Archive for ‘review’

January 24, 2018

The Best of Adam Sharp – Graeme Simsion

Adam Sharp, sang Nine Inch Pianist (hayo jangan mikir yang aneh-aneh! Itu jangkauan tangannya selama main piano, you pervert!) tiba-tiba dapat e-mail dari cinta lamanya. E-mail-nya ga aneh-aneh kok, cuma “Hi!”. Dua huruf yang bikin hati deg-deg-an, balas.. ngga.. balas.. ngga.. Bukan cinta pertama tapi kalo bisa bikin kepikiran sampe 22 tahun lamanya itu berarti luarrrr biasa banget. Ya ngga?

Adam ini adalah seorang IT konsultan yang juga merangkap sebagai pianis sambilan di bar. Walaupun secara gaji sebenernya dia udah nggak butuh kerja sambilan tapi buat kebutuhan sosialisasi akhirnya diambil juga peluang jadi pianis bar ini. Berkat sambilannya ini pula dia ketemu sama seorang pemain serial TV lokal yang lumayan terkenal.

Masa lalu Adam berlokasi di Melbourne, jadi banyak nama jalan, kafe, bar dan juga restoran yang familiar buat saya. Jangankan kafe, Unimelb aja disebut-sebut. Masih untung ngga sekalian Old Engineering yang disebut :p

Habis nerima e-mail itu trus Adam galau selama ber-halaman-halaman.. Mengenang masa-masa indah sama sang mantan. Emang, kenangan itu lebih gawat daripada genangan. Yhaaa.. Bisa bilang begini soalnya selama di Melbourne ngga pernah kebanjiran. Coba kalo ngalamin kayak gini lagi ya, Kak.. Pendapatnya masih sama ngga

banjir.png

banjir Kampung Melayu seru abis

Balik lagi ke Adam yang galau, akhirnya mutusin buat ngerespon donk. Padahal dalam posisi benernya dia juga udah ngga lajang tapi juga ngga menikah juga. In complicated relationship gitu deh, kalo kata Friendster. 20 tahun belakangan dia udah punya hubungan serius sama cewek cerdas bernama Claire. Tapi dia penasaran, ngapain Angelina, cinta lamanya ini, tiba-tiba kirim e-mail.

Sepanjang buku itu terus akhirnya mulai membahas hubungan Adam-Angelina, baik di masa lalu maupun di masa sekarang. Akhirnya mereka balikan ngga? Jangan ada spoiler di antara kita, Kak. Kalo penasaran, langsung aja beli dan baca sendiri.

December 6, 2017

When Breath Becomes Air

when-breath-becomes-air.png

Baca buku ini lagi-lagi gara-gara Bill Gates. Dasar emang saya sukanya ikut-ikutan, bahkan baca buku aja ngikut orang. Saya udah ngincer buku ini di perpustakaan kota Melbourne. Sayangnya karena ini judul laris jadi antriannya puanjaaang. Nyerah, akhirnya saya mutusin buat beli bukunya. Bener aja, ternyata sama sekali ngga rugi beli karena dalam sehari udah habis saya lalap.

Buku ini ditulis oleh Paul Kalanithi, M.D., sebagai sarana bercerita tentang perjuangannya melawan kanker stadium lanjut. Bagian pertama diawali dengan kisah masa kecilnya di Kingman, Arizona di mana dulu sarat dengan bacaan serius. Judul-judul yang Paul baca saat kecil bahkan sampai sekarang belum saya baca. Hiks, jadi malu. Tapi rasa-rasanya saya belum pernah tahu ada anak usia 10 tahun sudah melahap 1984 karya Orwell. Mungkin Paul Kalanithi memang bukan anak biasa yang memiliki ibu yang juga tidak biasa.

Ibu Paul yang mencekoki dirinya dengan bacaan berat semenjak dini. Beliau pula lah yang mengantarnya ke Las Vegas, kota besar terdekat dari Kingman, untuk mengikuti berbagai ujian demi kelanjutan pendidikannya. Paul mengawali karirnya di dunia medis melalui jenjang yang tidak biasa: English Literature dan Human Biology dari Stanford University. Setelah itu dia lanjut ambil M.Phil di bidang History and Philosophy of Science and Medicine dari University of Cambridge.

Gilaaa, ini beneran ngga biasa khan? Kuliah S1-nya English Literature trus banting setir belajar buat jadi dokter bedah syaraf. Lagi-lagi ini menunjukkan kuatnya tekad dan kemauan Paul buat maju dan berkarya. Dan ga heran khan kalo Paul tergerak buat nulis buku selama berjuang melawan sel-sel kanker yang menggerogotinya, wong minat dan bakat Paul sebagian memang ada di bidang literatur.

Di tengah karir yang menanjak, rumah tangga yang sedikit bermasalah dan masa trainingnya sebagai dokter spesialis yang hampir selesai, Paul cukup terguncang dengan kenyataan bahwa ia mengidap kanker stadium lanjut. Tapi dia tetep keukeuh mencari jawaban atas pertanyaan yang selalu menghantuinya sampai akhir hayat.

“What makes human life meaningful?”

“What makes life meaningful enough to go on living?”  

Buat cari tahu jawabannya, silahkan bedah sendiri buku ini 😀

February 28, 2017

The Making of MONA – Adrian Franklin

Buku hitam legam dengan semburat pink ini langsung menarik perhatian, membuat tangan saya otomatis mengambilnya dari rak buku Melbourne City Library. Minjem di sini gratis jhe, kapan lagi bisa baca buku bagus tapi nggak bayar?

Hot pink and black. Ada alasan tersendiri kenapa The Making of MONA didominasi dua warna ini yang tak lain adalah warna MONA itu sendiri. “It’s about being bold and hot… Pink is associated with sex” Iya, hot pink mewakili seks, sementara hitam merupakan representasi kematian, dua tema yang banyak ditampilkan di MONA.

 photo the-making-of-mona-1-lbox-1140x750-f2f2f2_zpsv2ag83dq.jpg

Gambar buku MONA diambil dari sini.

Salah satu highlight kunjungan saya ke Tasmania beberapa minggu lalu itu sebuah museum nyentrik, unik dan beda dari biasanya: Museum of Old and New Art alias MONA. Bapak supir yang mengantar saya dan Dita waktu itu bilang bahwa MONA dibangun oleh seorang milyuner dari hasil menang judi. Saya jadi penasaran lebih jauh donk tentang cerita lebih lanjut.

Membuka buku ini rasanya seperti membuka buku cerita, bukan buku serius, padahal sebenarnya isinya sangat serius. Terdiri dari 11 chapter, keseluruhan isinya bercerita tentang sang pendiri: David Walsh, kisah pembukaannya di tahun 2011, cerita di balik pendiriannya yang memakan waktu 5 tahun lebih, para kurator sampai dengan alasan mengapa koleksi MONA termasuk unusual. Se-unusual apa sih di MONA? Konon Andrew Frost dalam salah satu reportasenya untuk ABC TV berkomentar begini: “big attraction is that it’s a look into the mind of David Walsh, a dark and mysterious place. This is museum as autobiography.. to enjoy MONA is to just feel  the weird.”

Salah satu chapter yang berjudul The Anti-Museum menjelaskan keinginan gila Walsh untuk membuat museum yang tidak seperti museum. Whatever every other museum did, Walsh wanted to do the opposite except for the art. Walsh ga mau pengunjung museumnya capek, bosen dan akhirnya ngerasa bahwa berkunjung ke museum itu sebagai kunjungan di mana kita harus tertib, ngeliatin karya seni trus baca label lalu ngangguk-ngangguk (sok) ngerti. Dia pengen pengunjung merasa terangsang keingintahuannya, pengen tahu lebih dalam ini apa sih, kenapa sih kok ditaruh di sini, trus ada trivia apa di baliknya.

Buku ini juga ngebahas soal aplikasi O, satu-satunya pemandu kita buat bisa ngerti ini art-nya apaan sih. Sebagai mantan buruh IT saya tertarik banget sama aplikasi O di iPhone yang dipinjemin ke kita selama di dalam museum. Konon katanya Walsh cuma kasih order begini: “Deliver a system that would remove the need for labels and empower visitors to vote whether they love or hate the works”. Trus udah, itu tim IT-nya disuruh mikir sendiri. Puyeng ga lo. Akhirnya si tim IT yang terdiri dari 3 orang itu mikir beberapa alternatif, mulai dari pake dongle sampai akhirnya mutusin untuk make wifi dan ‘real time location systems’ (RLTS) buat ngebaca posisi pengunjung dan dihubungkan dengan artwork yang ada di deketnya.

Hasil dari keinginan nyeleneh David Walsh, ditunjang dengan kekayaan yang memungkinkan dia ngewujudin impian itu, terbukti katanya pengunjung menghabiskan waktu 6 kali lebih lama dari rata-rata kunjungan ke museum lain. Bahkan 30% di antaranya ngerasa satu hari penuh itu ga cukup jadi mereka kembali lagi besoknya.

 photo CBB40D83-03E0-4885-9A37-71448EBDFFB3_zps8a2zea0v.jpg

Kalau penasaran dengan keanehan koleksi museum ini, foto yang saya ambil di atas itu menunjukkan salah satu kenyentrikan MONA. Kelihatannya kayak pameran normal khan? Is it truly a normal, usual artwork? Wrong! Koleksi tersebut dibuat dari kaleng sarden(!) yang dibentuk menjadi berbagai organ manusia, dan mayoritas adalah alat kelamin laki-laki dan perempuan. Beberapa karya lain yang dipamerkan bisa dilihat di sini.

Gimana? Jadi tertarik mengunjungi MONA ga? Saya sih terus terang kepengen datang lagi ke sana. Mungkin nanti, nunggu suami datang ke sini lagi 😀

Tags:
February 14, 2017

Critical Eleven – Ika Natassa

Saya ketipu abis. Not in a good way. Dilihat dari sampul, sisipan pembatas buku dan cuplikan cerita di sampul belakang buku, saya kira buku ini berisi tentang dunia penerbangan atau paling ngga tentang perjalanan. Setelah dibaca sampai habis ternyata intinya tentang suami istri yang sedang berselisih.

Sudah dari dulu saya penasaran banget dengan buku ini. Bolak-balik ke toko buku, saya timang dan timbang.. Beli ga ya.. Beli ga ya.. yang pada akhirnya berujung ga saya beli sih. Keputusan yang saya syukuri karena pas perjalanan bareng Dita dari Jakarta ke Melbourne kemarin ternyata Dita bawa buku ini! Lumayaan, bisa baca gratisan dan hemat 8 dolaran.

Cerita dibuka dengan.. Aduh, saya bahkan lupa bagian awalnya tuh gimana. Pokoknya alur maju mundur, dengan sudut pandang dari dua tokoh utamanya: Anya dan Ale. Keliatan jelas kok yang mana pikiran Anya dan gumaman Ale, bahasanya aja udah beda. Di beberapa bagian ada selipan-selipan panas khas suami istri, ga berlebihan tapi menurut saya agak bikin risi sih. Makin ke tengah buku, suasana makin panas dengan konflik. Panas beneran kalo yang ini mah, soalnya mulai debat, berantem dan sebagainya.

Trus cerita selanjutnya gimana? Nah kalo soal ini udah banyak review yang beredar, jadi kalo penasaran bisa cek salah satu review di sini.

Saya baca buku ini di tengah perjalanan dari Singapore ke Melbourne, rasanya kayak ga mau kalah sama Ale dan Anya kok sama-sama mengambil lokasi di pesawat. Bedanya mereka terbang dari Jakarta ke Sydney, sementara saya ke Melbourne.. Beda tipis lah ya. Saking kurang menariknya buku ini, saya hanya membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 1,5 jam. Begitu buku ditutup saya merasa capek. Capek karena berkali-kali mengernyit dan mikir apa hubungan antara satu kejadian dengan kejadian yang lain.

Selain itu ada satu hal yang janggal banget. Apa itu? Tak lain dan tak bukan, nama Aldebaran Risjad (nama lengkap Ale) dan Tanya Baskoro (nama lengkap Anya) yang bolak-balik disebutkan lengkap-lengkap. Saya bahkan sempat iseng menghitung dalam satu halaman ada berapa Aldebaran Risjad disebut, yang hasilnya lebih dari tiga kali. Itu satu halaman doank lho!  Well, saya ngga tahu ya dengan pasangan suami istri yang lain. Tapi yang jelas saya dan suami ngga pernah saling memanggil atau memikirkan satu sama lain dengan nama panjang. Nama lengkap mah dipake kalo akad nikah aja, habis nikah ngapain nyebut namanya panjang-panjang?

Seperti pada umumnya buku Ika yang lain, beragam merek, harga dan lokasi bergengsi dunia bertaburan di mana-mana. I’m familiar with New York City spots, but instead of making me recalling a fond memory and wishing I could recapture the moment, those details bore me!! I was like.. What is this all about?

I don’t know.. Maybe this book is not my cup of tea.