Di Masa Karantina

Sebenernya bingung sih mau cerita tentang apa, lha wong keseharian isinya kurang lebih sama. Sahur, tidur, kerja, buka, tidur lagi. Kurang lebih begitu kalau mau disimplifikasi. Mungkin yang beda dari tahun-tahun sebelumnya cuma kenyataan bahwa semua aktivitas kali ini dilakukan di dalam ruangan mungil 33 meter persegi.

Walaupun kecil dan seadanya, Alhamdulillah ruangan apartemen ini bisa mengakomodir kebutuhan kami berdua. Ngga ada yang kurang dan ga lebih. Jujur, beberapa bulan lalu saya sempat merasa tergiur untuk upgrade lifestyle dengan mengambil unit apartemen agak ke tengah kota. Kalo sekarang khan di Kalibata nih, pengennya sih pindah ke Mampang atau Duren Tiga gitu. Makin dekat ke tengah kota, ngga signifikan memang tetapi secara lingkungan akan jauh lebih gaya.

Secara hitung-hitungan memang masih masuk, dan harusnya terjangkau oleh kami berdua. Waktu itu akhirnya saya memutuskan buat nanti-nanti aja deh follow up beli apartemennya, toh saya juga baru pindah kerja dan belum diangkat jadi pegawai tetap.

Selang beberapa bulan kemudian ternyata pandemi ini menerpa. Padahal saya masih dalam masa probation di kantor baru. Tahu sendiri khan, di masa sekarang ini perekonomian sedang melemah. Saya kuatir terkena dampaknya secara langsung, alias di-cut begitu saja dari kantor. Untung kekuatiran saya tidak terbukti, bulan lalu saya dinyatakan lulus masa percobaan dan menjadi karyawan tetap.

Sekilas pernah baca ada yang cerita tentang temannya yang bergaji 80 juta dan kena layoff. Hidupnya langsung berantakan karena punya cicilan rumah dan cicilan mobil mewah. Membaca berita itu jadi sedikit terhenyak, itu bisa saja kejadian di saya kalau waktu dulu tanpa pikir panjang langsung grasa grusu mau upgrade gaya hidup. Untung saja dulu itu ngga sembrono untuk DP, langsung ambil cicilan ini itu. Ada gunanya juga mager dan kebanyakan mikir “gimana kalau..”.

Sekali saya pernah chat dengan adik saya, dia sempat komentar

“Wah tapi kamu sama mas Yoga itu sama ya mbak, ngga suka yang aneh-aneh. Gaya hidup biasa saja, ngga neko-neko.”

Wah dia ngga tahu aja niat mbaknya beberapa waktu sebelumnya, hahahaha.

Di masa begini juga bukan saatnya buat tengok-tengok hasil investasi. Beberapa minggu lalu saya dapat laporan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) BRI, yang hasilnya tentu saja anjlok habis-habisan. Kenapa kok pakai DPLK BRI? Karena itu kantor pertama di mana masa kerja memang paling lama. Dan sebelum resign dulu memang saya buka satu akun tambahan yang isinya 100% ke saham. Jadi jangan ditanya lagi, sudah pasti turun sampai 30%-an.. Atau lebih ya. Mending berapa persennya itu dilupakan saja. Harapannya, setelah pandemi ini hasil investasi bisa kembali membaik. Kalo Yoga bilang sih, masa-masa resesi semacam ini adalah waktu yang tepat untuk mengecek kembali apakah pos-pos investasi yang sudah kita lakukan selama ini sesuai dengan ekspektasi kita atau tidak. Ok, saya ngikut aja deh..

Kalau tadi udah bahas soal investasi, sekarang lebih ke konsumsi. Belakangan ini saya jadi rajin banget belanja online, terutama makanan. Beragam restoran, kedai kopi dan usaha rumahan saya coba. Ada yang lewat Tokopedia, Shopee, atau bahkan pesan biasa melalui WhatsApp. Sebenernya selain karena saya ga bisa masak, juga sebagai usaha untuk membantu usaha kuliner juga sih. Bukan cuma restoran yang berlokasi di Jakarta saja, bahkan ada yang dari Semarang juga saya pesan! So far sih baru satu kali kecewa, pesan nasi bakar yang ternyata nasinya pera dan keras banget, huhuhu..

Mengingat masa karantina juga bikin banyak orang kehilangan sumber pendapatannya, maka saya pun jadi lebih aktif berkontribusi dalam kegiatan donasi sesama baik kolektif maupun individu daripada sebelum ini. Tapi dasar namanya ngga mau rugi ya, di akhir bulan akhirnya saya minta ganti dari suami saya, alasannya duit dia kan emang lebih banyak dari saya dan saya bilang ke dia, “gapapa, nanti itu akan masuk dalam hitungan amal ibadahmu” hihihi. Trus Yoga akhirnya cuma nginyem. Batinnya “siapa yang mau beramal, duitnya siapa yang dipake”

Fiuh, kayaknya udah cukup panjang lebar juga saya ngoceh kali ini. Ntar kapan-kapan disambung lagi deh, kalau memang sempat. Semoga kalian semua yang baca tulisan ini baik-baik dan sehat ya.

12 Comments to “Di Masa Karantina”

  1. Semoga pandemi ini segera berlalu .. šŸ™‚ .. masa karantina begini jadi lebih rajin belanja online, yang kelimpungan kantor pos dan kurir. Waktu itu saya pengen belanja online supermarket eh masa kirim 2 minggu kedepan biasanya yg cuma 2 hari aja, ya kaga jadi.

  2. sama mbaaaaa aku juga DPLK-nya BRI huhuhu
    stay safe, stay sane, stay healthy ya mba Putri dan mas Yoga

  3. Gila yaa ini baru mau masuk 3 bulan aja udah morat marit banget. Gak bisa bayangin kalau lebih lama

  4. walaupun bisa masak tapi beli makanan emang penting karena itu membantu ekonomi juga kan. hehe.
    kita juga gitu. sehari2 esther tetep masak tapi pas weekend kita beli makanan. kasian juga kalo bisnis2 jadi pada tutup gulung tikar kalo gak ada konsumen nya ya….

    • Beneer! Itu juga yang kupikirin, bantuin usaha rumahan dan kedai-kedai kecil. Kadang juga sengaja pesen GoFood dari jarak deket cuma buat ngebantuin abang Gojek supaya dapat order.

  5. Eh aku pernah lho seminggu di Kalibata, tower Gaharu šŸ˜

  6. Sama Mbak, sekarang jadi sering belanja online
    Stay safe, stay healthy Mbak Putri šŸ˜Š

Leave a Reply to nyonyasepatu Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: