdua saja di rumah. Hasilnya, langganan Netflix saya termanfaatkan dengan maksimal. Kalo pas suami nonton sendiri, pilihannya antara lain seputaran anime dan dokumentari sejarah. Sebaliknya, saya lebih suka tontonan semacam Black Mirror, YOU, 13 Reasons Why, Stranger Things dan tontonan lain yang populer. Tapi ya, walopun selera kami sangat berbeda ternyata tetep ada series yang bisa kami tonton bareng seperti: 7 Days Out, Stay Here, Sex Education, American Vandal, Tidying Up with Marie Kondo.

Sebenernya ada satu lagi kebiasaan yang sudah direncanakan tapi terancam batal: sebulan sekali pergi liburan keluar kota. Hasil yang lalu-lalu, kami udah ke Lombok, Kepulauan Seribu dan Cirebon. Yang ini sudah batal sekali di bulan Desember gara-gara long weekend dan harga tiket dan hotel ke mana-mana mahal sekali, not worth the effort and the price. Trus di bulan Januari ini juga besar kemungkinan ga ke mana-mana gara-gara musim hujan. Atau mungkin ada saran lokasi liburan yang ga jauh dari Jakarta? Boleh lho ditulis di kolom komentar 😀

December 25, 2018

Buku Yang Dibaca – 2018

2018 ini tahun yang lumayan panjang, sayang ternyata daftar buku yang saya baca di tahun ini ngga sepanjang yang diinginkan. Coba kita lihat, apa aja sih…

  1. Truly Madly Guilty by Liane Moriarty. Biasanya saya suka cerita-cerita karya Liane Moriarty, sayangnya tidak untuk yang satu ini. Sepanjang novel kita dibuat menebak-nebak ada apa di balik sebuah jamuan BBQ antar teman dengan alur kilas balik antara masa kini dan masa lalu. Begitu perlahan-lahan misteri disibakkan, komentar saya “Yaelah begitu doank.”
  2. Lullaby by Leïla Slimani. Dibuka dengan kalimat yang mengejutkan: “The baby is dead.”. Dari situ saja saya sudah penasaran abis, ini buku ceritanya tentang apa dan ending-nya bagaimana. Bacaan ringan dan bener-bener bikin ngga bisa berhenti bacanya.
  3. The Subtle Art of Not Giving a Fuck by Mark Manson. Not my kind of book, karena memang pada dasarnya ngga suka buku self-help atau motivasi. Prinsip hidup diri saya soalnya ga ribet-ribet amat: lakukan yang terbaik. Jadi dari sini juga saya ngga terlalu butuh motivasi dari orang lain soalnya belum tentu juga orang lain lebih baik, lebih pintar atau lebih cerdas dari saya. Hemm, bagi beberapa orang mungkin memang kedengaran sombong, hehehe.
  4. Resign karya Almira Bastari. Saya ngga terlalu suka baca novel karya penulis Indonesia, tapi khusus Almira Bastari, I made an exception. Cara menulisnya lucu, cerdas dan bener-bener mengena. Candaan dan humornya itu segar dan memang beneran pernah saya alami sendiri. Apa mungkin karena lingkar pertemanan saya dan Almira itu sejenis ya, hehehe.
  5. Melbourne Wedding Marathon karya Almira Bastari. Khan, ternyata begitu saya suka sama satu orang trus orang itu terus yang saya cari. Buku ini sebenernya buku pertamanya Almira sebelum dia nulis yang Resign. Keduanya sama-sama bagus dan lucu, ga rugi sama sekali bacanya.

Tuh khan, ternyata yang tuntas saya baca di tahun 2018 itu cuma lima buku. Bah, macam mana pula ini, ga mutu sama sekali. Tahun 2018 masih ada sisa 6 hari lagi. Di nakas saya sih sekarang ada dua buku yang sedang saya baca setiap menjelang tidur: Blockchain karya Dimaz Ankaa Wijaya dan Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Yang Filosofi Teras udah dibaca dua pertiganya, sementara Blockchain masih kurang banyak. Kalau Filosofi Teras kelar, mayan lah di tahun 2018 total saya baca 6 buah buku 😀