Archive for ‘traveling’

September 11, 2018

Uluru Trip – Hari Ketiga

Cerita tentang hari terakhir di Uluru ini nyaris aja ngga muncul di blog. Padahal benernya foto-fotonya udah di-upload sejak beberapa bulan lalu, tinggal ditulis ajah. Tapi ya tetep aja ketinggalan ditulis. Payah 😀

Sama dengan hari kedua, di hari terakhir ini kita berangkat jauh sebelum matahari terbit. Dan hari ini kita keduluan sama dua mas Jepang yang sekamar sama kita. Mereka udah cabut sejak jam 4 kurang, katanya sih mau hiking pagi-pagi. Di hari terakhir kami di Uluru, Yoga mengajak berangkat pagi lagi karena pengen melihat perspektif yang lain lagi dari hari sebelumnya untuk menikmati indahnya sunrise. Kalo hari sebelumnya lebih ke bagaimana indahnya matahari pagi menyinari Uluru, sedangkan yang kali ini, dia pengen melihat bagaimana semburat matahari yang muncul dari balik Uluru. Mungkin karena itu sih, beda dengan area yang kami datangi sehari sebelumnya, kali ini jauh lebih sepi. Pas kami datang di Uluru Sunset Viewing Area itu malah cuma ada sepasang kakek nenek menanti sunrise berdua. Keliatan dari namanya kan? Datang ke spot sunset malah pas matahari terbit hahaha…

Saya bilang ke suami,

“Nanti kalo kita udah anyuk-anyuk, ke sini lagi nunggu matahari terbit berdua kayak mbah-mbah itu yuk..”

Yang tentu saja disambut dengan pandangan aneh.

20180409_06590720180409_070245

Puas memandangi sunrise, kok ngantuk banget ya. Alhasil saya pun melanjutkan molor di mobil  sementara suami ngajak lanjut ke area lain. Sebagai penumpang yang  ga bisa nyetir dan ngantuk luar biasa, saya pun manut dibawa dia ke mana aja. Bahkan sampe-sampe dia iseng motoin juga saya pura-pura ga sadar. Makanya posenya bisa bobok cantik gitu, bukan bobok mangap.

20180409_072957

Setelah membolak-balik peta dan membaca-baca web review wisata Uluru, akhirnya suami memutuskan kita mendingan ke Mala Walk saja, salah satu jalur Uluru base walk yang ada di dekat-dekat situ dan track-nya ga terlalu panjang, jadi kita jalan-jalan santai tanpa kuatir kehabisan waktu buat terbang pulang ke Melbourne.

Di titik awal Mala Walk ini pula ada spot awal buat orang yang pengen manjat ke puncak Uluru dengan cliff climbing, tentu saja buat ini perlu permit khusus pengelola kawasan ya. Walau kalo diliat-liat sih, lebih condong cliff walking ya ketimbang cliff climbing kalo mau naik ke atas sana hehehe.. Kebetulan pas kami datang, tidak ada orang yang lagi memanjat. Mungkin karena angin pada saat itu sedang bertiup kencang jadi tidak ada yang diperbolehkan untuk naik ke atas.

20180409_07373820180409_074514

Uluru ini kalo pagi dinginnya minta ampun, tapi begitu matahari udah terbit.. Langsung deh kita disinari dengan sepenuh hati. Ga sante gitu panasnya. Alhasil kalo pas di area yang ga kena matahari, saya pasang jaket. Begitu disapa lagi trus jadi lepas lagi deh.

20180409_082357

Mala Walk hari itu benar-benar terbebas dari keramaian dan bis tur. Berjarak sekitar 2 km bolak-balik dan berujung di Kantju Gorge, jalur walk ini umumnya hanya didatangi pengunjung dengan kendaraan sendiri atau yang memang sengaja hiking dari jalur trekking lain. Total lintasan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1.5 jam saja.

20180409_083626

Selepas trekking di Mala Walk kami pun kembali mengunjungi visitor center, melihat-lihat isi galeri di sana yang kebanyakan isinya menceritakan kehidupan suku aborigin yang tinggal di sekitar Uluru beserta mitos, folklore-nya dan menikmati fasilitas kafe sambil menunggu capek hilang sehabis jalan-jalan juga sih.

20180409_094138

Habis nge-charge diri dengan makan siang dan kopi, kita berdua trus muterin Uluru dengan mengikuti alur jalan mobil di seputar Uluru base walk. Tentu saja dengan mobil :D. Paling engga bisa bilang kalo udah pernah muterin Uluru, walopun bukan hiking, wkwkwk. Hiking bisa makan waktu 8 jam sedangkan dengan mobil cukup 15 menit, gimana? Sangat efisiensi waktu kan?

20180409_103048

Hari mulai beranjak sore, saatnya kami menuju bandara untuk kembali terbang ke Melbourne. Kita udah nyampe bandara sekitar 3 jam sebelum penerbangan dan ternyata ada sedikit masalah di bandara: airport scanner rusak! Berhubung bandara di Uluru ini bandara sangat kecil yang bahkan jauh lebih kecil dari Halim Perdanakusuma, jadi mereka cuma punya satu scanner. Dan rusak.

Sumpah, itu antrian pengecekan jadinya puanjaaaaang banget karena semua barang bawaan dicek manual. Bener-bener manual, semua resleting dibuka, kompartemen diaduk-aduk, tumpukan pakaian dalam dibuka-buka, tas kosmetik, tas peralatan mandi, tas isi elektronik, semua tanpa kecuali dibongkar. Saya salut banget sih sama petugas bandaranya yang kelihatan jelas kalo lelah dan letih tapi mereka tetap melayani kami dengan senyum, ramah, tapi tegas. Ngga ada kesan intimidasi atau menyemburkan emosi ke calon penumpang sama sekali.

Iya, penerbangan kami saat itu akhirnya delay gara-gara nungguin semua tas dan koper penumpang selesai dicek. Sekarang sih pengalaman itu bisa diinget sebagai hal yang lucu, tapi pas ngalaminnya mah ngga enak banget dan jelas ga mau kita ulangi lagi 😀

September 3, 2018

Hobart dan Launceston, Tasmania

Sehari setelah wisuda, 29 Juli 2018 lalu saya langsung terbang ke Tasmania buat menikmati mini New Zealand. Banyak yang bilang kalo udah pernah ke New Zealand mendingan Tasmania di-skip aja karena bagusan NZ ketimbang Tasmania. Tapi buat saya yang orangnya gampang seneng, Tasmania itu BAGUS BANGET. Ga susah emang buat bikin saya hepi, dibawa jalan-jalan ke negara indah aja udah girang.

37989672_10156524839253934_7922435389313253376_o

Tasmania ini salah satu negara bagian Australia juga, hanya saja lokasinya nyempil di sebuah pulau di Selatan Melbourne. Di sini ada dua kota besar: Launceston dan Hobart. Berhubung pulau kecil, jarak antara dua kota besar ini terjangkau banget. Kira-kira cuma 2.5 jam.

Sebenernya saya udah pernah ke Hobart tahun lalu, tapi berhubung suami belum pernah ke Tasmania sama sekali, jadilah habis wisuda kemarin kita langsung ke sana. Off we went!

 

Hobart

Hari pertama sebenernya tujuan kami itu ke Cradle Mountain, sebuah pegunungan di dekat Launceston. Berhubung hari itu hujan deras, akhirnya kami memutuskan langsung aja ke Port Arthur yang terletak ngga jauh dari Hobart.

Port Arthur ini sebenernya adalah bekas penjara. Berlokasi di pinggir Semenanjung Tasman, reruntuhan bekas tempat pengasingan, bekas gereja, bekas rumah pengawas penjara dan perkebunan ini masih terawat dengan SANGAT BAIK dan BERSIH.

37936670_10156524840803934_2521977613363183616_o

37949234_10156524839078934_5407940528102703104_o

37962356_10156524839518934_3877119956520796160_o

38001546_10156524840978934_310436400749084672_o

Kalo siang-siang gini sih bagus ya pemandangannya. Entah kalo malam, hihihihi.

 

Launceston

Kalo Hobart lebih ke wisata penjara dan pinggir semenanjung, Launceston beda lagi. Di sini kami ke Cradle Mountain yang harusnya danaunya pas cerah itu bagus banget sampe-sampe bisa dipake ngaca. Sayang kami sedang tidak beruntung, jadi pas ke sana ya cuma dapat nuansa berkabut.

37970980_10156527009258934_9192816239351693312_o

Ga mau rugi, kita berdua tetep ngelanjutin hiking mengelilingi danau, eh trus ngga sengaja nemu pelangi.37977763_10156526883393934_1089089885337288704_o

Trus juga tiba-tiba nemuin rumah perahu sendirian ngejogrok gitu di ujung danau. Bagus ya.37994128_10156526883658934_260719001791889408_o

Hobart dan Launceston ini sama-sama kota kecil yang ga terlalu sibuk. Laid back dan makanannya enak-enak. Cocok lah buat liburan dan bersantai. Pokoknya kalau ada kesempatan ke Australia lagi, ini urutan kota yang ingin saya kunjungi sekali lagi:

  1. Melbourne
  2. Perth
  3. Hobart

Tiga kota itu udah paling menunjukkan the best of Australia, Melbourne dengan kopi dan budayanya, Perth dengan ruang terbuka hijau dan Hobart dengan pemandangan alamnya.

April 15, 2018

Uluru Trip – Hari Kedua

Hari kedua dimulai jauh sebelum matahari terbit karena kami ikutan Half Day Tour Uluru Sunrise & Kata Tjuta. Kenapa pake tur segala? Soalnya saya ini orangnya sangat susah bangun pagi jadi harus ada yang memaksa buat bisa bangun. Ini aja suami saya bolak balik nanya gara-gara ngga yakin bisa siap sebelum waktunya. Untungnya sih di sini matahari baru terbit mendekati jam 7 pagi dan jarak antara resort dan Uluru ga begitu jauh (sekitar 5 kilo aja), jadi janjian penjemputan di hotelnya pun ga sepagi yang kami sangka yaitu jam 5.15 pagi, tapi tetep aja lumayan kan?

Trus ternyata berhasil bangun ndak? Nih liat aja foto di bawah ini nih.

20180408_053545

muka bantal

Sesuai dengan janji si abang-abang tur, kami dijemput di depan hotel pake bis segede gaban berkapasitas puluhan penumpang. Sebelum boleh naik bis, kita dicek dulu apakah udah punya tiket masuk ke national park atau belum. Soalnya si harga tur ini belum termasuk tiket masuk 25 AUD per orang. Karena belum ke mana-mana sedari landing di situ, ya kudu bayar cash ke abang-abangnya. Nanti dituker dengan tiket masuk Uluru National Park yang berlaku buat 3 hari ke depan.

Gile ini Aussie emang bikin bangkrut, apa-apa serba mahal dibandingin sama Amrik. Kalo di Amrik, tahun 2012-2014 lalu, biasanya tiket masuk National Park itu sekitar 12-25 USD per mobil. Lha ini, 25 AUD PER ORANG.

Begitu duduk di dalam bis, kami disambut ucapan selamat datang oleh supir sekaligus tour guide hari itu. Tengak punya tengok, seisi bis itu mayoritas kayanya mbah-mbah pensiunan kaya. Yang jelas mereka bukan nginep di hostel tempat kami bermalam, kemungkinan besar sih dari hotel atau apartemen sebelah. Ya kali aja nanti nasib kami bisa kayak si mbah-mbah itu kalo udah pensiun. Kaya dan bisa jalan-jalan ke mana-mana, hihihihi.

Tujuan pertama pagi itu: melihat matahari terbit di ‘Talinguru Nyakunytjaku’ yang kalo diterjemahkan artinya kurang lebih ‘to look from the sand dunes’. Enaknya ikut tur adalah, full accommodation, semua keperluan disiapkan oleh penyelenggara tur termasuk di lokasi disediakan minuman hangat dan snack buat cemal-cemil. Asik juga lho ngeteh subuh-subuh sambil lihat sunrise di tengah gurun begitu. Belakangan juga disediakan snack lagi sebelum dan handuk basah untuk menyeka badan yang kotor sesudah hiking di Walpa Gorge. Coba kalo berangkat sendiri, mana kepikiran buat nyiapin yang kecil-kecil seperti itu kan?

20180408_070240

Beberapa belas menit setelah sunrise, kami diangkut lagi menuju Kata Tjuta, sebuah bentukan alam mirip seperti Uluru yang letaknya sekitar 17 kilo di sebelah barat Uluru. Bedanya: Uluru itu merupakah satu bongkahan besar raksasa sementara The Olgas (kata lain dari Kata Tjuta) terbentuk dari beberapa batu-batuan. Kalau dilihat dari ukurannya sebenernya Kata Tjuta lebih besar namun Uluru lebih mencolok karena berupa batuan tunggal.

20180408_082237

Habis dari Kata Tjuta kami dibawa lagi menuju area hiking bernama Walpa Gorge Walk. Walpa Gorge Walk ini salah satu dari 2 area hiking yang ada di Kata Tjuta, yang satu lagi adalah Valley Of The Wind Walk. Di sini kami menghabiskan waktu jalan kaki sekitar 1 jam bolak-balik. Sebelum dilepas jalan-jalan menuju Walpa Gorge, ada sedikit sesi Geology 101 yang menerangkan bagaimana kira-kira terbentuknya struktur alam semasif Uluru dan Kata Tjuta tiba-tiba muncul di tengah-tengah daratan luas Australia dari jaman purbakala. Tur ini pokoknya tur yang sehat gembira lah. Gimana ga sehat, dilepas di area terbuka buat jalan-jalan semaunya.

20180408_093830

20180408_093957

Kelar tur, sekitar jam 11.30 siang, saya klenger..

Akhirnya si putri tidur ini kembali masuk kamar, bebersih badan sebentar dan kemudian tidur siang, hahahaha. Gila suhu di luar waktu itu panas banget, di atas 35 derajat Celcius. Untung aja di dalam kamar yang dipesan, walaupun hostel, walaupun sharing, tetep ada AC-nya. Ga kebayang sih kalo ga ada AC. Walopun gitu tetep aja saya ga bisa tidur nyenyak gara-gara dioyak-oyak suami.

“Ayo bangun! Jalan-jalan! Kamu mau bikin video khan, ayo bangun! Kalau mau tidur mah di Melbourne aja ntar.”

Akhirnya jam 4 sore saya bangun lagi dan nemenin suami muter-muter nyetir sambil foto-foto.

20180408_164617

pak Ogah versi Uluru

Selain bermobil melihat-lihat Uluru, suami ngajak hiking lagi di salah satu area hiking yang ada di Uluru. Hasil hunting nama-nama area hiking dari peta lokal yang dikasih di hotel, didapatlah nama: Kuniya Walk. Kuniya Walk ini adalah area hiking yang berada di ujung sebelah timur Uluru, jauhnya 1 jam pp juga, dimulai dari area Kuniya carpark berakhir di Mutitjulu waterhole yang sayangnya karena saat itu habis summer ga ada air yang mengalir sama sekali, coba kalo datangnya pas winter ya…

Selama hiking, kami disuguhi dengan displaydisplay tentang mitologi kuno Aborigin yang bersumber dari sini. Mungkin supaya sepanjang jalan tidak terasa capek hanya berjalan saja. Cerita rakyatnya berkisah tentang seorang wanita kuno yang harus berperang melindungi anak-anaknya dari serangan ular beracun bernama Liru, hasil peperangan inilah yang menatahkan guratan-guratan yang ada di Uluru bagian selatan.

20180408_170222

Puas jalan-jalan di situ, ternyata waktu sudah mendekati sunset lagi. Sunset di Uluru sekitar jam 6.50 sore. Suami pun memutar otak lagi memikirkan di mana tempat terbaik yang harus kami tuju untuk menikmati pemandangan sunset di Uluru. Ala ala tour guide yang berpengalaman puluhan tahun membawa turis keliling di Uluru, dia pun memutuskan kami sebaiknya pergi ke Talinguru Nyakunytjaku lagi. Sebuah keputusan yang akan selalu kami kenang sampai saat ini. Pemandangan sunset dari sana breath taking sekali.

IMG_0214

Kata Tjuta yang terletak di sebelah barat selalu terlihat di momen-momen tenggelamnya matahari. Tuh keliatan kan? Di foto kemarin pun ada.

Walaupun ga dibangunin sebenernya saya juga ngga bisa molor sampe malam sih, wong udah pesen tiket tur ke Field of Light. Field of Light ini, sesuai namanya, adalah art installation berwujudkan sehamparan ladang cahaya. Bersumber tenaga dari matahari, obyek wisata ini merupakan kreasi Bruce Munro, seniman Inggris.

IMG_0217

di atas ada bintang, di bawah ada cahaya

20180408_204135

IMG_0233

agak-agak tricky kalo mau difoto di sini

Keren deh, sejauh mata memandang isinya pendaran warna-warni yang berubah-ubah mulai dari biru, merah, kuning, jingga. Pictures shown here don’t do justice. Aslinya jauh lebih keren. Trus udah gitu berasa romantis, jalan berdua di bawah cahaya bintang sambil ngobrol ngalor ngidul. Sayang waktu yang disediakan singkat banget, cuma sekitar 1,5 jam. Padahal yang namanya orang pacaran pasti maunya lama-lama, ya nggak?

April 14, 2018

Uluru Trip – Hari Pertama

Hari pertama perjalanan kami dimulai dengan perjalanan saya beli kopi dan croissant buat dibawa ke bandara. Soalnya saya nemu croissant yang menurut saya enak dan tiap nemu makanan yang enak, bawaannya pengen saya kasih ke suami juga biar kita sama-sama makan enak :D. Jadilah hari itu jam 6.30 pagi saya berangkat ke Brother Baba Budan, kedai kopi yang jual croissant enak itu. Si Brother baru buka jam 7, jadi saya sempat nunggu beberapa menit gitu di depan tokonya. Mungkin si mas-mas baristanya juga bingung itu ngapain ada cewek sampe segitu amat nungguin kita buka.

Habis dari Brother Baba Budan, saya langsung naik tram menuju Southern Cross station buat ngejar Skybus ke bandara. Melbourne ini belum punya kereta bandara, jadi jalur menuju dan dari bandara mau ga mau harus pakai bus. Sesampainya di bandara, suami saya udah nunggu sambil cengar-cengir. Dia mendarat di Melbourne pagi itu jam 06.30. Setelah kelar urusan imigrasi dan custom, baru deh bebas keluar terminal internasional buat pindah ke terminal domestik.

Penerbangan dari dan ke Uluru itu ga banyak, paling hanya ada Jetstar, Virgin Airlines dan Qantas. Saya naik yang mana? Jelas yang paling murah donk: Jetstar. Perjalanan Melbourne-Uluru ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Bisa ditebak, sepanjang penerbangan saya habiskan dengan molor. Ngantuk berat, euy! Malam sebelumnya habis nugas.

Bandara Uluru itu kecil banget, jauh lebih kecil dari Halim Perdanakusuma. Toh pesawat yang lalu lalang ke sini juga sedikit banget, bisa dihitung dengan jari: sekali dari/ke Cairns, Melbourne, Alice Spring dan hanya 2 kali dari/ke Sydney. Tapi walaupun kecil, ga perlu kuatir, terbang ke situ ga naik pesawat kecil kok, pesawat biasa, yang seat-nya disusun tiga-tiga itu lho.

Begitu mendarat kami langsung ke konter Hertz buat ambil mobil. O iya, buat yang ngga bisa nyetir kayak saya dan pengen jalan-jalan ke Uluru sebenernya ga usah khawatir. Ada fasilitas free shuttle bandara-hotel dan ga perlu booking dulu. Tinggal naik ajah dari area kedatangan bandara.

IMG_0143

Itu suami saya masih pake kemeja, jeans dan sepatu ngantor

Begitu dapat mobil, kami langsung menuju hotel yang dipesan. Lagi-lagi hotelnya saya pilih yang paling terjangkau dan sesuai kebutuhan, tepatnya sebuah kamar hostel. Saya pesan dua tempat tidur di kamar campur alias bisa cowok-cewek. Berhubung waktu check in baru jam 3 sore, akhirnya kami makan siang dulu di restoran hotel. Mahal. Ga enak. Akhirnya setelah sekali makan di situ dan kapok, besok-besoknya kami memutuskan masak sendiri. Masak apa? Indomie goreng cup! Murah, ciiin, sekali makan cuma dua dolar, tinggal beli di satu-satunya swalayan yang ada di situ. Masaknya pun ga usah bingung, di hostel disediakan kitchen lodge yang boleh dipakai semaunya oleh penghuni, buka 24 jam nonstop, bahkan berbekal deposit 20 dolar dapat pinjaman alat masak masing-masing 2 biji.

Tempat wisata di Uluru ini unik karena dikelola oleh satu perusahaan besar: Ayers Rock Resort. Ada beberapa pilihan penginapan yang semuanya dihubungkan dengan shuttle bus yang gratis. Tinggal pilih saja sesuai ukuran kantong, mulai dari yang kelihatan lux macam penthouse ke hotel keluarga atau apartemen khusus yang bawa keluarga lumayan banyak sampai hostel untuk rakyat jelata dan bahkan campground buat yang butuh super ngirit atau pengen nyobain rasanya kemping di tengah padang pasir.

Trus kalo mau jajan, ambil uang di ATM atau bahkan mau ke kantor pos, semuanya terpusat di area yang namanya Town Square. Makan sih boleh Indomie, tapi ngopi jalan terus. Di sini untungnya ada kedai kopi yang lumayan jadi asupan kafein tetap terjamin.

 

IMG_0148

Berhubung cuaca panas jadi pesennya es kopi

Setelah jam tiga dan akhirnya boleh check in, kami langsung masuk ke kamar buat ngecek kondisinya kayak apa. Dalam hati berharap semoga kamarnya kosong jadi walopun pesen dorm tapi dapatnya private room. Harapan tinggal harapan. Kamarnya sih saat itu memang beneran kosong tapi malam itu pas balik lagi ke kamar ternyata ada dua mas-mas Jepang yang tidur di kamar yang sama. Yaaaah.

IMG_0150

Setelah naruh backpack di kamar dan mandi-mandi sebentar, suami mengajak hiking, mengitari area sekeliling hostel dan kebetulan beberapa lookout ke arah Uluru bisa dijangkau jalan kaki. Sekalian ngejar sunset. Sunset-nya ternyata cantik banget euy!

20180407_172451

20180407_224514

20180407_183534

Habis matahari terbenam trus udah? Engga donk.. Malam itu kami udah book aktivitas menarik: stargazing, tur melihat bintang! Demi apa, ini pengalaman pertama bagi saya.. Menikmati malam bertabur bintang di tengah area terbuka. Tur yang kami ikuti ini dilengkapi dengan penjelasan menarik dan lucu dari astronom setempat sekaligus merangkap tour gouide mengenai segala hal yang terkait perbintangan yang kebetulan bermunculan di southern hemisphere malam itu, mulai dari Southern Cross constellations (yang sekarang ada di bendera nasional Australia), sirius alias dog star, rainbow star, planet Jupiter (berikut 4 bulannya yang terlihat: Io, Europa, Ganymede dan Callisto), milky way, Magellan clouds dan sebagainya. Aktivitas ini diusulkan suami karena selama ini dia selalu penasaran gimana rasanya stargazing malam hari di alam terbuka dan kuatir kalo dilakukan sendiri pertama kali tanpa arahan malah tidak mendapatkan apa-apa.

Kami juga diberi kesempatan mengintip bintang melalui teleskop yang disediakan. Keren lah pokoknya. Walaupun kadang-kadang kami sendiri ga paham yang diliat di teleskop itu namanya apa sih wkwkwk..

Lebih senangnya lagi, di tengah-tengah sesi penjelasan, kami sempat melihat beberapa kali kilatan bintang jatuh berkelebat di depan mata, terhitung mungkin ada 4 kali malam itu. Wow!

Siapa yang juga mau melihat bintang?