Archive for ‘ura ura’

December 29, 2020

Staycation di Hotel Mandarin Oriental

Kayaknya lama-lama ini blog isinya mayoritas cerita tentang staycation aja deh. Habis mau cerita tentang apa, wong sehari-hari kegiatan saya isinya cuma bangun, kerja, istirahat, tidur. Repeat. Bahkan ngga ada cerita tentang perjalanan pergi atau pulang dari kantor, karena sampai sekarang ya saya masih bekerja dari rumah. Ngga ada cerita sharing resep karena saya ngga pernah masak. Ngga ada cerita tentang berkebun karena memang ngga punya lahan untuk punya tanaman. Salah satu hiburan kami selama pandemi ini ya akhirnya staycation di hotel.

Di staycation kali ini, kebetulan sudah staycation yang ke-empat, saya memilih Hotel Mandarin Oriental yang berlokasi di Bundaran HI dengan alasan: ada bonus 1 malam gratis kalau daftar jadi member. Saya memang memilih waktu di liburan Natal, jadi check in di tanggal 24 Desember lalu check out di tanggal 27 Desember.

Pengalaman check in saya agak kurang menyenangkan. Sehari sebelumnya saya mendapat email dari pihak hotel yang menyarankan agar saya check in jam 3 sore. Ok, saya pun datang jam 3.. Kalo ga salah malah jam 3 lebih 15 menit deh. Dan ternyata kamar saya masih belum siap, jadi kami harus menunggu. Berapa lama nunggunya? 45 menit saja, sodara-sodaraa.. Ini ya sebenernya kalau mereka minta supaya saya check in jam 4 aja juga gapapa lho, daripada saya harus nunggu 45 menit di lobby.

Anyway, kekecewaan sewaktu atas proses check in terlupakan segera setelah masuk kamar, karena kamarnya luas dan menyenangkan. Ngga seluas kamar di Fairmont sih, tapi tetap saja besar. Terdiri dari toilet, closet, kamar mandi dan vanity-nya, area kerja, sofa dan tentu saja tempat tidur lengkap dengan nakasnya. Dengan view Bundaran HI, saya rasa kamar kami sangat memuaskan. Buat apa coba kalo nginep di daerah bundaran HI tapi ngga dapat view ke sana? Di beberapa kesempatan, saya dan Yoga bersandar di sofa sambil memandangi keriuhan di bawah sana. Melihat mobil berlalu lalang, pejalan kaki yang lewat atau sesekali menertawakan kelakuan manusia di bawah yang asyik mengambil gambar. Iya, fotografer dan model dadakan dapat dengan mudah ditemui dan dipantau dari kamar hotel.

Berbeda dengan masa di Fairmont, kali ini kami hanya mendapat jatah sarapan. Jadi makan siang dan makan malam otomatis harus cari di luar, karena makanan di restoran hotel kok bikin ngga tega ya. Bukan apa-apa.. soto ayam 135 ribu itu ya gimana juga ya makannya. Salah-salah itu abis makan berasa seret, bukan seneng 😀

Ada bocah nyasar di depan hotel

Bukan Yoga namanya kalau ngga nyentuh laptop selama liburan. Kayaknya tuh adaaa aja yang bikin dia gatel pengen ngebenerin. Yang masalah performa lah, trus ada UI/UX yang kurang memuaskan lah, atau sekedar ngecek-ngecek aja. Tapi memang fasilitas di kamar memadai juga sih dengan adanya meja kerja dan koneksi internet kencang. Jadi di beberapa kesempatan akhirnya Yoga buka laptop dan langsung asyik dengan coding-nya.

Apa hal yang paling dicari kalau staycation? Makanan? Iya sih bener, tapi bukan itu yang saya maksud. Kali ini saya mau cerita tentang.. kolam renang! Ekspektasi saya atas kolam renang hotel berbintang itu agak tinggi. Bayangan saya, panjangnya itu cukup untuk membuat orang dewasa puas berenang menyusuri kolam, dan lebarnya cukup untuk minimal 3 line. Kenyataannya? Di hotel ini bentuk kolam renangnya bukan persegi panjang. Agak susah menggambarkannya, tapi kalau kolam ini diisi tiga orang dewasa akan langsung terasa penuh. Yakin deh, ga akan puas berenang bolak-balik karena ketubruk-tubruk. Selain itu kolam renang di sini cukup dalam, sekitar 1,8 meter. Makanya beberapa orang akan cenderung memilih ke sisi yang ga dalam dan hasilnya… makin sesak lah itu kolam.

Untungnya sih peraturan kolam cukup strict ya. Untuk bisa berenang, kita harus reservasi dulu dan dibatasi hanya boleh maksimal satu jam. Alhasil selama kami di situ rasanya penghuni kolam hanya kami berdua karena kadang ada yang ga datang sama sekali dan ada juga yang datang tapi hanya berenang beberapa puluh menit saja.

Soal makanan, berhubung saya hanya sempat mencicipi selama sarapan jadi rasanya agak kurang fair juga kalau dibandingkan dengan Fairmont. Yang jelas pilihan sarapan di sini DIKIT BANGET. Yang tersedia hanya nasi goreng, mie goreng, mie ayam, dimsum, pastries, buah, dan berbagai olahan telur. Pastry-nya mengecewakan, croissant-nya kurang renyah dan donatnya keras. Latte-nya yang ditawarkan juga tidak istimewa. Mungkin kalau datang ke resto untuk mencicipi makan siang atau makan malam akan lebih menarik kali ya?

Secara keseluruhan, hal yang saya sukai dari hotel ini adalah kebersihan dan keteraturan kamar, lokasi yang sangat strategis dan pemandangan dari jendela kamar. Hal yang kurang saya senangi: variasi pilihan sarapan dan kolam renang.

Saat ini saya sudah merencanakan staycation berikutnya di bulan Februari dan Maret. Mari kita bandingkan hotel ini dengan hotel-hotel berikutnya. See ya!

November 15, 2020

Staycation di Hotel Fairmont

Hayo siapa aja di sini yang sudah mulai merasa butuh hiburan dan liburan di tengah pandemi? Jujur, saya merasa sangat perlu suasana lain setelah berbulan-bulan berada di rumah saja. Satu sisi, saya bersyukur masih punya pekerjaan tetap dan bisa dikerjakan di rumah. Di sisi lain, ada rasa bosan karena praktis hidup sehari-hari hanya berkutat di kamar tidur, ruang depan TV, kamar mandi dan balik lagi ke ruang TV. Karena itulah saya memutuskan untuk (beberapa kali) pergi staycation di hotel-hotel Jakarta. Fairmont ini adalah hotel ketiga yang saya singgahi selama 8 bulan terakhir.

Sebuah pilihan yang tidak saya sesali karena memang layanan dan fasilitasnya luar biasa. Saya mendapatkan harga lumayan miring, lengkap dengan sarapan dan makan malam selama 4 hari 3 malam. Apalagi ternyata kamar saya di-upgrade secara gratis, yang tadinya entah dari apa menjadi Grand Deluxe.

Saya check in jam 13.30-an dan langsung menuju lantai 16, kamar paling pojok. Begitu buka kamar langsung norak-norak bergembira. Gedaaaaa…!!

Apalagi pas ngintip ke kamar mandi dan liat toilettries-nya. Le Labo, bo! Saya endus-endus sampai puas menghirup aroma Rose 31-nya. Enak bangeeet!

Noraknya ga sampe di situ, semua area saya fotoin. Mulai dari pintu masuk, kamar mandi, kitchen area, closet, kamar, sampai dengan pemandangan dari luar. Kamar mandinya aja terdiri dari empat section: dressing area, wastafel, toilet, shower room plus bath tub. Kebayang khan segede gaban gitu kamarnya.

Sementara saya foto-foto, Yoga ngapain? Dia langsung kerjaaaa! Ckckck.. Jadi begitu naruh tas, yang dia minta pertama kali apaan coba?

“Mana laptopku?”

Trus abis itu dia set up area kerjanya sendiri dan duduk ngejogrok sampe waktunya makan malam. Praktis dia menghabiskan waktu 50% kerja dan sisanya makan, jalan sore atau berenang.

Iya, mumpung berlokasi di deket Senayan, kita sengaja sore-sore jalan di seputaran Fairmont sambil tetap menerapkan protokol kesehatan alias pake masker sepanjang waktu. Engap? Banget! Tapi ya mau gimana lagi ya, kondisi memang mengharuskan demikian.

Di tengah-tengah staycation, kami sempat pergi sebentar ke area BSD buat nyobain es krim di Kumulo. Niat banget sampe ke BSD? Iyah, soalnya di sana khan area-nya di luar ruangan jadi relatif lebih aman lah ya ketimbang kalo di dalam ruangan.

Ada satu hal lagi yang menjadi favorit kami: kolam renang dan jacuzzi! Dua-duanya berada di luar ruangan dan sepiiii. Aih jadi makin hepi berlibur di Hotel Fairmont ini.

Saat ini saya sedang mencari ide staycation berikutnya untuk menghabiskan liburan Natal. Syaratnya: hotel yang menerapkan standar kebersihan yang tinggi, sepi dan berlokasi di tengah kota. Ada saran?

October 24, 2020

Home Screen dan Lock Screen

Barusan saja saya ngga sengaja melihat ada tweet yang nge-post gambar Home screen HP miliknya. Kebetulan si mbak ini kerjanya di XBox. Iya, memang di perusahaan game itu. Jadi ngga heran kalau foto beliau ini tampak keren, lagi main game!

Trus saya ngga mau kalah, langsung screen capture home screen dan lock screen di HP saya.

Home screen yang terlihat berupa salju itu diambil sewaktu roadtrip di Oregon, beberapa minggu sebelum pulang ke Indonesia. Dan secara kebetulan juga, lock screen yang saya pasang merupakan foto yang diambil di kampus saya, Unimelb, beberapa minggu sebelum pulang. Padahal ngga sengaja lho, kok bisa pas ya hahahaha.

Ga ada filosofi apa-apa sih di balik keputusan masang foto itu. Cuma ada perasaan hepi dan sedikit nostalgic, inget suasana waktu motret itu lagi ngapain trus habis itu pergi ke mana dan sama siapa. Sama siapa? Ya jelas sama Yoga, mau sama siapa lagi?

Kalau diliat-liat ya, susunan icon di HP saya itu bener-bener ga ada aturan. Ga disusun berdasarkan fungsi, warna, abjad ataupun kategori khusus. Pokoknya suka-suka saya mau naruh di mana. Sebenernya lebih ke jangkauan jari sih. Aplikasi yang sering saya buka sengaja saya taruh di pinggir, entah kiri atau kanan. Tujuannya supaya mudah di-klik saat sedang pegang HP dengan satu tangan. Trus juga empat icon di menu bawah adalah empat aplikasi yang saya gunakan setiap hari: WhatsApp, Telegram, Safari dan Mail. Kenapa ditaruh bawah? Sama dengan alasan kenapa saya taruh pinggir: supaya gampang di-klik!

Gimana dengan kalian? Foto apa yang kalian pajang di HP? Apakah ada alasan khusus di baliknya? Lalu penyusunan icon aplikasi biasanya berdasarkan apa?

July 18, 2020

Grey’s Anatomy

Serial Grey’s Anatomy muncul pertama kali di tahun 2005, beberapa bulan setelah saya mulai kerja. Dulu saya suka banget karena selain ceritanya menarik, kasus-kasus operasi yang muncul di episode seru-seru. Trus soundtrack-nya baguuus, saya sampai ngumpulin judul-judul soundtracknya dan dijadiin satu playlist di iPod. Dulu masih jamannya iPod, hehehe. Selang beberapa season, saya udah ngga ngikutin lagi. Kalo ga salah terakhir saya nonton intens itu cuma sampai season 3 atau 4 gitu deh. Bukan karena ngga tertarik, tapi memang akses untuk nontonnya ngga ada.

Kira-kira dimulai dari tiga bulan lalu, pas mulai working from home gitu deh, saya iseng-iseng buka Netflix dan menemukan serial ini di salah satu playlist. Cukup kaget juga, lha kok udah season ber-belas-belas gitu. Iseng, saya klik dan pelan-pelan menikmati sihirnya. Banyak tokoh baru selain dari beberapa pemeran yang (ceritanya) sudah mati. Meredith Grey, sang tokoh utama, saat ini sudah jauh berubah. Dulu masih kinyis-kinyis, sekarang terlihat sangat matang. Walaupun badannya masih tetep kecil nan langsing. Wow ini Ellen Pompeo jago banget jaga badan. Nggak butuh lama buat saya untuk catch up dengan alurnya, dan bisa ditebak saya langsung ngga bisa berhenti buat nonton!

Sialnya, Netflix yang saya gunakan ini adalah Netflix Australia yang ternyata hanya memiliki stok Grey’s yang terbatas. Kalau ngga salah hanya season 14 dan 15. Itupun berakhir persis di 30 Juni 2020. Jadilah saya kebut nonton dua season itu berminggu-minggu. Pokoknya weekend adalah waktu saya nonton Netflix, soalnya kalo hari kerja biasanya ga sempat gara-gara keasikan kerja sampai malam. Singkat cerita, di 30 Juni saya harus mengucapkan selamat berpisah pada serial kesayangan.

Sudah? Sampai situ saja? Hohoho, tentu tidak. Setelah tahu kalau saya nge-fans banget sama serial ini dan juga ternyata Grey’s ada di Netflix US, Yoga bergerilya cari info untuk bisa mengakses Netflix US. Pakai apa? Jelas pakai VPN.. Oh I so love technology! Satu malam, Yoga daftar VPN, langganan trus klak klik dikit di TV.. Voila! Netflix saya sekarang sudah diputar arah jadi Netflix US.

Sekarang saya masih dalam tahap mengejar ketertinggalan cerita dengan mulai nonton season 4. Kali ini tidak terlalu terburu-buru karena toh di Netflix US bakal masih ada terus, belum ada pengumuman kapan serial ini akan berhenti tayang. Nggak tahu kenapa, sampai sekarang saya masih belum menikmati nonton drama Korea atau yang sering disingkat drakor-drakor itu. Kepincutnya malah sama serial lama yang pemain utamanya bahkan sudah berusia kepala lima, hahaha.. To each their own khan yaa 😀