March 2, 2020

Tentang Buku – Swipe to Unlock

Kantor baru saya punya perpustakaan yang isinya beragam, mulai dari buku manajerial, motivasi, majalah sampai dengan jurnal. Lokasinya yang agak jauh dari lantai meja kerja membuat saya agak malas menyambanginya. Jadi saya hanya pernah satu kali pinjam ke sana dan belum saya kembalikan sampai sekarang, hahaha.. Sudah lewat tenggat 2 atau 3 hari, gitu. Untungnya sih ga ada sistem denda, mungkin juga karena peminat yang minjam kurang banyak juga jadi ga terlalu diperketat peraturannya.

Nah, selain buku perpus, kebetulan line manager saya pernah mengusulkan untuk patungan buat beli buku yang nantinya akan dibaca gantian. Budget beli buku per bulan sekitar 500 ribu, di mana akan dibagi sebanyak 8 orang. Ga terlalu gede lah, jadi masing-masing chip in 62.500 rupiah. Kebetulan ide ini kita ceritakan ke bos saya yang berasal dari Hongkong. Eh tnyata dia support banget soal ide kita, malah dia bilang

“I’m thinking that why don’t you guys give a list to me, I can get one for you in Hongkong. It’s way cheaper”

Iyeee, secara ya dia tiap weekend bolak-balik Hongkong – Jakarta jadi gampang banget buat dia nyariin buku. Eaa, si Bapak malah jadi buka jastip gitu kayak sista sista instagram, hahaha..

Benernya nih, kita satu bagian di kantor itu udah kasi usulan daftar buku buat dipilih suara terbanyak yang akan jadi buku pertama kita. Berhubung saya orangnya ga sabaran, saya akhirnya memutuskan beli sendiri donk. Buku yang saya beli adalah salah satu buku yang saya usulkan ke group: Swipe to Unlock. Saya penasaran gara-gara baca review-nya di Amazon:

I am a PM at Quora and discovered Swipe to Unlock through our company book club. One of our leads nominated it as our read of the month. Our books are usually more of stories (e.g. Bad Blood) rather than case studies, so I was a bit reluctant reading “a primer” given that I have been working in tech for almost 8 years now. I have to hand it to the authors though, they did a phenomenal job incorporating vivid storytelling into the book!

Each chapter of the book is full of key insights regarding business trends and tech developments. I think this book is a must read for everyone working in tech, but especially product management professionals. There’s few good resources to help PMs think big and critically analyze opportunity. I think Swipe to Unlock and Zero to One are probably the best books on the market for that.

I was familiar with at least half the material in this book, but I previously lacked the ability to explain the concepts in ways that non-technical members of my team could understand and thus comprehend the significance of the technical product decisions we were making. So this book definitely helped with that. But, the real value I got from this book was in the later chapters which focused more on business strategy and emerging market trends.

Having a Western-centric user base at Quora, I haven’t yet had much exposure to the tech trends in high growth tech markets such as South East Asia. This book does a phenomenal job breaking down key growth strategies other companies have used to successfully win market share in emerging markets. It also reveals that rationale behind major acquisitions such as Microsoft acquiring LinkedIn and provides actionable analysis on what things to look for to make an acquisition successful.

If you are a product manager, I would highly recommend reading this book. It will broaden your perspective from thinking how to incrementally improve your product to how to spot the next major opportunity. I just ordered copies for both of my reports to read!

Tuhh… Ada kata-kata ‘if you’re a product manager’.. which is that’s part of what I’m responsible for right now.

Sekarang sih status buku itu masih in progress dibaca, kapan-kapan kalau sudah selesai bakalan saya tulis review-nya di sini.

February 16, 2020

Ganjil Genap – the Review

PS: di tulisan ini ga ada ringkasan ceritanya karena kalo cuma summary doank mah di mana-mana juga banyak yang nulis.

Aduh pengen banget deh bisa kayak Almira. Kerja kantoran, sempet nulis dan cara nulisnya bagus dan mengalir. Dialog yang disampaikan serba realistis, konflik-nya alami dan walaupun sempat menyebut merek, buku ini ga lebay. Ga kayak pengarang yang satu itu tuh.

Diputusin pacar padahal usia udah hampir tiga puluh, ditinggal adik yang duluan kawin, dibawain dukun sama bapaknya (sumpah ini random banget), teman dekat cuma empat biji.. Gala ini pahit manis kehidupannya lengkap banget ya.

Bolak-balik saya sebagai pembaca jadi ketipu. Kirain Gala sudah ketemu sang pengganti, eh ternyata yang satu udah punya istri, satunya keluarga elite, yang satunya lagi tampaknya gay, trus ada yang hobi ngomongin mantan, dan ada juga yang kayaknya baik ke semua orang. Pusiiiiing… Apalagi namanya orang Indonesia ya, mau gimana juga pasti ada tekanan dari sekeliling soal kapan nikah.

Di novel ini juga diceritakan kalau Gala selalu didukung oleh sahabat-sahabat dekatnya. Persahabatannya ini ancur banget dah, suka saling tuduh, nyalah-nyalahin tapi juga selalu backup. Lagi-lagi, cara berceritanya itu enak dibaca karena diselingi humor di sana-sini. Jadi, recommended ga? Jelas donk

February 4, 2020

Nikmat Sehat

Akhir pekan lalu saya sudah punya rencana ke luar kota. Tulungagung, lebih tepatnya. Iya, acara kali ini sama seperti minggu sebelumnya: menghadiri undangan pernikahan. Tiket kereta sudah dibeli, hotel sudah dipesan, pokoknya sudah tinggal nunggu waktu berangkat di Sabtu malam.

Tiba-tiba Kamis malam Yoga batuk-batuk. Mendengar tipe batuknya sih udah kerasa ya kalau pasti bakalan sakit nih. Eh bener, Jum’at sore dia bilang demam dan mau langsung pulang cepet. Biasanya dia memang nunggu saya nyamper ke kantornya, ya sekitar jam 7-an gitu deh, trus baru kita pulang bareng. Kali ini karena dia udah bilang sakit jadi akhirnya dia pulang duluan.

Malam itu pas pulang kantor saya mendapati kondisi apartemen gelap gulita. Saking ga enak badan, dia pas pulang udah ga kuat ngapa-ngapain lagi jadi langsung tidur, bahkan tanpa menyalakan lampu. Pas saya pegang badannya, ternyata demam tinggi! Saya ajak ke dokter malam itu juga, dia ga mau. Maunya besok pagi saja. Ya sudah, akhirnya hanya dikompres dan minum paracetamol saja.

Sabtu pagi saya ajak dia ke dokter di Kalibata City. Kebetulan kita berdua cocok sama dokter di Kalcit itu. Kalau berobat di sana biasanya langsung sehat. Eeeh kali itu lagi ga beruntung, karena si dokter baru praktek jam 1 siang. Sambil menunggu, saya akhirnya nganter Yoga pulang dulu ke apartemen lalu cabut lagi buat ke.. Gambir!

Ngapain ke Gambir? Mau ngebatalin tiket pulang pergi yang udah dibeli. Saya baru tahu lho kalo kita bisa minta refund tiket, lumayan pula.. Uang kembali 75%-nya. Memang sih, dikembalikannya baru 45 hari kemudian. Bukan empat sampai lima hari kemudian, tapi bener-bener empat puluh lima hari! Gapapa, kita ikuti saja prosedurnya.

Selesai ngurus refund, saya jemput lagi Yoga dari apartemen buat dibawa ke dokter. Periksa punya periksa, si dokter bilang

“Bapak kena gejala tipes ya, Bu”

Saya sampai bengong. Hah! Kok bisa! Perasaan selama ini gaya hidup kita lumayan sehat. Kita berdua sama-sama bekal oatmeal buat makan siang, trus seminggu dua kali rajin olahraga. Iya, saya dan Yoga selalu menyambangi Gelora Bung Karno di Sabtu malam dan Minggu malam. Total-total, saya biasanya minimal lari 10 kilometer dalam seminggu, sementara Yoga lari 20 kilometer. Sudah begitu ternyata masih bisa sakit? Memang ya yang namanya malang tidak dapat ditolak.

Pulang dari dokter, Yoga masih demam tinggi. Seharian akhirnya dia ngeringkuk di kamar, saya sampai kasihan ngeliatnya. Kasihan plus kesepian. Biasanya ada temen ngobrol, becanda dan saling gangguin satu sama lain, eh kali ini dia lemes ngga bisa ngapa-ngapain. Untungnya walaupun bener-bener ngga nafsu makan, dia masih mau makan sesendok dua sendok, literally. Saya sih bilangnya “makan dikit ya, buat minum obat.”

Dua hari meringkuk di kasur sambil pakai sweater dan celana training, akhirnya di hari Minggu sore Yoga sudah kembali normal. Belum sepenuhnya pulih, tapi demamnya sudah hilang. Saya lega bukan main, soalnya kasihan dan ga tega lihat dia sakit dan diam saja. Minggu ini sih dia ngantor seperti biasa, walaupun sambil minum obat dan pulang cepat. Tetap saja sih, Alhamdulillah..

February 2, 2020

Cotton Ink to the Rescue

Sebelas tahun lalu, sewaktu masih aktif buka forum Femaledaily setiap hari setiap waktu, saya termasuk rajin baca thread terkini. Dulu itu salah satu yang heboh adalah Cotton Ink, sebuah brand baru lokal yang menyediakan bermacam shawl. Harga per item-nya berkisar 50 ribuan, maksimal 100 ribu. Saya sempat punya beberapa shawl-nya dengan berbagai warna. Beberapa saya lego di forum tersebut, ada yang saya buang begitu saja dan ada juga yang masih disimpan sampai sekarang!

Waktu berlalu, saya nikah, pergi sebentar trus balik lagi trus pergi lagi eh lalu sekarang udah for good tinggal di Indo, saya ngga terlalu ngeh dengan merek-merek baju. Setelah nikah dan tinggal di Amrik dulu termasuk jarang beli baju karena saya lebih suka pakai baju Yoga. Trus pas di Melbourne juga saya lebih sering beli Cotton On atau Uniqlo. Plus, saya ga suka buka instagram jadi ngga paham apa yang lagi beredar.

Tahun 2018 pas ketrima kerja di kantor yang lama, saya ngga terlalu kelabakan soal baju. Ya gimana ya, wong di kantor itu pake piyama aja juga ga ada yang peduli. Nah pas waktu itu saya lagi suka-sukanya pakai Uniqlo, atasan yang tipe waffle. Saking sukanya saya sampe punya 8 item buat dipake setiap hari dengan warna hitam, navy blue, ijo, kuning, cokelat muda, cokelat tua, merah dan kuning.

Tapi pas dilihat-lihat, kok kalo pakai baju ini saya nampak sangat berisi alias gendhat. Padahal kalau dilihat pakai baju rumah yang model kaos, saya sebenernya ga semontok itu. Berhubung saya males buat beli-beli lagi ya udah cuek aja saya pake baju itu tiap hari. Gendhat gendhat dah, I don’t care.

Nah trus cerita berubah pas saya lagi proses rekrutmen di kantor sekarang. Namanya juga kantor yang bersifat corporate, saya menduga pasti dress code sehari-hari bakalan resmi. Waffle top bakal dilungsurkan begitu saja. Mulai deh saya berburu baju yang agak acceptable buat kerja. Iseng-iseng ngecek di google: Cotton Ink. Lhah.. Merek ini ternyata masih ada! Trus produksinya udah beragam, ga hanya shawl aja. Sekarang kayaknya lini shawl mereka sangat minim.

Kebetulan pas saya ngecek akun instagramnya, mereka lagi ada bazaar di Plaza Senayan. Langsung deh saya geret Yoga ke Plaza Senayan saat itu juga dan memborong empat helai atasan baru! Namanya juga bazaar, harganya lebih murah ketimbang harga di web ataupun di toko resminya.

Sejak saat itu saya jadi ketagihan (lagi) sama Cotton Ink. Apalagi pas tahu ternyata mereka ada toko online di Tokopedia yang menyediakan item yang udah lewat masanya (last season) dengan harga diskon sampai 60%. Makin rajin deh mantengin Tokopedia, begitu lihat ada item yang saya suka, langsung masuk keranjang.

Ada satu hal yang saya sesali setelah masuk kantor ini, yaitu: dress code-nya ternyata casual! Padahal saya kira harus resmi atau bahkan pakai blazer sampai saya bela-belain beli baju baru nih. Tapi gapapa lah, wong ternyata baju-baju Cotton Ink ini oke banget dipadu padan dengan jeans.

Gara-gara Cotton Ink ini saya juga jadi mengamati padu padan warna di halaman blog-blog fashion luar negeri. Karena saya ngga pengen pakai baju dan kerudung yang senada, kesannya jadi ‘mati’ dan apa adanya. Jadilah segala warna saya tabrak. Mustard ditemukan dengan biru navy, pink salem saya paksa cocok dengan abu-abu, ungu dipadu dengan dusty pink, beige harus oke dengan cokelat gelap.

So far, baju di bawah ini merupakan baju favorit saya karena kesannya lebih ceria dan muda. Oh iya, semua baju yang dipakai di foto bathroom mirror selfie ini adalah Cotton Ink., bahkan sampai jaketnya juga. Ya ampun, ternyata bener-bener saya se-tergila-gila itu sama merek satu ini!

Kalo kalian gimana? Familiar dengan brand Cotton Ink ga? Atau mungkin juga punya merek andalan yang selalu jadi penyelamat?