Archive for ‘australia’

April 12, 2018

Uluru, Northern Territory

Sejak tahu rencana saya akan sekolah di Australia, suami udah semangat bilang kalo mau ke Uluru. Bukan Sydney, bukan Perth, atau Gold Coast. Tapi Uluru. Emang dia mah tujuan jalan-jalannya suka anti mainstream. Dulu aja pas di Amerika dia langsung ngincer Mount Rushmore yang untungnya kesampaian juga kita datengin.

Jalan ke Uluru ini agak tricky, soalnya lokasinya yang di antah berantah dan juga suhunya yang panas luar biasa. Sebagai bayangan, Melbourne saat itu bersuhu 18-25 Celcius. Sementara Uluru? 16-35 Celcius! Ini padahal udah musim gugur, saya nggak bisa bayangin kalo pas musim panas di sana kayak apa.

Singkat cerita, akhirnya kami berhasil menetapkan waktu yang menurut kita berdua cukup optimal. Banyak hal yang kudu diperhatikan: harus pas saya libur, harus pas suami ngga ngurus kerjaan yang krusial dan juga harus pas bukan musim panas. Awal April ini ngepas banget, saya lagi libur tengah semester dan kerjaan suami bisa dititip dulu sementara. So, beginning of April it is! Itinerary kami selama tiga hari kurang lebih begini:

Hari pertama: ikutan astronomy tour. Kurang romantis apa coba, ngeliat langit bertabur bintang berdua.

Hari kedua: ngeliat sunrise di Uluru trus malamnya ikut wisata naik onta. Tapi akhirnya rencana naik onta kita batalin, diganti dengan ikutan tour ke Field of Lights.

Hari ketiga: liat sunrise dari sisi Uluru yang berbeda ditutup dengan hiking.

Karena mayoritas kegiatan kami memanfaatkan jasa tour lokal, awalnya saya rencana ga sewa mobil. Tapi suami menyarankan tetep sewa mobil, keputusan yang bener-bener ga disesali karena ternyata memang akhirnya kita bisa muter sana sini dengan bebas.

Pulang-pulang dari Uluru, saya sampe dikomentari gini pas ga sengaja ketemu teman

“Mukamu keliatan cerah, kayaknya happy banget ya jalan-jalannya ke Uluru?”

Well, gimana ga cerah coba.. Liat aja video rekapan jalan-jalan kami ini 😀

 

March 11, 2018

Wilsons Promontory Tour Bareng AAS

20180310_123532

Sendiri aja, Neng? Kek telpon umum

Mahasiswa di Melbourne pada umumnya terdiri dari tiga kategori: penerima beasiswa LPDP, Australia Awards atau YAI alias Yayasan Ayah dan Ibu. Ada juga sih beasiswa kantor kayak beasiswa yang dulu diperoleh suami saya, tapi dikit banget jumlahnya. Australia Awards Scholarship alias AAS termasuk lembaga yang cukup ramah buat penerimanya. Mereka sering ngadain acara jalan-jalan dengan harga tiket yang lumayan murah.

Salah satunya adalah trip kali ini: jalan-jalan ke Wilsons Promontory, sebuah National park yang berjarak kurang lebih 3 jam dari city. Harga tiket untuk peserta non AAS hanya sebesar AUD 36. Dan memang dari dulu saya pengen banget ke Wilsons Promontory atau yang biasa disebut The Prom ini, jadi ya ga heran kalo saya langsung daftar.

Berbekal keripik kentang, seporsi besar nasi goreng asparagus (buat makan siang dan makan malam), chia pudding dan air putih, tentunya, saya pun siap menjelajah bersama AAS family. Bus berangkat dari kampus jam 7.30 pagi dan mendarat di tempat tujuan pertama jam 11.45.

Squeaky beach, pantai yang bagus banget ini disebut squeaky karena dipenuhi kerang-kerangan yang kalo diinjek bunyi renyah kayak kalo kita gigit kerupuk gitu. Di pantai ini banyak banget keluarga dan pasangan muda yang berenang, main pasir, menyelam, atau sekedar telentang menikmati matahari. Saya juga akhirnya cuma tidur-tiduran di atas batu karang dengan pakaian lengkap. Males mau cebur-ceburan di pantai, soalnya pake sepatu keds.

Kenapa pake keds? Karena di tujuan berikutnya kita akan hiking. Pukul 13.20 kami semua harus berkumpul lagi untuk dibawa ke tujuan berikutnya. Di sini ada beberapa track yang bisa dilewati, mulai dari yang sederhana sampai yang aduhai capeknya. Saya pilih yang terakhir: medan sepanjang 3.5 kilometer dengan jalur yang sama sekali ga ada yang rata alias menanjak abis yang terkenal dengan sebutan Mt. Oberon summit walk.

Rasanya hampir tiap ada belokan yang menanjak curam trus saya berhenti dulu. Mungkin saya ada 10 kali berhenti di beberapa titik gara-gara kehabisan nafas.  Nyerah jelas bukan opsi, soalnya ini kesempatan terakhir jalan-jalan sebelum sibuk nge-date sama tugas.

20180310_161310

Pemandangan ini nih yang saya kejar

 

Setelah kembali ke Melbourne saya nyaris ngga bisa jalan saking kaku dan pegal di mana-mana. Bahkan sampai kerasa demam segala lho! Untung aja setelah mandi air panas, makan dan minum teh panas lalu tidur trus besoknya jadi baik-baik saja. Dasar memang ngga pernah olahraga!

Mau nyoba ke sini? Boleh, asal dipastikan kondisi badannya fit supaya nggak menggeh-menggeh kayak saya 😀

November 6, 2017

Perth – Day 3

DCIM100GOPROG0021200.

Hari ke-3 di Perth ini jadi hari roadtrip lagi. Yay! Saya paling seneng kalo roadtrip berdua suami. Soalnya ini kesempatan ngoceh panjang lebar dengan topik sesuka hati saya tanpa kuatir ditinggal molor sama dia. Malah jadinya saya bisa balas dendam, pas dia konsen liat kondisi jalanan trus saya tinggal tidur.

Siapa sangka ternyata hari ini jadi hari paling berkesan gara-gara sifat pelupa saya makin lama makin parah. Ga tau kenapa, rasanya sering ada blank spot di ingatan saya. Seringkali kalo habis mengalami sesuatu, beberapa menit kemudian saya ngga ingat sama sekali. Suami saya suka iseng gangguin “Ntar lama-lama suami juga kamu lupain.” (—“)

Hari itu ada sedikit drama yang dipersembahkan oleh tiket parkir yang hilang persis sesaat sebelum kami cabut dari tempat parkir. Sempat menghabiskan waktu satu jam buat bolak-balik menelusuri jalan yang sempat dilalui, akhirnya kami menyerah dan langsung aja membayar tebusan ke mesin parkir. Agak nyesek sih pas bayar. Hiks.

The trip must go on, hari itu adalah hari terakhir kami bareng-bareng jadi tetep harus maksimal donk. Berdasarkan itinerary, jadwal pertama kami ke Pinnacle Desert lalu dilanjut dengan makan lobster di sisi barat Western Australia. Pinnacle Desert ini kurang lebih berjarak 2,5 jam perjalanan dari Perth.

20171002_145312_richtonehdr.jpg

20171002_145146_richtonehdr.jpg

Pinnacle Desert ini kalo diliat sekilas mengingatkan saya sama Great Sand Dunes atau Mesa Verde, dua-duanya di Colorado, Amerika. Pas banget kok ya langitnya pas biru cerah gitu.. Foto-foto yang diambil jadi keren-keren deh, hehehe.

DCIM100GOPROG0021198.

Tapi untung banget deh ke sini bukan pas musim panas. Soalnya musim semi begini aja panas mataharinya terasa menyengat banget. Nggak kebayang kalo musim panas gimana.

a

Di sini kami cuma sempat muter-muter beberapa puluh menit sebelum kemudian lanjut perjalanan cari makan. Berdasarkan hasil googling, ternyata ngga jauh dari situ tuh ada lobster yang lumayan terkenal: Lobster Shack yang lokasinya di Cervantes, Western Australia. Berjarak hanya 1 jam bermobil dari Pinnacle Desert, kami pun langsung meluncur ke sana. Pas sampai di lokasi, rame juga lho ternyata.. Banyak turis lokal maupun mancanegara yang antri buat nyobain si lobster.

IMG_7449

Kesimpulan? Lobsternya enak siiiih. Tapi kok dikit ya. Hiks. Dengan harga se-lumayan itu buat kantong kami jadi jatohnya lumayan mahal. Tapi gapapa deh, toh ngga tiap hari juga ke sini.

Habis dari Lobster Shack, mulai deh berasa agak mellow dikit. Gimana ga mellow, wong bentar lagi mo pisah lagi sama suami. Saking susah mo pisah sama suami, pas mo naik bis menuju bandara saya sengaja minta naik bis yang tujuannya ke Terminal domestik. Jadi mau nggak mau dia nganterin saya sampe area penerbangan domestik, baru dia lanjut naik bis transfer yang ke penerbangan internasional. Demi apaa.. Padahal juga biasanya ke mana-mana sendirian.

Sekali-sekali manja gapapa lah ya, hahahaa….

October 15, 2017

Perth – Day 2

DCIM100GOPROGOPR1159.

Hari kedua: hari road trip! Udah lama ngga road trip, ga heran trus saya excited. Berhubung malam sebelumnya udah cukup tidur, hari ini kami bisa bangun pagi. Bayangin, jam 8 kudu sudah siap di rental mobil. Berhubung hari itu hari Minggu, rental hanya buka dari jam 8 s/d 10 pagi. Untung aja letaknya hanya sekitar 2 blok dari hotel, jadi cuma perlu jalan kaki sekitar 10 menitan lah.

Tujuan kami hari itu, sesuai dengan itinerary yang disusun sebelumnya kebetulan ada 2 lokasi. Pertama adalah Wave Rock, sesuai amanat dari kakanda suami ( ( K A K A N D A ) ). Terus kedua, sekalian menyambangi Helena National Park yang lokasinya nggak jauh dari akses jalan menuju ke Wave Rock.

Setelah urusan rental mobil kelar, ga lama kemudian kami sudah di tengah perjalanan menuju Wave Rock. Menurut Google Maps sih perjalanan itu bisa ditempuh dalam waktu 3 jam lebih sedikit. Walaupun secara umum road trip di WA hampir sama saja dengan road trip di negara bagian lain di Aussie, tapi ada sesuatu yang berbeda di sini.

Sepanjang perjalanan sejauh kurang lebih 300 kilometer, kami hanya mendapati beberapa kota kecil. Jangankan kota, pom bensin aja jarang. Kalo ga salah inget malah cuma ada 3 atau 4 kota yang saat itu kami lewati. Makanya, perencanaan isi bensin, makan, snack, logistik lain, sampai dengan urusan toilet harus dirancang lebih hati-hati. Bisa aja kota berikutnya masih berjarak 70-100 kilo lagi.

3 jam 15 menit kemudian kami sampai di Wave Rock. Di sini pengunjung cukup membayar ongkos parkir mobil sebesar AUD 15 sebelum memasuki area bebatuan ini. Sepintas, kata suami saya, Wave Rock ini seperti miniatur Ayers Rock yang terkenal itu, dengan ukuran jauuuuh lebih kecil. Tingginya paling cuma sekitar 15 meter saja dengan bentuk dan kontur yang mirip gelombang laut itu. Kayaknya itu deh yang bikin jadi unik.

Buat naik dan melihat puncaknya pun tidak perlu bersusah payah, cukup mendaki tebingnya saja yang terbilang cukup landai. Bahkan kayaknya ga lebih dari 45 derajat kok. Pose berfoto yang paling sering kali dilakukan turis saat di sini berpura-pura seperti sedang surfer, ada yang pura-pura naik surfboard atau yang lebih ekstrim bertelanjang dada berbaring telentang sambil bergaya ala ala surfer di pantai. Tapi yang pose biasa aja juga ada sih, termasuk saya hihihi…

photo6273531126245074883

Puas berfoto dan melihat-lihat visitor center yang berlokasi di sebelahnya, kami beranjak pulang dan menuju lokasi wisata kami berikutnya. Lihat di Google Maps, jaraknya mungkin hanya 1.5 jam dari Wave Rock. Tapi ternyata kejadian di Day 1 kemarin pun kejadian lagi di sini. Ini malah lebih parah, kami bahkan ga berhasil menemukan akses masuk menuju National Park nya. Ck, suami puas banget ngetawain struktur logika saya dalam menyusun itinerary kali ini.

Sampai kemudian suami mengajukan usul dadakan sebagai pengganti, gimana kalo menikmati sunset aja. Looking at the location, on the West side of Australia, he said that the view will be breathtaking. Suami mengusulkan dua lokasi: Fremantle atau Scarborough. Berhubung Fremantle tidak pernah tersebut di brosur-brosur punya obyek wisata pantai berlokasi indah, akhirnya kami pun berangkat ke Scarborough.

Pas jam 5.30 kami sampai di Scarborough, akhirnya bisa juga dapat parkir gratisan. Nyari parkir waktu itu termasuk susah, soalnya kebetulan lagi rame. Kami pun berjalan menyusuri pantai dan menemukan The Pit. The Pit ini semacam tempat orang bisa berdansa-dansi di sore hari sambil menikmati pemandangan sunset. Banyak orang yang melantai di sana, dan seiring dengan diputarnya lagu mereka pun berganti-ganti baik gaya maupun pasangan dansa. Saat pulang, saya baru tahu kalo untuk bisa berdansa harus registrasi dan dapat gelang khusus, untung saya ga jadi maksa suami supaya ikutan turun. Padahal rencananya udah mo narik dia ke bawah buat nari Saman (ya kaliiii).

photo6273531126245074884

Saat matahari tenggelam, kami pun mencari tempat makan malam, dan beranjak pulang menuju ke hotel. What a lovely day…