April 28, 2019

Simulasi Kenalan ala Putri – Yoga

Saya sering dapat komplain dari teman-teman yang ketemu suami satu atau dua kali. Kata mereka, suami saya pendiam, susah diajak ngobrol, menjawab pertanyaan seadanya dan juga tidak ada interaksi lebih lanjut. Saya sebagai yang sehari-hari berinteraksi dengan dia tentu saja tidak setuju karena yang saya kenal tidak seperti itu. Sampai saya punya ide iseng di suatu Minggu sore: melakukan simulasi percakapan seakan-akan kita baru kenalan.

Latar belakang:
Saya dan suami merupakan dua individu yang baru bertemu di sebuah meeting profesional. Saya bilang ke suami untuk merespon pertanyaan saya sebagaimana dia biasanya merespon pertanyaan orang yang baru dia kenal.

Gimana kelanjutannya? Kurang lebih begini…

Putri: “Hai! Yoga ya?”
Yoga: “Bukan. Mungkin orang di depan kali” *di sini saya nyembur dia buat serius*
Putri: “Kerja di mana?”
Yoga: “IT”
Putri: “Ooo. Di operasional atau programmer?”
Yoga: “Programmer
Putri: “Udah lama?”
Yoga: “Hehe jawabnya gimana ya, jadi ketahuan tuanya.”
Putri: “Kayaknya kita seumur deh”
Yoga: “Masak sih? Kamu keliatan kayak 28 deh” *ini dia bukan memuji saya, malah sebaliknya.*
Putri: *bingung mo nanya apa lagi. soalnya ditanya apapun kok dia ngga pernah nanya balik. sebal!*
Putri: “Kamu asli mana?”
Yoga: “Jogja”
Putri: “Sering mudik donk?”
Yoga: “Engga”
Putri: “Lebaran besok tapi kamu bakal pulang kampung?”
Yoga: “Pasti”
Putri: “Tinggal di mana?”
Yoga: “Kalibata”
Putri: “Ooo. Kantornya di mana?”
Yoga: “Sudirman.”
Putri: “Wah enak donk, ga jauh kalo ke kantor.”
Yoga: “He eh”
Putri: *speechless soalnya ngga ada niatan dari lawan bicara untuk membuka percakapan dua arah*
Putri: “Habis meeting ini mau makan siang ga?” *ceritanya mo ngajak makan siang bareng*
Yoga: “Engga”
Putri: “Lha? Kenapa?”
Yoga: “Diet”
Putri: “Diet kenapa?”
Yoga: “Lagi ngirit sih”
Putri: *sampai pada kesimpulan bahwa cowok ini kayaknya ngga punya duit. Karena ditanya dia mudik apa engga, jawabnya engga. Diajak makan siang juga ogah, buat ngirit katanya*
Putri: “Oooo…”

Sampai di sini pada akhirnya saya memahami kenapa kok teman-teman saya bilang begitu. Untung aja dulu bukan saya yang menginisiasi pedekate, kalo engga bisa-bisa saya frustasi duluan, hahaha..

April 27, 2019

Nginep di Bandara Wellington

….. gara-gara takut bangun kesiangan.

Iyah, dodol banget ya.. Pas habis pesen tiket pesawat itu saya baru nyadar kalau pesawat pulangnya itu jam 06.45 pagi. Berdasarkan pengalaman, biasanya kalo penerbangan internasional khan check in minimal 3 jam sebelumnya. Nah berarti kita harus sampe bandara jam 03.45 pagi. Kalo mo nginep di hotel, berarti harus bangun jam 3 lalu langsung balikin mobil sewaan. Masalahnya adalah.. Saya ngga yakin rental mobilnya buka 24 jam. Bakal berabe urusannya kalau si Hertz bandara ternyata ngga menyediakan loker pengembalian kunci yang buka setiap saat. Ga mau ambil resiko, jadilah akhirnya saya ambil keputusan sepihak: malam terakhir kita bakal tidur di bandara.

Respon suami? Ngangguk-ngangguk pasrah dan ga protes sama sekali. Udah biasa kere, soalnya. Hahahaha

sopir Antar Kota Antar Propinsi-nya lagi leyeh-leyeh memandangi laut sebelum meninggalkan kamar hotel nan nyaman

Kami berangkat dari Napier jam 10 pagi, menuju Wellington. Wellington ini adalah ibukota New Zealand yang terletak di sisi Selatan Pulau Utara. Nah lho, bingung ga tuh bacanya 😀

Di perjalanan menuju Wellington kami melewati deretan kincir angin raksasa yang bernama Te Apiti Wind Farm yang dikelola oleh Meridian, sebuah perusahaan penyedia listrik di NZ. Konon katanya sih area ini adalah PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) pertama yang dibangun oleh perusahaan tersebut di NZ. Sampai-sampai ada scenic lookout-nya segala lho.

foto wajib bersama mobil sewaan

Cable Car di City Center

di tengah jalan ada patung beginian

Mirip kayak San Francisco, Wellington juga punya cable car. Dan sama dengan SF juga, cable car di sini melewati area perbukitan terjal karena memang kontur tanahnya yang berbukit-bukit. Kalau dilihat, sepertinya cable car ini bukan hanya difungsikan sebagai atraksi turis karena ada warga lokal yang naik turun di tram stop. Tarifnya sih mirip-mirip kayak tram Melbourne, yakni sebesar 9 NZD bolak-balik alias 4,5 NZD sekali jalan.

di dalam tram-nya Wellington

Wellington Botanic Garden

Di pemberhentian terakhir ada jalur khusus yang mengarah ke Wellington Botanic Garden. Ahh.. Taman! Salah satu hal yang saya rindukan dari Melbourne. Kebetulan di hari itu hawanya mulai dingin jadi jaket dan syal kebanggaan dan kebangsaan saya selama kuliah bisa digunakan lagi. Gimana ga jadi kebanggaan, wong punya jaket winter dan syal juga cuma satu itu doank.

Kota Wellington dilihat dari Wellington Botanic Garden
ini pas lagi jalan-jalan di botanic garden-nya
sama seperti Napier, Wellington juga berada di pinggir pantai

Wagamama Restaurant

Berhubung saya tahu kami bakal tidur ngemper ga jelas, jadi selama di CBD muter-muter nyari restoran yang buka. Memang lagi sial, gara-gara libur Paskah ternyata rata-rata toko dan restoran tutup. Untung aja masi ada segelintir yang buka, salah satunya Wagamama, restoran Jepang. Restoran satu ini ternyata absurd luar biasa, karena merupakan restoran fusion Jepang yang memiliki kantor pusat di London dan memiliki 150 restoran di seluruh dunia. Didirikan oleh orang Hongkong. Trus sekarang CEO perusahaannya orang Inggris. Waiter yang melayani kami itu Kaukasian. Chef yang masak orang India. Asli, bingung!

bingung pilih makanan di Wagamama

Balik dari Wagamama, kita mampir Countdown, supermarket semacam Carrefour dulu. Sialnya juga karena liburan paskah, semua supermarket yang ada di tengah kota tutup. Karena bener-bener butuh beli-beli, kami terpaksa harus jalan balik lagi 30 kilo ke luar kota buat nyambangi Countdown terdekat yang buka pas liburan. Buat yang pernah tinggal di Australia pasti familiar dengan logo Countdown karena sama persis dengan Woolworths. Usut punya usut ternyata emang masih satu bagian dengan Woolworths. Aura Countdown itu sama persis dengan aura Woolies. Ahh bener-bener ngga nyangka ternyata bisa menapaki gang-gang belanjaan Woolies lagi. Norak, emang!

Setelah drama perdebatan soal berapa kotak dan plastik cokelat yang harus kami bawa, akhirnya kita memutuskan untuk membawa 10 kotak dan 4 kantong cokelat. Buat siapa aja emangnya? Buat anak-anak kantor saya, kantor suami dan jelas buat dicicipi sendiri. Debatnya cukup seru, padahal peserta debat cuma dua. Ga kalah seru sama debat capres dah pokoknya.

Jam 19.30 urusan kami udah kelar semua. Saatnya menuju bandara, bergerilya cari tempat dan kemudian mulai settle untuk siap-siap tidur.

bekal sebelum bermalam
ngemper sambil kerja
di karpet inilah kami bergeletakan tidur. berdua. kedinginan

Menurut halaman resmi bandara Wellington, konon kabarnya si bandara bakal tutup jam 01.30 – 03.30. Udah deg-deg an aja sih saya, takut diusir keluar bandara. Tengok punya tengok, di sebelah kiri area kami ada dua cewek bule yang dengan cueknya bergelung selimut tiduran di karpet bandara sambil nonton Youtube dan cekikian berdua. Dan kalau saya amati, sebenernya ngga ada yang peduli dengan keberadaan kami-kami yang bergelimpangan di pojok bandara. Tidak petugas kebersihan, petugas keamanan, atau bahkan orang lewat. Saya paling suka dengan budaya Barat yang begini. Ga ada yang peduli dan ngurusin kita, hehehehe. Everyone’s minding their own business.

Memasuki jam 23.00 bandara mulai sepi. Pendaratan terakhir hari itu ternyata sudah lewat. Jadi udah ga ada penumpang atau penjemput yang berlalu lalang. Saya dan suami mulai rebahan di lantai beralaskan karpet, lengkap dengan jaket, syal dan topi kupluk. Cuma bisa memandang iri pada mbak-mbak sebelah yang ternyata berbekal sleeping bag DAN selimut. Asli deh, itu bandara terasa dingin luar biasa kalo kita pas lagi telentang. Entah kenapa kalo pas saya duduk atau berdiri itu ga terlalu dingin, tapi begitu udah tiduran.. brrrr…

Kata ramalan cuaca di HP sih suhu malam itu cuma berkisar 13 derajat Celcius. Saya curiga suhu dalam ruangan lebih dingin lagi karena rasanya ngga mungkin 13 derajat tapi saya sampe menggigil gitu.

Jam 01.00… suara kursi dan meja digeret-geret terdengar nyaring.

Jam 02.00… vacuum cleaner berdengung.

Jam 02.30… mbak-mbak ber-vacuum cleaner muncul dan minta permisi buat ngelap jendela di samping tempat kami tidur.

Jam 04.00… mas-mas petugas cafe bandara datang dan menyalakan musik.

Yhaaa.. Jadi malam itu praktis saya hanya tidur dari jam 12 malam sampai jam 1 pagi. Tapi resiko apapun sudah saya terima sepanjang saya tahu bahwa ngga akan ketinggalan pesawat pulang ke Jakarta. Toh nanti di pesawat juga bisa tidur sepuasnya.

menu sarapan yang kami lahap jam 04.30 di bandara

Berhubung ga ada pesawat direct dari NZ ke Indonesia, jadilah kami transit dulu di Sydney. Awalnya saya khawatir aja buat menjejakkan kaki kembali di Australia. Bukan apa-apa, soalnya visa saya udah abis dan males bikin visa Aussie lagi. Untung aja ternyata kalo transit selama kurang dari 8 jam, warga negara Indonesia ngga perlu bikin visa transit.

kayak kakak adik ga si (–“)

Total jendral kami transit di Sydney selama 5,5 jam. Bosen dah itu muterin terminal dan ngeliatin ada makanan apa aja di bandara. Sampe akhirnya trus selfie beberapa kali. Ngeliatin hasil selfie, saya menarik kesimpulan kalo posisi saya ada di depan suami pas lagi selfie, itu terlihat seperti kakak-adik dengan SAYA TERKESAN SEBAGAI SANG KAKAK. Akhirnya saya minta tuker. Pokoknya kalo lagi selfie, dia yang harus di depan dan saya agak di belakang.

nah ini baru pose yang bener

Komentar suami pas saya bilang begitu? Jelas cuma cengar-cengir jahil. Sebal!

April 20, 2019

Hello from New Zealand

Pengennya sih postingan kali ini disamain dengan blog post yang dari Melbourne ini alias lanjut sekolah lagi di New Zealand. Tapi sayangnya belum, mudah-mudahan suatu saat nanti 😀

This time, this very minute, blog post ini ditulis langsung dari Napier, sebuah kota kecil di North Island. Mumpung punya kesempatan nge-blog dan kebetulan bawa laptop, jadilah dipake buat nulis cerita-cerita. Lagipula saya sudah punya niat ke diri sendiri kalau hari Sabtu itu harinya nge-blog. Sebisa mungkin setiap Sabtu ada hal yang bisa ditulis, walopun mungkin ga ada yang baca.

Ide buat ke New Zealand ini bener-bener mendadak, mungkin baru dicetuskan sekitar akhir Maret lalu setelah suami saya melihat kondisi istrinya yang belakangan ini keliatan butuh banget liburan dan hiburan sejenak dari kerjaan yang lagi deras arusnya. Setelah hitung-hitungan budget, lokasi yang ingin dituju, visa turis setahun lalu yang ternyata masih berlaku, serta cuti yang bisa diambil, jadilah kita berdua ngambil cuti selama 2 hari kerja tapi dapat libur sebanyak 5 hari. Mayan, buy 2 get 3 free.

Itinerary ke mana aja?

kurang lebih beginilah kalau digambar di peta
  • Hari pertama: Bridal Veil Falls
  • Hari kedua: Hobbiton Movie Set (di Shire Rest) dan Waitomo Glowworm Cave
  • Hari ketiga: Wai-O-Tapu dan Huka Falls
  • Hari keempat: city tour di Wellington
  • Hari kelima: saatnya kembali ke kehidupan nyata

Bridal Veil Falls

Mencari ketenangan setelah hiruk pikuk dunia kerja? Tepat sekali kalau ke air terjun ini. Saya merasakan sendiri saat duduk diam, mengamati derasnya air terjun, pikiran yang awalnya berkecamuk tak karuan lama-lama lenyap. Beneran itu cuma duduk ngeliatin air doank lho, tapi terasa seperti obat yang menyejukkan hati.. tsaaaah…

Air terjun ini sebenarnya dipilih random aja buat didatangi buat mengisi waktu karena pas landing di Auckland kebetulan masih tengah hari jadi rasanya sayang kalo langsung menuju hotel buat istirahat, blessing in disguise sepertinya ini.

Bridal Veil Falls

Hobbiton Movie Set

Tur ini adalah tujuan utama kami kembali ke NZ, karena di kunjungan pertama dulu ga kesampaian. Jadi kalo biasanya orang-orang tuh pesen tiket pesawat dulu, baru order tur, yang ini justru kebalikannya. Saya memastikan dulu tur-nya tersedia baru pesen tiket pesawat. Gila ya, sampe segitunya.

Sebenarnya saya termasuk orang yang sama sekali belum pernah nonton film trilogi The Lord of The Ring ataupun The Hobbit dan belum pernah baca buku J.R.R Tolkien, jadi pas ditanya di sana ditanya ama tour guide-nya siapa yang belum pernah nonton atau baca kisah-kisah LOTR sebelumnya, saya malu juga buat mengacungkan tangan, wong ke sini aja cuma ngikut ajakan suami saja. Tapi ternyata dari seluruh turis yang datang ke Hobbiton, ada sekitar 40% memang sama sekali belum pernah bersinggungan dengan karya Tolkien. Aneh juga ya?


Tapi di sini pemandangannya baguuuuus banget, ga heran mereka yang tidak mengikuti narasi Frodo ataupun Bilbo Baggins pun happy saat mengunjungi satu-satu hobbit hole yang dibangun di sana. Landscape lokasi aslinya yang digunakan sebagai set film yang memang bagus dari asalnya ditambah dengan detil-detil set yang dibangun dengan sepenuh hati bakal bikin yang liat pun bahagia banget, termasuk saya.

Waitomo Glowworm Cave

Tempat wisata ini adalah sebuah gua yang dipenuhi oleh cacing-cacing berpendar. Seram? Engga sama sekali. Malah di dalam gua itu lagi-lagi rasanya tenang dan damai karena memang seluruh pengunjung diminta untuk hening dan tidak bersuara sedikit pun selama tur yang menggunakan perahu ini melewati kerumunan glowworm.

Sebelum tur dimulai, kami diminta untuk berpose sok-sok ngeliat ke atas di depan sebuah green screen. Setelah tur selesai, baru deh dikasi tunjuk hasilnya. Kayak gini nih.

Berhubung ga boleh foto sama sekali, akhirnya kita beli foto modifikasi ini deh

Dan sebelum turun ke dasar gua yang ternyata sungai bawah tanah, seperti biasa kita diajak berputar-putar dulu oleh tour guide, menjelaskan stalaktit, stalakmit dan sedikit kisah soal daur hidup serangga (bener, cacing-cacing itu sebenarnya termasuk insecta) bercahaya yang menghuni di gua itu yang cuma ada di sini dan Aussie itu. Uniknya lagi, ada bagian gua yang mereka banggakan punya akustik ruangan yang keren. Sebenarnya di antara rombongan diminta ada yang sukarela unjuk suara tapi karena tidak ada yang maju, akhirnya tour guide-nya sendiri yang kemudian membuktikan dengan bernyanya salah satu lagu rakyat Maori.

Tapi kalo mau nyanyi sendiri juga boleh kok, waktu itu saya sempat dengerin rombongan di depan kami rame-rame nyanyi 1 lagu rakyat Korea dengan semangat, mirip paduan suara. Lucu karena nadanya riang seperti lagu anak-anak..

Wai-O-Tapu

North Island ini terkenal kaya dengan wisata geotermal, mengingat secara geografis letaknya di patahan kerak bumi yang sejak dari jaman purba sangat-sangat aktif. Ada beberapa opsi tempat yang bisa dipilih, mulai dari Crater of the Moon serta Wairakei di Taupo atau Te Pua dan Waimangu di Rotorua. Tapi setelah ngecek gambar-gambarnya di Internet, suami memutuskan buat pergi ke Wai-O-Tapu saja sebagai perwakilan 😀

Tempat ini mirip kayak Yellowstone di Wyoming yang pernah saya tulis di sini. Masih lebih bagus Yellowstone sih, soalnya di sana geyser-nya lebih banyak. Didukung dengan pemandangan sekitar yang jauh lebih bagus. Tapi Wai-O-Tapu lumayan lah buat dikunjungi.

masih aktif bekerja nih jadi baunya ampun-ampunan

Huka Falls

Walaupun sama-sama air terjun, Huka Falls ini beda banget dengan Bridal Veil Falls. Obyek wisata ini ruameeeee banget dikunjungi wisatawan berbagai negara. Ga ada titik sunyi buat asyik dengan pikiran sendiri. Alhasil di sini akhirnya saya juga tidak berdiam terlalu lama. Cukup mengamati aliran air yang nge-gas, foto-foto, trus pulang deh.

Pak.. Pak.. Ga boleh kampanye, Pak

Saya dan suami malah lebih tertarik nontonin yang lagi pada naik Powerjet buat ngeliat Huka Falls dari deket. Mirip atraksi sirkus sih, perahu boat yang kenceng itu muter-muter di dekat air terjun dan nyipratin limpahan air terjun ke penumpang-penumpangnya yang cuma bisa jerit-jerit pasrah 🙂

Nah khan, ga kerasa tahu-tahu udah hari ketiga aja kita jalan-jalan. Besok pagi kami masih harus menempuh perjalanan sejauh 322 kilometer. Kata Google Maps sih bakal ngabisin waktu kurang lebih 4 jam-an. Seperti biasa, yang nyetir sepanjang perjalanan ya pak supir AKAP. Saya sih cuma nebeng di kursi penumpang sambil bobok manis 😀

See ya!

April 14, 2019

Do Fun at Dufan

Dufan ternyata masih menarik lho.

Pernyataan yang awalnya juga saya ragukan kebenarannya. Tapi mungkin juga harus dicatat bahwa terakhir kali saya ke Dufan itu 10 tahun yang lalu jadi mungkin perbedaannya memang signifikan.

foto diambil di depan komidi putar

Dufan dahulu yang saya ingat itu agak kotor, kurang terawat dan juga vendor makanan ga jelas dengan harga yang mahal. Sekarang di dalam area Dufan banyak franchise makanan dan minuman favorit dan harganya juga ngga beda dengan harga di luaran. Fasilitas di Dufan juga bagus, ada water fountain refill station, area duduk untuk istirahat, tempat sampah yang bertebaran di mana-mana, mushala dan masjid yang besar. Mungkin yang agak kurang adalah papan penunjuk arah yang masih minim.

Ini emang momen random banget kok tiba-tiba saya bisa nyasar sampe ke Dufan. Gara-garanya adalah suami saya ada acara outing kantor di hari Sabtu dan Minggu ini. Berhubung males sendirian, jadi saya ngajak temen kantor buat main bareng. Eh trus dia ngajak ke Dufan, plus berinisiatif buat narik temen-temen lainnya juga. Jadi akhirnya dia berhasil menarik empat korban lain buat berkelana.

keliatan seumuran ga?

Jangan jiper dulu kalo ngeliat harga tiket Dufan yang mencapai 295ribu di akhir pekan. Cek aplikasi perjalanan semacam Traveloka buat dapat harga spesial. Terbukti saya hanya cukup membayar 170ribu sahaja, mayan khan?

Dari sisi wahana, beberapa di antaranya memang atraksi lama seperti Roller Coaster, Kora-kora, Bianglala, Gajah Bledug dan Rumah Boneka. Tapi ada juga yang baru seperti Ice Age Arctic Adventure. Eh jangan-jangan Ice Age ini wahana lama ya, saya aja yang ga tau.

Secara keseluruhan, Dufan ternyata masih layak buat jadi opsi menghabiskan waktu bareng teman. Asal.. Siap-siap aja pegal dan kecapekan setelah seharian main. Apalagi dengan punggung dan tulang tua seperti saya ini 😀