Archive for ‘ura ura’

February 15, 2019

Happiness Formula

“How much do you rate your happiness level from 1-10 scale?” her eyes meet mine. 

“Uhm.. 8,5 or 9, maybe” Me. Answering the question steadily.

Demikian cuplikan diskusi dengan Ms. F, seorang konsultan yang rutin datang ke kantor untuk menerima curhatan-curhatan kami semua. Kisah tentang beliau udah pernah saya singgung sedikit di blog post yang ini nih.

Kali ini dengan sabar beliau menanyakan semua aspek dalam hidup saya mulai dari project yang saya pegang, hubungan kerja dengan tim, klien, atasan dan lain-lain. Trus beranjak ke pembicaraan mengenai suami, saudara kandung dan ipar. All is good, I said.

Kebetulan beberapa hari sebelumnya saya sempet bilang ke suami saya

“Aku tadi mikir, hidupku ini cukup banget. Rumah ada. Makan bisa aja milih-milih mau makan apa. Kerjaan.. ada. Suami yang sayang dan aku sayang juga ada. Pas. Ga berlebih.”

Hal yang sama juga saya sampaikan ke Ms. F

“Saya merasa beruntung karena.. Suami ada. If I have a bad day, saya tinggal pulang lalu pas tidur minta dipeluk suami. Langsung perasaan yang ga tenang atau banyak pikiran jadi hilang. Trus juga kalau mau makan, mau milih makan apa juga terserah saya. Kopi, apa lagi. My happiness is coffee, book and traveling.”

Ms. F langsung mencatat di laptopnya sambil bergumam.

“Hmm.. interesting. No wonder your happiness level is high coz you’ve found your happiness formula. Maybe it’s time for me to seek one.”

Yep. My happiness formula is so simple and easy: coffee, book, traveling.. and of course: HUSBAND.

February 3, 2019

Autonomous Weapon – will it be our future?

Disclaimer: I haven’t read this book, despite the fact that I want to. I stumbled upon this title on (as usual) Bill Gates’ blog. He picked up this book: Army of None: Autonomous Weapons and the Future of War by Paul Scharre as one of his favourites. Reading the synopsis then brings me back to a year ago, one of the most difficult time during my school year in University of Melbourne.

In my third semester, I took one subject titled Impact of Digitisation which learn anything about effect of technology on daily life, be it on social life, marriage, work, health care even on crime! When the lecture assigned us to write an essay on whatever topic we like, I purposefully choose the impact of Artificial Intelligence on war. Decision that I regret.

Why? Simply because I was too attached to the issue.

Below is the excerpt from my essay:

The development of Autonomous Weapon Systems (AWS), although the technology does not exist yet, has raised the ethical and moral issues. These potential future weapons have garnered attention and invited debate amongst the high-profile leaders. Autonomous means that once activated, the system will perform a task on its own. This triggers the research questions whether and to what extent dehumanisation takes place in the process and what actions should be taken to prevent this from happening. Based on the analysis, the negative impacts outweigh the positive values. Therefore, support from society and strong policies are required.

The key is: dehumanisation. During the writing process, I can’t stop thinking on how the advancement of autonomous weapon systems has shifted the weapon machine operation from automatic technology to autonomous.

The journals, the book chapter, the videos all presented on how cruel human can be. Can you imagine on the real war, when we employ the autonomous weapon, it will perform no judgement on situation. The further the distance, the lesser psychological impact on the life-taker due the detachment of the actor from the consequences. 

Interestingly, the more I dislike the subject, the more it intrigues my curiosity on it. Thus, I put this title as the next-book-to-read.


January 20, 2019

How’s Life?

What’s new and exciting? Well.. a lot, I must say.

Tahun 2019 ini dibuka dengan beberapa kebiasaan baru.

  1. Kencan reguler. Pernah denger taktik gimana caranya supaya tetep semangat di hari kerja? Dalam kasus ini ternyata solusinya mudah saja: bikin jadwal kentjan mingguan di penghujung minggu. Jadilah setiap Jum’at malam saya dijemput suami buat makan malam, nonton dan pulang bareng. Buat yang sehari-hari biasa pulang pergi kantor sendiri, dijemput itu ternyata sangat menyenangkan. Apalagi disambung dengan nyobain tempat makan baru dan nonton bioskop.. Serasa kayak pacaran lagi, hihihi.
  2. Baca buku elektronik di kereta. Gara-gara di pagi hari biasanya saya menghabiskan waktu 1 jam lebih gelantungan di kereta, mau ga mau jadi mikir bahwa waktu harus dihabiskan secara produktif. Yasud, kebiasaan beli buku di kindle pun dimulai kembali. Buku pertama yang dibeli: Becoming by Michelle Obama.
  3. Spend the weekend wisely. Aktivitas sehari-hari di kantor kadang bikin ga sempet chatting sama suami sama sekali. Makanya trus saya tebus dengan kencan mingguan :D. Namun ternyata itupun masih kurang, jadi kami tambah dengan menikmati akhir pekan berdua saja di rumah. Hasilnya, langganan Netflix saya termanfaatkan dengan maksimal. Kalo pas suami nonton sendiri, pilihannya antara lain seputaran anime dan dokumentari sejarah. Sebaliknya, saya lebih suka tontonan semacam Black Mirror, YOU, 13 Reasons Why, Stranger Things dan tontonan lain yang populer. Tapi ya, walopun selera kami sangat berbeda ternyata tetep ada series yang bisa kami tonton bareng seperti: 7 Days Out, Stay Here, Sex Education, American Vandal, Tidying Up with Marie Kondo.

Sebenernya ada satu lagi kebiasaan yang sudah direncanakan tapi terancam batal: sebulan sekali pergi liburan keluar kota. Hasil yang lalu-lalu, kami udah ke Lombok, Kepulauan Seribu dan Cirebon. Yang ini sudah batal sekali di bulan Desember gara-gara long weekend dan harga tiket dan hotel ke mana-mana mahal sekali, not worth the effort and the price. Trus di bulan Januari ini juga besar kemungkinan ga ke mana-mana gara-gara musim hujan. Atau mungkin ada saran lokasi liburan yang ga jauh dari Jakarta? Boleh lho ditulis di kolom komentar 😀

September 9, 2018

Musiman

Saya ini orangnya musiman. Kalo lagi getol atau suka sama sesuatu, pasti saya cari terus tiap hari selama beberapa lama. Trus bisa aja mendadak berhenti begitu aja tanpa sebab apapun. Ini berlaku di beberapa hal, mulai dari makanan, minuman, bacaan, sampai perpustakaan. Suami saya sampe udah paham banget sama kebiasaan aneh ini.

Trus jadi saya iseng deh inget-inget selama kuliah, apa aja yang saya datangi dan lakukan terus-terusan.

Semester 1
Soal musik, saya lagi hobi banget dengerin The Script. Hampir semua lagunya rutin diputer di Spotify saya, tapi khusus satu lagu ini yang nemenin saya kerja dan belajar di perpustakaan.

Ngomongin soal perpustakaan, semester ini masa-masanya saya ngerjain tugas di Eastern Resource Center alias ERC yang juga perpustakaannya fakultas saya: School of Engineering. Ga tau kenapa, di perpus yang satu ini tuh ga pernah sepi, dalam arti sebenarnya. Suasananya tuh nggak bisa dibilang kondusif buat belajar soalnya selalu aja ada yang diskusi di sini jadi berisiiiik. Tapi keberisikannya ini bikin saya betah banget ngerjain tugas di sini.

Semester 2
Musik yang rutin saya puter di Spotify dan Youtube sekarang ganti lagi, lebih ke selera Nusantara. Di masa ini saya hobi banget dengerin Padi, Sheila on 7, Peterpan, GIGI, pokoknya band 90 – 2000-an awal deh. Di semester ini juga saya lagi rajin-rajinnya masak  buat bekel makan siang di kampus walopun menunya bukan sesuatu yang spektakuler. Tapi bisa dibilang ini pencapaian khusus buat yang males masak kayak saya.

Beda dengan semester pertama, kali ini saya pindah perpustakaan buat ngendon, tepatnya di Giblin Eunson library. Berkhianat, karena ini benernya perpus anak Ekonomi dan Bisnis.

Semester 3
Di semester tiga ini saya cenderung suka musik yang kenceng sangat: Disturbed. Tiap pagi begitu nyampe Baillieu library maka hal yang pertama saya lakukan: login komputer, colok earphone, buka Youtube dan langsung muter video klip yang ini dan diulangi sampe saya kelar nugas.

Ini saya jadi inget komentar Mama dulu yang bilang kalo dilihat dari lagu-lagu koleksi, saya lebih mirip cowok ketimbang cewek. Plus, dulu Mama sempet mengungkapkan kekuatirannya, apakah bakalan ada cowok yang mau deketin saya yang tomboy minta ampun begini. Hahahaha, jangan kuatir, Ma. Ternyata ada kok cowok yang berhasil dijebak buat ngawinin saya.

Semester 4
Semester akhirrrr! Seperti yang udah diceritain di blog post yang ini, saya tiap akhir pekan udah ga punya tempat nongkrong lain selain di sudut perpustakaan ERC buat diskusiin tugas. Makin akhir sepertinya beban kuliah bukannya makin ringan, malah semakin bikin saya pulang dini hari. Makanya saya butuh musik yang menggugah semangat kayak lagu-lagunya The Greatest Showman. Mulai dari The Greatest Show, This is Me sampe Never Enough terus menyemangati saya. Jadi kadang kalo udah ngerasa capek, ngga semangat dan kangen-kangen nggak jelas sama suami, lirik This is Me bisa banget bikin batere diri ke-charge sampe 100% lagi.

Berhubung saya agak males baca buku self-help, motivasi atau ceramah, jadi ya cara buat ngembaliin semangat cuma lewat dengerin lagu, nari atau ngopi. Menurut saya pribadi, lebih baik menghabiskan waktu dengan baca buku non fiksi, baca jurnal atau novel sekalian ketimbang buku-buku jenis self-help.

Begitu selesai kuliah, kebiasaan musiman saya pun berganti lagi. Udah ga ada perpus-perpusan, keseharian saya trus diganti dengan: berenang. Random amat yak. Habis gimana lagi, sebulan kemarin saya kerjaannya cuma buka laptop, buka job seeker platform, tulis lamaran, kirim resume trus kalo ada panggilan interview ya saya datengi. Coba tebak berapa sesi wawancara yang saya ikuti kemarin? Kurang lebih ada 10 sesi test yang semuanya bermacam-macam, ada yang interview HR, interview user, online test dan juga online interview. Mayan yeee.

Ntar kita liat lagi gimana kebiasaan musiman saya setelah ada di kantor baru 😀