Archive for ‘uluru’

April 15, 2018

Uluru Trip – Hari Kedua

Hari kedua dimulai jauh sebelum matahari terbit karena kami ikutan Half Day Tour Uluru Sunrise & Kata Tjuta. Kenapa pake tur segala? Soalnya saya ini orangnya sangat susah bangun pagi jadi harus ada yang memaksa buat bisa bangun. Ini aja suami saya bolak balik nanya gara-gara ngga yakin bisa siap sebelum waktunya. Untungnya sih di sini matahari baru terbit mendekati jam 7 pagi dan jarak antara resort dan Uluru ga begitu jauh (sekitar 5 kilo aja), jadi janjian penjemputan di hotelnya pun ga sepagi yang kami sangka yaitu jam 5.15 pagi, tapi tetep aja lumayan kan?

Trus ternyata berhasil bangun ndak? Nih liat aja foto di bawah ini nih.

20180408_053545

muka bantal

Sesuai dengan janji si abang-abang tur, kami dijemput di depan hotel pake bis segede gaban berkapasitas puluhan penumpang. Sebelum boleh naik bis, kita dicek dulu apakah udah punya tiket masuk ke national park atau belum. Soalnya si harga tur ini belum termasuk tiket masuk 25 AUD per orang. Karena belum ke mana-mana sedari landing di situ, ya kudu bayar cash ke abang-abangnya. Nanti dituker dengan tiket masuk Uluru National Park yang berlaku buat 3 hari ke depan.

Gile ini Aussie emang bikin bangkrut, apa-apa serba mahal dibandingin sama Amrik. Kalo di Amrik, tahun 2012-2014 lalu, biasanya tiket masuk National Park itu sekitar 12-25 USD per mobil. Lha ini, 25 AUD PER ORANG.

Begitu duduk di dalam bis, kami disambut ucapan selamat datang oleh supir sekaligus tour guide hari itu. Tengak punya tengok, seisi bis itu mayoritas kayanya mbah-mbah pensiunan kaya. Yang jelas mereka bukan nginep di hostel tempat kami bermalam, kemungkinan besar sih dari hotel atau apartemen sebelah. Ya kali aja nanti nasib kami bisa kayak si mbah-mbah itu kalo udah pensiun. Kaya dan bisa jalan-jalan ke mana-mana, hihihihi.

Tujuan pertama pagi itu: melihat matahari terbit di ‘Talinguru Nyakunytjaku’ yang kalo diterjemahkan artinya kurang lebih ‘to look from the sand dunes’. Enaknya ikut tur adalah, full accommodation, semua keperluan disiapkan oleh penyelenggara tur termasuk di lokasi disediakan minuman hangat dan snack buat cemal-cemil. Asik juga lho ngeteh subuh-subuh sambil lihat sunrise di tengah gurun begitu. Belakangan juga disediakan snack lagi sebelum dan handuk basah untuk menyeka badan yang kotor sesudah hiking di Walpa Gorge. Coba kalo berangkat sendiri, mana kepikiran buat nyiapin yang kecil-kecil seperti itu kan?

20180408_070240

Beberapa belas menit setelah sunrise, kami diangkut lagi menuju Kata Tjuta, sebuah bentukan alam mirip seperti Uluru yang letaknya sekitar 17 kilo di sebelah barat Uluru. Bedanya: Uluru itu merupakah satu bongkahan besar raksasa sementara The Olgas (kata lain dari Kata Tjuta) terbentuk dari beberapa batu-batuan. Kalau dilihat dari ukurannya sebenernya Kata Tjuta lebih besar namun Uluru lebih mencolok karena berupa batuan tunggal.

20180408_082237

Habis dari Kata Tjuta kami dibawa lagi menuju area hiking bernama Walpa Gorge Walk. Walpa Gorge Walk ini salah satu dari 2 area hiking yang ada di Kata Tjuta, yang satu lagi adalah Valley Of The Wind Walk. Di sini kami menghabiskan waktu jalan kaki sekitar 1 jam bolak-balik. Sebelum dilepas jalan-jalan menuju Walpa Gorge, ada sedikit sesi Geology 101 yang menerangkan bagaimana kira-kira terbentuknya struktur alam semasif Uluru dan Kata Tjuta tiba-tiba muncul di tengah-tengah daratan luas Australia dari jaman purbakala. Tur ini pokoknya tur yang sehat gembira lah. Gimana ga sehat, dilepas di area terbuka buat jalan-jalan semaunya.

20180408_093830

20180408_093957

Kelar tur, sekitar jam 11.30 siang, saya klenger..

Akhirnya si putri tidur ini kembali masuk kamar, bebersih badan sebentar dan kemudian tidur siang, hahahaha. Gila suhu di luar waktu itu panas banget, di atas 35 derajat Celcius. Untung aja di dalam kamar yang dipesan, walaupun hostel, walaupun sharing, tetep ada AC-nya. Ga kebayang sih kalo ga ada AC. Walopun gitu tetep aja saya ga bisa tidur nyenyak gara-gara dioyak-oyak suami.

“Ayo bangun! Jalan-jalan! Kamu mau bikin video khan, ayo bangun! Kalau mau tidur mah di Melbourne aja ntar.”

Akhirnya jam 4 sore saya bangun lagi dan nemenin suami muter-muter nyetir sambil foto-foto.

20180408_164617

pak Ogah versi Uluru

Selain bermobil melihat-lihat Uluru, suami ngajak hiking lagi di salah satu area hiking yang ada di Uluru. Hasil hunting nama-nama area hiking dari peta lokal yang dikasih di hotel, didapatlah nama: Kuniya Walk. Kuniya Walk ini adalah area hiking yang berada di ujung sebelah timur Uluru, jauhnya 1 jam pp juga, dimulai dari area Kuniya carpark berakhir di Mutitjulu waterhole yang sayangnya karena saat itu habis summer ga ada air yang mengalir sama sekali, coba kalo datangnya pas winter ya…

Selama hiking, kami disuguhi dengan displaydisplay tentang mitologi kuno Aborigin yang bersumber dari sini. Mungkin supaya sepanjang jalan tidak terasa capek hanya berjalan saja. Cerita rakyatnya berkisah tentang seorang wanita kuno yang harus berperang melindungi anak-anaknya dari serangan ular beracun bernama Liru, hasil peperangan inilah yang menatahkan guratan-guratan yang ada di Uluru bagian selatan.

20180408_170222

Puas jalan-jalan di situ, ternyata waktu sudah mendekati sunset lagi. Sunset di Uluru sekitar jam 6.50 sore. Suami pun memutar otak lagi memikirkan di mana tempat terbaik yang harus kami tuju untuk menikmati pemandangan sunset di Uluru. Ala ala tour guide yang berpengalaman puluhan tahun membawa turis keliling di Uluru, dia pun memutuskan kami sebaiknya pergi ke Talinguru Nyakunytjaku lagi. Sebuah keputusan yang akan selalu kami kenang sampai saat ini. Pemandangan sunset dari sana breath taking sekali.

IMG_0214

Kata Tjuta yang terletak di sebelah barat selalu terlihat di momen-momen tenggelamnya matahari. Tuh keliatan kan? Di foto kemarin pun ada.

Walaupun ga dibangunin sebenernya saya juga ngga bisa molor sampe malam sih, wong udah pesen tiket tur ke Field of Light. Field of Light ini, sesuai namanya, adalah art installation berwujudkan sehamparan ladang cahaya. Bersumber tenaga dari matahari, obyek wisata ini merupakan kreasi Bruce Munro, seniman Inggris.

IMG_0217

di atas ada bintang, di bawah ada cahaya

20180408_204135

IMG_0233

agak-agak tricky kalo mau difoto di sini

Keren deh, sejauh mata memandang isinya pendaran warna-warni yang berubah-ubah mulai dari biru, merah, kuning, jingga. Pictures shown here don’t do justice. Aslinya jauh lebih keren. Trus udah gitu berasa romantis, jalan berdua di bawah cahaya bintang sambil ngobrol ngalor ngidul. Sayang waktu yang disediakan singkat banget, cuma sekitar 1,5 jam. Padahal yang namanya orang pacaran pasti maunya lama-lama, ya nggak?

April 14, 2018

Uluru Trip – Hari Pertama

Hari pertama perjalanan kami dimulai dengan perjalanan saya beli kopi dan croissant buat dibawa ke bandara. Soalnya saya nemu croissant yang menurut saya enak dan tiap nemu makanan yang enak, bawaannya pengen saya kasih ke suami juga biar kita sama-sama makan enak :D. Jadilah hari itu jam 6.30 pagi saya berangkat ke Brother Baba Budan, kedai kopi yang jual croissant enak itu. Si Brother baru buka jam 7, jadi saya sempat nunggu beberapa menit gitu di depan tokonya. Mungkin si mas-mas baristanya juga bingung itu ngapain ada cewek sampe segitu amat nungguin kita buka.

Habis dari Brother Baba Budan, saya langsung naik tram menuju Southern Cross station buat ngejar Skybus ke bandara. Melbourne ini belum punya kereta bandara, jadi jalur menuju dan dari bandara mau ga mau harus pakai bus. Sesampainya di bandara, suami saya udah nunggu sambil cengar-cengir. Dia mendarat di Melbourne pagi itu jam 06.30. Setelah kelar urusan imigrasi dan custom, baru deh bebas keluar terminal internasional buat pindah ke terminal domestik.

Penerbangan dari dan ke Uluru itu ga banyak, paling hanya ada Jetstar, Virgin Airlines dan Qantas. Saya naik yang mana? Jelas yang paling murah donk: Jetstar. Perjalanan Melbourne-Uluru ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Bisa ditebak, sepanjang penerbangan saya habiskan dengan molor. Ngantuk berat, euy! Malam sebelumnya habis nugas.

Bandara Uluru itu kecil banget, jauh lebih kecil dari Halim Perdanakusuma. Toh pesawat yang lalu lalang ke sini juga sedikit banget, bisa dihitung dengan jari: sekali dari/ke Cairns, Melbourne, Alice Spring dan hanya 2 kali dari/ke Sydney. Tapi walaupun kecil, ga perlu kuatir, terbang ke situ ga naik pesawat kecil kok, pesawat biasa, yang seat-nya disusun tiga-tiga itu lho.

Begitu mendarat kami langsung ke konter Hertz buat ambil mobil. O iya, buat yang ngga bisa nyetir kayak saya dan pengen jalan-jalan ke Uluru sebenernya ga usah khawatir. Ada fasilitas free shuttle bandara-hotel dan ga perlu booking dulu. Tinggal naik ajah dari area kedatangan bandara.

IMG_0143

Itu suami saya masih pake kemeja, jeans dan sepatu ngantor

Begitu dapat mobil, kami langsung menuju hotel yang dipesan. Lagi-lagi hotelnya saya pilih yang paling terjangkau dan sesuai kebutuhan, tepatnya sebuah kamar hostel. Saya pesan dua tempat tidur di kamar campur alias bisa cowok-cewek. Berhubung waktu check in baru jam 3 sore, akhirnya kami makan siang dulu di restoran hotel. Mahal. Ga enak. Akhirnya setelah sekali makan di situ dan kapok, besok-besoknya kami memutuskan masak sendiri. Masak apa? Indomie goreng cup! Murah, ciiin, sekali makan cuma dua dolar, tinggal beli di satu-satunya swalayan yang ada di situ. Masaknya pun ga usah bingung, di hostel disediakan kitchen lodge yang boleh dipakai semaunya oleh penghuni, buka 24 jam nonstop, bahkan berbekal deposit 20 dolar dapat pinjaman alat masak masing-masing 2 biji.

Tempat wisata di Uluru ini unik karena dikelola oleh satu perusahaan besar: Ayers Rock Resort. Ada beberapa pilihan penginapan yang semuanya dihubungkan dengan shuttle bus yang gratis. Tinggal pilih saja sesuai ukuran kantong, mulai dari yang kelihatan lux macam penthouse ke hotel keluarga atau apartemen khusus yang bawa keluarga lumayan banyak sampai hostel untuk rakyat jelata dan bahkan campground buat yang butuh super ngirit atau pengen nyobain rasanya kemping di tengah padang pasir.

Trus kalo mau jajan, ambil uang di ATM atau bahkan mau ke kantor pos, semuanya terpusat di area yang namanya Town Square. Makan sih boleh Indomie, tapi ngopi jalan terus. Di sini untungnya ada kedai kopi yang lumayan jadi asupan kafein tetap terjamin.

 

IMG_0148

Berhubung cuaca panas jadi pesennya es kopi

Setelah jam tiga dan akhirnya boleh check in, kami langsung masuk ke kamar buat ngecek kondisinya kayak apa. Dalam hati berharap semoga kamarnya kosong jadi walopun pesen dorm tapi dapatnya private room. Harapan tinggal harapan. Kamarnya sih saat itu memang beneran kosong tapi malam itu pas balik lagi ke kamar ternyata ada dua mas-mas Jepang yang tidur di kamar yang sama. Yaaaah.

IMG_0150

Setelah naruh backpack di kamar dan mandi-mandi sebentar, suami mengajak hiking, mengitari area sekeliling hostel dan kebetulan beberapa lookout ke arah Uluru bisa dijangkau jalan kaki. Sekalian ngejar sunset. Sunset-nya ternyata cantik banget euy!

20180407_172451

20180407_224514

20180407_183534

Habis matahari terbenam trus udah? Engga donk.. Malam itu kami udah book aktivitas menarik: stargazing, tur melihat bintang! Demi apa, ini pengalaman pertama bagi saya.. Menikmati malam bertabur bintang di tengah area terbuka. Tur yang kami ikuti ini dilengkapi dengan penjelasan menarik dan lucu dari astronom setempat sekaligus merangkap tour gouide mengenai segala hal yang terkait perbintangan yang kebetulan bermunculan di southern hemisphere malam itu, mulai dari Southern Cross constellations (yang sekarang ada di bendera nasional Australia), sirius alias dog star, rainbow star, planet Jupiter (berikut 4 bulannya yang terlihat: Io, Europa, Ganymede dan Callisto), milky way, Magellan clouds dan sebagainya. Aktivitas ini diusulkan suami karena selama ini dia selalu penasaran gimana rasanya stargazing malam hari di alam terbuka dan kuatir kalo dilakukan sendiri pertama kali tanpa arahan malah tidak mendapatkan apa-apa.

Kami juga diberi kesempatan mengintip bintang melalui teleskop yang disediakan. Keren lah pokoknya. Walaupun kadang-kadang kami sendiri ga paham yang diliat di teleskop itu namanya apa sih wkwkwk..

Lebih senangnya lagi, di tengah-tengah sesi penjelasan, kami sempat melihat beberapa kali kilatan bintang jatuh berkelebat di depan mata, terhitung mungkin ada 4 kali malam itu. Wow!

Siapa yang juga mau melihat bintang?

April 12, 2018

Uluru, Northern Territory

Sejak tahu rencana saya akan sekolah di Australia, suami udah semangat bilang kalo mau ke Uluru. Bukan Sydney, bukan Perth, atau Gold Coast. Tapi Uluru. Emang dia mah tujuan jalan-jalannya suka anti mainstream. Dulu aja pas di Amerika dia langsung ngincer Mount Rushmore yang untungnya kesampaian juga kita datengin.

Jalan ke Uluru ini agak tricky, soalnya lokasinya yang di antah berantah dan juga suhunya yang panas luar biasa. Sebagai bayangan, Melbourne saat itu bersuhu 18-25 Celcius. Sementara Uluru? 16-35 Celcius! Ini padahal udah musim gugur, saya nggak bisa bayangin kalo pas musim panas di sana kayak apa.

Singkat cerita, akhirnya kami berhasil menetapkan waktu yang menurut kita berdua cukup optimal. Banyak hal yang kudu diperhatikan: harus pas saya libur, harus pas suami ngga ngurus kerjaan yang krusial dan juga harus pas bukan musim panas. Awal April ini ngepas banget, saya lagi libur tengah semester dan kerjaan suami bisa dititip dulu sementara. So, beginning of April it is! Itinerary kami selama tiga hari kurang lebih begini:

Hari pertama: ikutan astronomy tour. Kurang romantis apa coba, ngeliat langit bertabur bintang berdua.

Hari kedua: ngeliat sunrise di Uluru trus malamnya ikut wisata naik onta. Tapi akhirnya rencana naik onta kita batalin, diganti dengan ikutan tour ke Field of Lights.

Hari ketiga: liat sunrise dari sisi Uluru yang berbeda ditutup dengan hiking.

Karena mayoritas kegiatan kami memanfaatkan jasa tour lokal, awalnya saya rencana ga sewa mobil. Tapi suami menyarankan tetep sewa mobil, keputusan yang bener-bener ga disesali karena ternyata memang akhirnya kita bisa muter sana sini dengan bebas.

Pulang-pulang dari Uluru, saya sampe dikomentari gini pas ga sengaja ketemu teman

“Mukamu keliatan cerah, kayaknya happy banget ya jalan-jalannya ke Uluru?”

Well, gimana ga cerah coba.. Liat aja video rekapan jalan-jalan kami ini 😀