January 2, 2020

New Zealand – Hari Pertama

Akhir November 2019 lalu Yoga ngajak saya jalan-jalan buat ngabisin block leave. Kalo di tempat dia istilahnya apa ya, mandatory leave deh kalo ga salah. Di kantor saya dulu sih nyebutnya block leave. Block leave, mandatory leave, intinya sama aja: cuti yang wajib diambil oleh karyawan. Tidak boleh tidak. Berhubung yang namanya mandatory leave ini lumayan, harus tiga hari berturut-turut, jadi kita mainnya agak jauhan dikit: South Island New Zealand.

Heran deh, yang namanya perjalanan kok ga pernah lepas dari drama. Kali ini dimulai dengan:

SIM Internasional ketinggalan.

Hadeeeeeuhhh.. Ini nyadarnya juga pas udah duduk manis di kafe bandara. Untung aja belum boarding, jadi saya dan Yoga gerilya di internet buat nyari jasa terjemahan yang bisa kasi dokumen dalam hitungan jam. Ga seru aja kalo pas udah sampe NZ trus kita ga bisa sewa mobil khan. Untung aja Yoga berhasil menemukan link yang bisa kirim dalam waktu 20 menit saja: https://internationaldriversassociation.com/

Sebagai backup, saya juga nyari penerjemah yang ada di Indonesia. Sekali saya coba hubungi yang dari Aussie, rate-nya 150 AUD. Gila, mahal banget. Akhirnya nemu juga dari Bandung dengan harga terjangkau: 200 ribu rupiah.

Beres urusan terjemahan SIM, kita langsung menuju ruang tunggu dan ga lama kemudian boarding. Maskapai yang saya pilih waktu itu adalah Qantas Airways. Nyaman, makanannya enak, hangat dan kami dapat tempat duduk di sisi yang dua seat jadi tidak berbagi dengan penumpang lain.

Kami berangkat dari Jakarta pukul 8 malam dan mendarat di Sydney jam 6 pagi waktu setempat. Transit dulu ceritanya, 2 jam kira-kira. Di Sydney saya muter-muter bandara bwt jajan makanan kecil dan minuman khas Aussie, sekalian nostalgia. Sekitar jam 9 waktu Sydney, kami lanjut terbang lagi dengan maskapai Emirates. Menurut saya sih lebih enak naik Emirates ketimbang Qantas karena tempat duduknya lebih lega dan lebih bersih. Pramugara-nya juga lebih ramah.

Jam 14.30 waktu Christchurch akhirnya kami menginjakkan kaki di New Zealand. Yeay!

Masih deg-deg an nih saya, takut dokumen SIM yang diajukan suami tidak diterima. Mbak penjaga counter-nya juga kayak agak ragu gitu, dia minta ijin buat konfirmasi ke supervisornya dulu sebelum memproses pengajuan rental mobil kami. UNTUNG AJA trus dia balik lagi dan senyum-senyum bilang kalo “it should be no problem.” HORE!

Untung saja hari itu sudah menginjak musim panas jadi matahari tenggelam lebih lama dari biasanya yaitu pukul 10 malam. Kalo engga, wah masa baru mau keluar jam 3 sore, 3 jam kemudian udah gelap. Ga seru. Hari itu kami cuma jalan bermobil ke penginapan yang ada di kota Twizel, sekitar 4 jam dari Christchurch sambil sesekali berhenti di pinggir jalan kalau nemu spot yang menarik dan pas cuacanya lagi bagus (pas di tengah jalan, langit tiba-tiba mendung banget lalu turun hujan yang lumayan deres).

Untungnya sih, sampai di pinggir Lake Pukaki, hujan mereda. Akhirnya mobil pun kami parkirkan sambil turun meluruskan kaki di pinggir danau dan menikmati pemandangan Mt. Cook dari kejauhan. Menjelang sunset, baru deh jalan lagi menuju hotel yang masih sekitar 30 menit-an lagi dari danau tempat kami rehat.

Ada satu hal lucu mengenai cuaca di sini. Jadi sebelum berangkat, saya dengan sok tau bilang ke Yoga

“Udah ga usah bawa jaket, wong di sana musim panas kok. Baru-baru ini ada kebakaran hutan di Perth saking panasnya.”

Yoga ga percaya, dia ngecek weather forecast dulu. Untung aja dia pake ngecek forecast karena suhunya di sana bisa mencapai 11 derajat Celcius, sodara-sodara. Ini kalo sampe ga bawa jaket musim dingin, bakal ngga seru liburannya gara-gara masuk angin.

Pokoknya malam itu kami safe and sound nyampe di hotel, bebersih bentar, beres-beres, ini itu, pasang heater (ngga pernah saya nyangka bakal pasang heater di musim panas.. NZ memang aneh) trus bobok manis deh. Istirahat buat: besok!

January 1, 2020

Mengundurkan Diri (Lagi)

Sebelum ngomongin 2020, saya pengen cerita dulu tentang 2019. Tepat 31 Desember 2019 lalu saya mengundurkan diri dari tempat kerja. Bukan karena ga betah atau ada masalah. Malah sebaliknya, saya sangat enjoy di sana. Kantor yang bukan cuma tempat kerja, tapi juga keluarga. Ini beneran, bukan cuma gombal.

with my boss and fellow Project Manager

Kalau dihitung-hitung, sudah satu tahun empat bulan saya bekerja di sini. Yang awalnya saya ga ngerti soal cloud server dan github trus sekarang saya jadi paham AWS, Google Cloud dan Alibaba. Bisa nyambung kalo anak-anak ngomongin soal merge, pull, deploy dan sebagainya.

Kalo sebelumnya saya pahamnya cuma bisnis perbankan, sekarang jadi tahu soal lifestyle, healthcare, inventory system dan lain-lain.

Engga, saya ngga jago sama sekali apalagi tahu sampai level coding-nya. Paling engga sih kalo diajak ngobrol soal ini bisa nyambung.

kalau yang ini bareng technical team dan CTO

Selama satu tahun empat bulan ini juga saya kerja pakai hati. Bisa bilang begini karena hubungan dengan teman-teman kantor bukan sebagai manager dan subordinates. Tapi lebih ke arah kakak-adik. Beberapa hari setelah saya ambil keputusan resign, diam-diam saya pandangi anak-anak di kantor. Sedih, karena tahu sebentar lagi interaksi dengan mereka akan berakhir.

my beloved team

Dan setelah pada akhirnya mereka tahu, semua bilang kalau kaget dan tidak menyangka. Walaupun pada akhirnya bisa memahami, awalnya tetep pada protes sih.

Rebel Ladies
another annoying team
meja kerja saya, yang malam itu sudah dibajak anggota tim lain

Apapun, RebelWorks akan selalu menjadi salah satu kenangan termanis saya.

I bid you adieu, guys….

Wisma Metropolitan, Januari 2020

October 19, 2019

Lari dan Nari

Memang terdengar klise, tapi beberapa minggu belakangan ini saya merasa lebih happy dan bersemangat karena aktivitas fisik. Lupa deh dulu awalnya gimana, tiba-tiba saya pengen aja lari ke Gelora Bung Karno (GBK) buat sekedar jalan-jalan. Ngga mau sendirian, saya nyeret Yoga yang pasrah aja digeret ke mana-mana. Diwarnai dengan skeptisnya dia

“Emang mau ngapain di sana?”

“Bukannya rame? Emang enak di GBK?”

“Kamu emang bisa bangun pagi”

Dan seribu pertanyaan yang khas dia banget. 10 tahun bareng dan 8 tahun nikah ternyata lumayan membiasakan diri saya atas pertanyaan dan tanggapannya yang realistis, kalo ngga mau dibilang skeptis.

Cuek, saya tetep maksa Yoga buat berangkat ke GBK. Hasilnya? Malah dia yang peningkatannya terlihat pesat. Kita berdua sama-sama install aplikasi Nike Run Club (NRC) untuk mengukur progress lari, dan Yoga keliatan jelas banget peningkatannya. Ntar kapan-kapan deh saya share tentang NRC itu.

Selain lari, saya juga kembali ke hobi semasa kuliah di Melbourne: nari! Ada beberapa akun sanggar tari yang saya ikuti, salah satunya adalah Gandrung Dance Studio. Gandrung beberapa kali membuka kelas dewasa, kayaknya tiga bulan sekali deh. Bulan-bulan kemarin saya masih terus aja mencari excuse atas kemalasan saya, inilah itulah.. Yang akhirnya membuat ngga daftar kelas. Tapi bulan Oktober ini beda. Saya langsung kirim pesan pribadi ke sanggar tersebut dan direspons dengan baik. Katanya langsung datang saja, bawa jarik, selendang plus stagen. Cukup dengan uang pendaftaran 100 ribu rupiah plus bulanan 250 ribu rupiah, semua orang bisa mengikuti kelas tari tersebut.

Kelas tarinya sekarang sudah masuk minggu kedua, dan saya merasa sangat happy! Di hari pertama kelas rasanya agak kesal dengan diri sendiri karena ga hapal-hapal sama gerakannya. Tapi memasuki pertemuan kedua, saya merasa lebih bisa mengikuti, sudah sedikit hapal, dan rasanya saya terhanyut dalam gerakan dan musiknya. Dancing makes me feel good. It clearly improves my mood, enhances my quality of life.

Tarian yang sedang saya pelajari saat ini adalah Tari Surilang, asal Jawa Barat. Menarik, karena sebelumnya saya hanya pernah belajar tari Betawi (Lenggang Nyai), Aceh (Ratoh Jaroe) dan Minang (Piring dan Rantak). Ke depannya, masing-masing batch akan diajari tarian yang berbeda-beda. Walaupun gerakan saya masih jauh dari luwes ataupun indah, yang penting saya menikmati :D.

Ayo, siapa lagi yang merasa kalau dengan aktivitas fisik jadi lebih bahagia?

July 28, 2019

Saying Goodbye to Traveloka

I was a happy customer. Was.

Until today, 28 July 2019 exactly at 9.06 am.

Sebagai pengguna setia Traveloka saya dengan senang hati melakukan berbagai pembelian mulai dari tiket pesawat, hotel, kereta api dan bahkan menulis review untuk restoran lengkap dengan upload foto. Setiap kali jalan-jalan, entah dalam atau luar negeri, saya selalu membuka website Traveloka terlebih dahulu sebelum mencari informasi di tempat lain. Kalau tujuan yang saya cari tidak ada di sana barulah saya buka Expedia, Booking atau Hotels.

Secara harga saya lihat sih Traveloka ga terlalu beda jauh dari website sejenis. Satu-satunya faktor yang membuat saya tetap menggunakan Traveloka adalah karena data saya sudah ada di sana jadi saya ngga perlu isi ulang lagi. Iya, lebih di faktor kenyamanan. Makanya begitu faktor kenyamanan ini diusik, saya ga perlu pikir panjang lagi buat minggat.

Dua minggu lalu saya lagi-lagi menggunakan jasa Traveloka buat paket wisata hotel dan pesawat ke Bangkok, Thailand. Seperti biasa, setelah selesai jalan-jalan biasanya Traveloka akan mengirimkan e-mail, meminta saya untuk menuliskan ulasan atas pesanan saya. Karena saya tidak merasa ada urgensi menulis ulasan, jadi saya diamkan saja e-mail tersebut. Toh pengguna Traveloka juga ga banyak, tidak sebanyak Google atau Trip Advisor, misalnya. Saya sih mikirnya pasti orang yang akan menginap di hotel yang sama dengan saya pasti udah mencari ulasan lain di internet. Intinya: nulis ulasan itu cuma bikin saya capek, ga ada keuntungan buat saya.

Beberapa hari kemudian Traveloka kembali mengirimkan e-mail yang isinya kembali meminta ulasan atas hotel yang saya tinggali. Saya diamkan saja dengan alasan yang sama. I mean, writing a review is not simple for me. It has to be sincere and I HAVE TO BE CONNECTED WITH WHAT I WRITE.

I don’t know about you, guys.. But writing something require my emotion, my memory, my fondness and my willingness. You can’t simply require me to write one on the spot.

Pagi ini, dengan lancangnya Traveloka kembali mengirim e-mail KETIGA KALINYA.

SAYA MUNTAB

Keluhan pertama kali

Dibalas dengan kata-kata bahwa e-mail yang dikirim merupakan automated e-mail. Saya sih merasa kalau saya ngga segoblok itu juga buat menyangka semua e-mail dikirim secara manual. Saya justru sangat ingin tahu divisi mana yang secara lugu-nya punya ide

“Wah ini kalo customer ngga ngisi ulasan mending kita kirimin e-mail aja buat maksa mereka nulis.”

Saya pengen liat langsung muka si bodoh yang punya ide tersebut.

Lebih muntab lagi sewaktu keluhan saya tiba-tiba di-mark as solved oleh mereka.

That’s fine, Traveloka. I was happy to know you, was satisfied as your customer. But really sorry, you now lost me. Good bye.