Archive for ‘living in US’

March 2, 2017

Amerika vs Australia (bagian 2)

Saya lagi ga ada ide buat bahan blog post baru nih. Ngelanjutin cerita soal perbedaan Amerika dan Australia aja deh ya. Buat yang belum baca bagian 1, bisa cek link ini.

Perbankan

 photo A874F840-7C36-4AA0-90E9-C48EE5516E91_zps6q1ohxhj.jpgSaya dulu punya buku cheque pribadi lho. Keren ya. Hahaha.. No! Di Amerika memang hampir semua rekening menggunakan tipe current account, bahkan untuk nasabah perorangan macam kita. Bayar sewa apartemen, bayar tagihan rumah sakit, bahkan bayar utang ke temen dulu kami biasa pakai cheque. Sistem transfer, apalagi transfer antar bank di ATM itu bukan hal umum di sana.

Sementara di Australia, walaupun sistem perbankannya lebih mirip Amerika ketimbang Indonesia, di sini saya kembali menggunakan kartu ATM dan mobile banking. Menu yang tersedia di mobile banking ga sebanyak fitur bank di Indonesia. Misalnya di Commonwealth Bank, menunya terbatas pada: transfer between your accounts, pay someone, BPAY, dan view accounts. BPAY ini adalah Bill Payment alias bayar tagihan seperti listrik, internet dan selular.

Trus kalo bank di Australia ada fasilitas cardless cash di mana kita bisa narik uang di ATM tanpa kartu, hanya verifikasi melalui handphone.

EFTPOS/EDC

Pertama kali sampai di Australia saya bingung dengan istilah EFTPOS. Apaan sih ini sebenernya? Owh ternyata Electronic Funds Transfer at Point of Sale alias EDC. Cara transaksinya sih persis kayak EDC yang biasa kita kenal, bedanya di Australia dan Amerika biasanya si kasir ngga mau berurusan dengan kartu kita. Jadi customer sendiri yang menggesek dan input PIN. Bedanya EDC Australia dan Amerika adalah mayoritas di Aussie sudah menggunakan teknologi RFID (radio-frequency identification) alias contactless. Nominal pembayaran di bawah 100 AUD ga perlu pake PIN, cukup sentuhin aja ke reader. Terakhir saya pergi dari Amerika dulu sih kayaknya belum pake RFID, mungkin sekarang udah 😀

Bedanya lagi, dulu di Amerika rata-rata mau menerima pembayaran dengan kartu, walopun belanja hanya sedolar dua dolar. Sementara di sini biasanya menetapkan minimum payment sebesar 10 AUD untuk bisa pake kartu. Bahkan untuk supermarket diskon seperti ALDI mengenakan surcharge sekian persen kalo bayar pake kartu.

 photo 15875608_10154305844525838_4772018014384323826_o_zpsdagebg71.jpgLajur Setir

Kalo yang ini pasti udah tahu semua lah ya. Amerika menganut setir kiri dan lajurnya di kanan jalan sementara Australia lebih mirip Indonesia.

Di beberapa ruas jalan bahkan sampai ada papan peringatan “Drive on Left in Australia”, mungkin untuk mengingatkan para turis Amerika supaya tidak salah ambil lajur. Biasanya papan-papan ini ditemui di jalan menuju tempat wisata yang cenderung sepi. Trus biasanya terletak di dekat lokasi scenic view point, tempat mobil-mobil berhenti sejenak untuk foto-foto atau istirahat sebentar. Saya rasa sih ini papan itu dipasang gara-gara besar kemungkinan banyak supir yang lengah saking sepinya lalu lupa kalo lagi ada di Australia jadi pas habis dari tempat parkir langsung nyelonong ambil lajur kanan. Hehe, tapi ini cuma sekedar analisa sok tau sih, maklumin yah.

Credit photo: Tari

Hmmm.. perbedaan berikutnya apa lagi ya. Ntar deh coba saya inget-inget dulu buat bahan blog post selanjutnya.

February 17, 2017

Amerika vs Australia

Jangan kuatir, ini bukan blog post tentang perbandingan Amerika dan Australia di bidang ekonomi, politik atau pendidikan.. Serius amat sih.. Kalo yang berat mah saya ga kuat, jadi bahas yang enteng aja 😆. 

Periode 2012-2014 lalu saya khan terekspos pada semua yang serba Amerika, mulai dari ejaan resmi, slang sampai sapaan sehari-hari. Trus waktu pindah ke Aussie sempat beberapa kali agak mengernyit dikit kalau lihat atau dengar istilah yang baru buat saya. Emangnya apa aja?

Ejaan
 photo FE3A9AD8-360A-484F-AC0E-30500C7AE484_zpsixafgpxw.jpg

Hayo ngaku, anak Indonesia pasti kenalnya bahasa Inggris yang belakangnya pake zeze itu khan. Pasti taunya optimize, categorize dan semacamnya. Nggak ya? Jangan-jangan cuma saya yang begini.

Awal kekagokan saya tuh waktu nyadar nama salah satu mata kuliah: Organisational Process dan bukan Organizational Process (Note: cerita tentang mata kuliah yang saya ambil di semester pertama ada di sini). Trus sempat bingung juga di beberapa kata seperti enrolment dan traveling itu harusnya huruf l-nya ada satu atau 2? Selama ngerjain tugas pun saya kadang masih suka kagok. Pengennya sih mengikuti ejaan Aussie, tapi ternyata udah terlalu terbiasa dengan ejaan Amerika. Untungnya sih selama ini belum nemu dosen yang terlalu ketat soal beginian. Pokoknya selama kosa kata yang dipakai di essay itu konsisten, beres!

Istilah

Udah tau khan kalo garbage, trash dan rubbish itu mengacu pada benda yang sama yaitu sampah? Amerika lebih sering menggunakan trash bin, sementara Australia lebih suka rubbish bin. Kalo kita ke Amerika, pusat bisnis di tengah kota itu disebut downtown, sementara Aussie menyebutnya city atau CBD (central business district).

Di beberapa stasiun kereta di Australia kadang sering saya temui tulisan kurang lebih begini: “If you are traveling with pram.. Bla bla bla”. Saya dulu bengong, pram ini apaan ya? Setelah gogling baru paham oooo ternyata stroller tho.

Trus pernah juga waktu saya dan suami menyewa mobil di Hertz Melbourne, sempet nanya ke petugasnya soal di mana pompa bensin terdekat. Si bapak petugas jawab “Look at this, we’re here. You have to go bla bla bla then you’ll find the service station”. Kita manggut-manggut, ngeh kalo ternyata di sini istilahnya service station, sementara dulu di Amerika nyebutnya gas station.

Satuan

Dulu waktu pertama nyampe Amerika saya harus sedikit mutar otak kalo membaca satuan-satuan untuk suhu, jarak, berat dan ukuran cairan. Lama kelamaan bisa terbiasa sih. Sekarang begitu tinggal di Melbourne.. Yippiee.. Senang ternyata satuan yang digunakan adalah satuan yang familiar. Celcius, bukannya Fahrenheit. Kilometer, dan bukan miles. Kalo nimbang berat badan satuannya balik ke kilogram dan bukan pounds. Amerika menggunakan oz, sementara saya lebih kenal liter.

Sapaan

Saya kenyang dipanggil darling dan honey di Melbourne. Barista, kasir sampai ibu-ibu yang saya tanyain jalan manggilnya dengan panggilan sayang semua.. Hahahaha.. Sementara di Amerika.. Lupa dulu mereka nyebutnya apaan ya?

Kalo sering nonton film atau serial Amrik pasti ngeh khan kalo mereka suka manggil dengan istilah buddy? Aussie lebih suka mate buat manggil orang. Semacam bro lah kalo di Jakarta.

Hmmm.. Apa lagi ya perbedaan Amerika dan Australia? Sementara ini dulu deh yang ditulis, untuk poin-poin lain mungkin akan saya tulis lagi kalau inget 😀

 

September 22, 2016

9 Perbandingan Unimelb vs SU

Kali ini saya ingin cerita sedikit mengenai perbandingan kampus saya dan suami: University of Melbourne (Unimelb) vs Syracuse University (SU). Hal yang dibandingkan cukup random mulai dari mata kuliah, perpustakaan, vending machine sampai kuota printing.

  1. Mata kuliah. Saya dan suami mengambil jurusan yang sama jadi mata kuliah yang ditawarkan di kedua program ya kurang lebih juga sama. Ada Project Management, ICT Infrastructure, Consulting, Governance dan masih banyak lagi. Buat yang kepo, silakan klik link Unimelb dan SU ini untuk tahu kami belajar apa saja. Tapi ya, walaupun sudah ada gambaran mengenai kuliah, terus terang saya agak tertatih-tatih buat bisa catch-up. Belum lagi assignment dan group work yang segambreng itu. Lah terus malah curcol.
  2. Internet quota. Saya lumayan kaget saat tahu kalau di Unimelb ada internet kuota maksimal 1 GB per minggu. Kuota ini akan di-reset setiap hari Minggu. Sependek ingatan saya, SU tidak ada membatasi kuota buat internetan. Hmmm.
  3. Printing quota. Fasilitas printer di kedua kampus tidak disediakan gratis. Saya lupa persisnya berapa biaya print di SU, yang jelas SU agak murah hati di sini karena setiap mahasiswa baru diberi saldo awal 20 dolar buat nge-print, yang sudah termasuk dalam cakupan tuition fee. Sementara mahasiswa Unimelb? Nil!
  4. Keran air minum. Amerika pada umumnya dan SU pada khususnya cenderung royal dalam menyediakan fasilitas air minum, mulai dari di dalam gedung, perpustakaan, sampai di dekat ruang kuliah. Sementara di Unimelb keran air terbatas dan beberapa titik agak tersembunyi.
  5. Harga makanan kecil di vending machine. Cemilan di Amerika murah! Permen, cokelat, cola, semua masih bisa dibayar di bawah 3 dolar, sementara di Unimelb lebih mahal. Ada sisi positifnya sih, saya jadi males jajan di vending machine.
  6. Aturan perpustakaan. Wah, perpustakaan di Unimelb lebih strict. Food is restricted, only no smell and no greasy ones allowed. Sementara dulu di SU, biasanya saya malah membekali suami dengan mie goreng. Tahu sendiri khan kalau mie goreng dibuka pasti aromanya ke mana-mana.
  7. Citation. SU menganut APA citation sementara Unimelb mengadopsi Harvard style. Awalnya agak susah juga membiasakan diri dengan Harvard citation, karena saya sudah terbiasa dengan APA.
  8. Mayoritas murid. Teman suami saya dulu kebanyakan datang dari India sementara teman saya mayoritas Chinese. Ada satu hal lucu yang saya alami. Sewaktu saya bertanya ke teman satu group “Ayo, siapa yang mau presentasi nih?” Mereka otomatis menatap saya. “Your English is better than us.” kata salah satu teman. Suami saya hanya berkomentar simple. “Yang kayak gitu nggak bakal kejadian kalo temenmu India. Mereka malah berlomba-lomba pengen tampil presentasi soalnya buat diri mereka sendiri juga, latihan untuk wawancara kerja.”
  9. Turnitin. Kedua kampus kami sama-sama memanfaatkan fasilitas Turnitin untuk mendeteksi plagiarism. Jadi setiap pengumpulan tugas kami harus upload tugas ke tombol Turnitin yang disediakan di Blackboard. Sejauh ini lecturer saya tidak ada yang mengijinkan mahasiswa tahu berapa persen similarity tugas yang di-submit. Berbeda dengan di kampus suami dulu, di mana setiap kali mahasiswa upload tugas langsung muncul persentasenya. Saya belum tahu sih apakah semua lecturer seperti itu atau hanya lecturer yang saat ini saya ambil yang memilih kebijakan ini. Saya sendiri cukup yakin dengan level authenticity hasil kerja saya jadi tidak terlalu khawatir. Tapi khan kadang penasaran juga, berapa persen sih kemiripan kerjaan saya dengan hasil karya orang lain.

Kira-kira itu sih yang bisa saya ingat. Mungkin seiring berjalannya waktu nanti saya bisa menambahkan poin-poin lain untuk jadi bahan blog posting berikutnya 😀

April 15, 2014

The Book of Mormon

Awalnya saya tidak tertarik untuk menonton pertunjukan The Book of Mormon. Berhubung suami mengajak, ya sudahlah, cari-cari tiket yang termurah dan jadwal yang pas di tengah jadwal kuliah suami. Untung saja ketemu waktu dan harga yang pas. Kami booking tiket pertunjukan ini kira-kira bulan Maret, sebulan sebelum pertunjukan. Kok jauh-jauh hari sudah booking? Soalnya pertunjukan ini termasuk salah satu yang terlaris dari seluruh pertunjukan Broadway yang ada saat ini. Kalau booking tiket mendadak dan mendekati hari H yang tersisa hanya tiket yang harganya selangit.

Kebetulan The Book of Mormon saat ini sedang tour jadi pertunjukannya bukan di Broadway NYC melainkan di kota-kota lain. Khusus bulan Maret hingga Juli mereka sedang touring di Boston dan Columbus. Saya sih mengejar menonton ke Boston saja, berhubung dekat dari rumah teman jadi bisa sekalian menumpang nginap. Pertunjukannya sendiri bertempat di Boston Opera House yang terletak di seputaran Theater District kota Boston. Teater ini hanya berjarak 1 blok dari Boston Common. Parkir mobil bukan menjadi kendala karena ada Boston Common Garage di mana pengunjung bisa parkir mobil dengan tarif yang terhitung murah buat ukuran kota semahal Boston, yaitu sebesar USD 12 untuk sehari penuh.

Dari area parkir kami berjalan menyeberangi Boston Common, yaitu semacam area hijau di kota Boston yang mirip dengan Central Park di kota NYC. Teater yang dituju bisa diduga penampakannya: tidak akan sebesar dan semegah teater tempat pertunjukan Lion King. Bangunannya pun terkesan tua. Berbekal tiket paling murah kami mendapat seating di sisi kanan agak belakang panggung. Tapi berhubung ukuran teater yang tidak besar, penonton yang duduk di belakang pun masih dapat menikmati pertunjukan dengan nyaman.

Pertunjukannya sendiri bagaimana? Satu kata: awesome! But you can’t bring your child watching this show. Banyak kata sumpah-serapah dalam dialog ataupun lirik lagu tak pantas didengar anak-anak. Namun hal ini dapat dimaklumi karena yang membuat naskah pertunjukan ini orang yang sama yang membuat kartun nan sarkastik, South Park. Kalau melihat review show ini di TripAdvisor ataupun Yelp, banyak yang menuliskan The Book of Mormon relatif tidak cocok bagi orang-orang yang sense of humor-nya tidak terlalu tinggi. Bisa diibaratkan dengan stand up comedy di mana banyak tema-tema sensitif yang diumbar sepanjang pertunjukan. Dari judulnya saja sudah ketahuan kan tema apa yang banyak sekali disindir di dalamnya?

Pertunjukan dibuka dengan lantunan lagu ‘Hello’, sepanjang lagu ini kita diajak berkenalan dengan para misionaris didikan Gereja Besar Mormon di Salt Lake City, Utah. Dua tokoh utama: Elder Price dan Elder Cunningham adalah sosok bertolak belakang dilihat dari karakternya. Elder Price sedikit tinggi hati, sementara Elder Cunningham agak sedikit ngaco dengan hobinya yang suka making things up. Elder Price sejak lama berharap ditempatkan di Orlando, Florida. Saat mengetahui bahwa penugasannya tidak sesuai dengan keinginan, yaitu ke Uganda, awalnya Price agak kecewa. Apalagi saat melihat kok partner-nya adalah Cunningham. Belakangan juga terungkap mengapa Elder Price memutuskan untuk bergabung dengan misi gereja Mormon ini (spoiler alert!) yang tidak jauh-jauh dari kota Orlando.

Adegan demi adegan mengalir dengan mengajak penonton tertawa sampai akhir pertunjukan. Beberapa detil kecil bahkan sampai membuat saya tertawa sendiri apabila teringat adegannya lagi sekarang. Belum lagi ternyata di Youtube juga ada yang mengunggah video ‘Hello’ tersebut. Ngomong-ngomong  jangan harapkan tata panggung dan kostum yang luar biasa untuk The Book of Mormon ini. Propertinya biasa saja, apalagi kostumnya. Kostum para Elder ya itu-itu saja. Kemeja lengan pendek putih, celana panjang hitam dan dasi hitam. Paling yang membedakan hanya misionaris di akhir cerita yang mengenakan kemeja putih, dasi hitam dan bawahan yang beraneka ragam seperti di foto di atas. Kekuatannya memang lebih ke cerita dan kelucuan adegan-adegan di dalamnya.

For Broadway lover, give this show a shot. You won’t regret it.

Tags: