Archive for ‘dancing’

October 19, 2019

Lari dan Nari

Memang terdengar klise, tapi beberapa minggu belakangan ini saya merasa lebih happy dan bersemangat karena aktivitas fisik. Lupa deh dulu awalnya gimana, tiba-tiba saya pengen aja lari ke Gelora Bung Karno (GBK) buat sekedar jalan-jalan. Ngga mau sendirian, saya nyeret Yoga yang pasrah aja digeret ke mana-mana. Diwarnai dengan skeptisnya dia

“Emang mau ngapain di sana?”

“Bukannya rame? Emang enak di GBK?”

“Kamu emang bisa bangun pagi”

Dan seribu pertanyaan yang khas dia banget. 10 tahun bareng dan 8 tahun nikah ternyata lumayan membiasakan diri saya atas pertanyaan dan tanggapannya yang realistis, kalo ngga mau dibilang skeptis.

Cuek, saya tetep maksa Yoga buat berangkat ke GBK. Hasilnya? Malah dia yang peningkatannya terlihat pesat. Kita berdua sama-sama install aplikasi Nike Run Club (NRC) untuk mengukur progress lari, dan Yoga keliatan jelas banget peningkatannya. Ntar kapan-kapan deh saya share tentang NRC itu.

Selain lari, saya juga kembali ke hobi semasa kuliah di Melbourne: nari! Ada beberapa akun sanggar tari yang saya ikuti, salah satunya adalah Gandrung Dance Studio. Gandrung beberapa kali membuka kelas dewasa, kayaknya tiga bulan sekali deh. Bulan-bulan kemarin saya masih terus aja mencari excuse atas kemalasan saya, inilah itulah.. Yang akhirnya membuat ngga daftar kelas. Tapi bulan Oktober ini beda. Saya langsung kirim pesan pribadi ke sanggar tersebut dan direspons dengan baik. Katanya langsung datang saja, bawa jarik, selendang plus stagen. Cukup dengan uang pendaftaran 100 ribu rupiah plus bulanan 250 ribu rupiah, semua orang bisa mengikuti kelas tari tersebut.

Kelas tarinya sekarang sudah masuk minggu kedua, dan saya merasa sangat happy! Di hari pertama kelas rasanya agak kesal dengan diri sendiri karena ga hapal-hapal sama gerakannya. Tapi memasuki pertemuan kedua, saya merasa lebih bisa mengikuti, sudah sedikit hapal, dan rasanya saya terhanyut dalam gerakan dan musiknya. Dancing makes me feel good. It clearly improves my mood, enhances my quality of life.

Tarian yang sedang saya pelajari saat ini adalah Tari Surilang, asal Jawa Barat. Menarik, karena sebelumnya saya hanya pernah belajar tari Betawi (Lenggang Nyai), Aceh (Ratoh Jaroe) dan Minang (Piring dan Rantak). Ke depannya, masing-masing batch akan diajari tarian yang berbeda-beda. Walaupun gerakan saya masih jauh dari luwes ataupun indah, yang penting saya menikmati :D.

Ayo, siapa lagi yang merasa kalau dengan aktivitas fisik jadi lebih bahagia?

May 30, 2018

Uni Minang di Stasiun Flinders

Ini apa deh judulnya ga jelas banget, hahaha. Padahal sebenernya mau cerita bahwa saya habis tampil nari buat acara Educational Screening yang diadain oleh Indonesian Film Festival di Australian Center Moving Image (ACMI) awal bulan Mei lalu. Narinya bukan Ratoh Duek, tapi tari Piring yang pernah saya tarikan juga tahun 2017 lalu. Agak kagok juga sih pas nyoba latihan tari Piring lagi, habis biasanya nari dengan posisi duduk trus tiba-tiba kudu pake nggerakin kaki.

IMG_0491

Clarice, Miranda dan Putri

Indonesian Film Festival (IFF) Australia adalah acara film tahunan yang rutin digelar di Melbourne untuk memperkenalkan film Indonesia yang bermutu ke khalayak Australia. Bergengsi banget, jelas. Tiap tahunnya selalu ada tokoh film yang diundang ke Melbourne, entah itu aktris, sutradara atau kritikus film. Penontonnya bukan cuma warga Indo lho, tapi beragam banget. Sebenernya di festival tahun ini saya dapat kesempatan nonton gratis berkat OZIP (yay to freebies!) yang bakal saya tulis di blog post terpisah.

IMG_E0473

Si Uni senyumnya cerah banget

Bener-bener saya merasa bersyukur banget pilih sekolah di Melbourne. Bisa gabung jadi jurnalis di majalah, bisa menemukan bakat terpendam buat nari dan juga ketemu sama orang-orang yang menyenangkan.

IMG_E0492

Clarice malah lebih luwes daripada saya, si Uni Minang palsu

Hari itu, sehabis saya, Clarice dan Miranda tampil nari trus Clarice ngusulin buat foto-foto di ikon kota Melbourne: stasiun Flinders. Dan waktu itu kebetulan banget ada Erin, salah satu anggota Bhinneka yang bela-belain datang buat ngerekam penampilan kami sekaligus foto-fotoin kita pakai kamera kerennya. Aduh, terima kasih banget, Erin.

Habis kapan lagi saya bisa dapat foto pakai kostum yang Indonesia banget di depan Flinders kalo bukan pas habis tampil nari?

April 1, 2018

Bhinneka di Alun-Alun 2018

d198989e-7fe4-4ff4-b6e6-7db5e0f889ba-1

Merah: Rial, Clarice, Miranda, Cia, Kanya. Hijau: Alid, Jasmine, Shaby, Dhiya, Alsa dan saya

“Hari ini aku happy” demikian pesan saya di Telegram kepada suami.

“Happy kenapa?”

“Habis latihan nari lagi.” sahut saya

Balasan suami saya? Tak lain dan tak bukan:

“Ooo.”

Khas deh. Mo saya cerita panjang lebar kek, mo cuma kasih titik kek, jawabannya pendek, padat dan penuh arti. Silahkan diterjemahkan sendiri sesuai penafsiran masing-masing. Untung aja sayanya udah kebal dengan “Ooo.”

Balik lagi ke cerita soal nari, kali ini Bhinneka diundang tampil oleh PPIA Victoria untuk acara Alun-Alun 2018 di KJRI Melbourne. Seru? Hohoho, pastinyaa! Ada satu gerakan yang sama sekali baru buat saya plus satu gerakan yang baru saya tahu pas acara AASC beberapa minggu sebelumnya. Trus juga kali ini seru karena banyak teman-teman baru yang join Bhinneka.

Latihan nari bareng Bhinneka sukses bikin saya merasa muda 15 tahun dari usia saya sesungguhnya. Masa ya, tiga anggota baru Bhinneka ternyata kelahiran 1999. Sekali lagi: SEMBILAN-SEMBILAN! Gile, saya udah masuk semester pertama mereka baru lahir. Plus bahasa mereka itu bahasa kekinian anak muda jaman sekarang. Aih, gimana ga bikin saya merasa lebih muda. Waktu saya tanya

“Kalian tau acara tipi Teko Ajaib ngga? Yang bidip bidip.. terbang! terbang!! Teko ajaiiiiib”

Semuanya memandang saya dengan tatapan aneh.

Sedih.

 

Ya gitulah pokoknya, sepanjang latihan, sebelum tampil, pas tampil, bahkan pas beberes setelah tampil juga isinya ketawa-ketiwi. Can’t wait to have another gig with you, Bhinneka mates 😀

 

March 25, 2018

Harmony Day Workshop di St Anthony’s Primary School

Australia itu multikultural. Beragam etnis, kebudayaan, gaya hidup dan bahkan bahasanya bermacam-macam. Yang saya sukai dari Australia, dan juga Amerika, tempat saya pernah tinggal dulu, adalah semua perbedaan itu dihargai. Saya pernah minta pendapat salah satu mahasiswa PhD Unimelb untuk keperluan penulisan OZIP Magazine, dan ada satu kalimat yang saya suka: everyone’s differences are celebrated.

Keberagaman ini bahkan sudah dikenalkan pada anak-anak sejak masih usia dini. Salah satu yang saya lihat langsung ya di St Anthony’s Primary School, sekolah yang baru-baru ini mengundang Bhinneka untuk mengisi workshop dalam rangka Harmony Day. Baru kali ini saya melihat sekolah yang benar-benar bervariasi. Rasanya anak-anak dari berbagai negara dan etnis ada di situ, mulai dari kulit sawo busuk kayak saya, kulit putih Asia, kaukasian sampai yang eksotis dan kulitnya keren banget. Sayang karena di lingkungan sekolah, saya dilarang keras mengambil foto mereka.

IMG_0015.jpg

Hari itu, seperti biasa kalo lagi workshop, saya berangkat pagi buta. Matahari di sini baru terbit sekitar jam 7.20-an, saya jam 6 lebih udah keluar dari apartemen pake baju hitam, celana hitam, kerudung hitam dan jaket hitam. Ga beda jauh sama maling.

Ketemuan sama teman di stasiun Southern Cross, saya dan si teman berangkat bareng menuju stasiun Noble Park untuk kemudian dijemput pihak sekolah. Workshop kali ini berlangsung dengan repetisi sebagai berikut:

  1. Nari penuh 1 putaran
  2. Buka kesempatan untuk bocah-bocah itu bertanya
  3. Ngajarin satu gerakan sederhana
  4. Ulangi langkah ketiga diiringi gendang
  5. Ngajarin gerakan lain
  6. Ulangi langkah kelima dengan gendang
  7. Mengulangi gerakan nomor 3 dan nomor 5 bareng krucils
  8. Makein kostum ke anak-anak
  9. Nari bareng anak-anak yang berkostum
  10. Ulangi lagi langkah no 9 dengan lebih cepat

Udah?

Hooo tentu belum donk. Itu sepuluh iterasi di atas diulang sebanyak 4 kali dengan kelompok murid yang berbeda. Saya jamin, habis workshop pasti berat badan turun, ya sekitar 5 sampe 10 ons-an lah, itupun kalo ngga dibalas dengan makan siang yang kalap. Gara-gara syarat dan ketentuan yang di-bold itulah workshop dan berat badan saya nggak pernah berbanding terbalik. Gimana mo turun, wong pulang workshop trus ngganyang macem-macem. Ealah mbaknya malah curhat.

Setelah empat sesi selesai dan saatnya beranjak pulang rombongan tim workshop udah pada tepar. Beberapa di antaranya langsung ketiduran di kereta pas balik ke Melbourne. Oya, sekolah ini berlokasi di Noble Park yang berjarak kurang lebih 40 menit naik kereta. Lumayan lah ya buat bobok-bobok bentar.

Begitu sampe rumah pokoknya saya langsung tepar, ga kuat ngapa-ngapain lagi. Kapok? Engga lah 😀