Archive for December, 2017

December 13, 2017

Doa Orang Tua

Beberapa hari lalu saya terlibat percakapan seru dengan seorang teman lama. Ngobrol ngalor ngidul ke sana kemari, sampai pada akhirnya tercetus ucapan sang teman..

“Menurutku, yang kita alami sekarang ini ngga lepas dari doa orang tua lho, Miek.” ujar si teman.

PS: Mieke ini nama kecil yang hanya dikenal oleh keluarga dan teman sekolah sampai kuliah dan sekarang akhirnya diketahui juga sama semua yang baca blog post ini.

“Iya banget!” sahut saya, refleks.

“Kok cepet banget nyautnya? Memang kamu udah ngerasa gitu juga?” balasnya.

Ingatan saya cepat melayang ke obrolan WhatsApp dengan Sony, adik kandung saya dua bulan sebelumnya.

Saya: “Kita bisa kayak gini semua karena doa Papa n Mama ya. Kayaknya rejeki kita semua Alhamdulillah lancar. Sampai ke jodoh juga.”

Sony: “Iya”

Yang Sony ngga tahu adalah.. Beberapa minggu setelah Papa meninggal dunia, saya menemukan sebuah notes kecil di laci lemari Papa yang berisi tulisan tangan. Mengenali coretan pulpennya dan tarikan huruf yang khas, saya menelaah isi notes itu.

Dilihat dari luar, bentuknya biasa saja. Tak ada yang istimewa. Begitu melihat isinya barulah terlihat bahwa benda itu merupakan buku yang spesial. Tercantum berbagai doa yang diminta atas nama Mama, saya dan semua adik-adik. Saya yakin Beliau selalu melafalkan doa itu karena memang beberapa kali nama saya terdengar sayup-sayup disebut dari dalam kamarnya sehabis shalat.

Doa yang tertulis:

“Semoga anakku Putri Utaminingtyas cepat lulus menjadi sarjana, mendapat suami yang baik dan selamat dunia dan akhirat…”

December 6, 2017

When Breath Becomes Air

when-breath-becomes-air.png

Baca buku ini lagi-lagi gara-gara Bill Gates. Dasar emang saya sukanya ikut-ikutan, bahkan baca buku aja ngikut orang. Saya udah ngincer buku ini di perpustakaan kota Melbourne. Sayangnya karena ini judul laris jadi antriannya puanjaaang. Nyerah, akhirnya saya mutusin buat beli bukunya. Bener aja, ternyata sama sekali ngga rugi beli karena dalam sehari udah habis saya lalap.

Buku ini ditulis oleh Paul Kalanithi, M.D., sebagai sarana bercerita tentang perjuangannya melawan kanker stadium lanjut. Bagian pertama diawali dengan kisah masa kecilnya di Kingman, Arizona di mana dulu sarat dengan bacaan serius. Judul-judul yang Paul baca saat kecil bahkan sampai sekarang belum saya baca. Hiks, jadi malu. Tapi rasa-rasanya saya belum pernah tahu ada anak usia 10 tahun sudah melahap 1984 karya Orwell. Mungkin Paul Kalanithi memang bukan anak biasa yang memiliki ibu yang juga tidak biasa.

Ibu Paul yang mencekoki dirinya dengan bacaan berat semenjak dini. Beliau pula lah yang mengantarnya ke Las Vegas, kota besar terdekat dari Kingman, untuk mengikuti berbagai ujian demi kelanjutan pendidikannya. Paul mengawali karirnya di dunia medis melalui jenjang yang tidak biasa: English Literature dan Human Biology dari Stanford University. Setelah itu dia lanjut ambil M.Phil di bidang History and Philosophy of Science and Medicine dari University of Cambridge.

Gilaaa, ini beneran ngga biasa khan? Kuliah S1-nya English Literature trus banting setir belajar buat jadi dokter bedah syaraf. Lagi-lagi ini menunjukkan kuatnya tekad dan kemauan Paul buat maju dan berkarya. Dan ga heran khan kalo Paul tergerak buat nulis buku selama berjuang melawan sel-sel kanker yang menggerogotinya, wong minat dan bakat Paul sebagian memang ada di bidang literatur.

Di tengah karir yang menanjak, rumah tangga yang sedikit bermasalah dan masa trainingnya sebagai dokter spesialis yang hampir selesai, Paul cukup terguncang dengan kenyataan bahwa ia mengidap kanker stadium lanjut. Tapi dia tetep keukeuh mencari jawaban atas pertanyaan yang selalu menghantuinya sampai akhir hayat.

“What makes human life meaningful?”

“What makes life meaningful enough to go on living?”  

Buat cari tahu jawabannya, silahkan bedah sendiri buku ini 😀

December 5, 2017

Bhinneka di Moreland Primary School Fete

Pernah denger istilah fete? Belum? Sama donk, saya juga baru kali ini denger istilah ini. Ternyata fete itu artinya sama dengan festival atau perayaan. Nah kali ini ada perayaan di sebuah sekolah di Melbourne yang namanya Moreland Primary School (MPS). Di MPS kebetulan buanyak banget anak Indonesia-nya.

Jadi mayoritas ibu-ibu seperti saya dan bapak-bapak yang mengambil Master ataupun PhD di Melbourne menyekolahkan anaknya di Moreland Primary School ini. Kekeluargaan para ibu dan bapak muda di sini kuat lho, mereka sampai punya group pengajian yang namanya Pengajian Brunswick dan Pengajian Aisyah. Saya pernah datang sekali ke salah satu pengajian ini, walaupun trus ngga pernah datang lagi.

Balik lagi ke acara fete ini, Bhinneka diundang buat tampil mengisi acaranya. Seperti biasa saya trus langsung aja ngedaftar buat ikutan, kebetulan tari yang bakal dibawakan adalah tari Saman dengan gerakan yang kurang lebih sama seperti biasanya. Jadi walopun minim latihan dan acaranya mepet banget dengan ujian akhir, masih pede lah daftar buat tampil.

Seperti yang terlihat di video itu, saya terlihat agak lebih gemuk ketimbang biasanya tetap bersemangat walapun salah-salah dikit. Ini ga tau deh kenapa, rasanya tiap perform kok selalu ada yang slip dan keliru gerakan walopun udah latihan berulang-ulang. Tapi seperti biasa, tiap habis nari itu rasanya seneeeeng banget.

Apalagi seperti yang udah diceritain sebelumnya, fan utama saya, Por, datang panas-panasan dan rela ngambilin video penampilan kami. Trus setelah acara tahu-tahu saya dapat WhatsApp message dari teman yang dulu anaknya sekolah di MPS juga dan sekarang udah balik ke Indonesia

“Puuuuuttt… amaziiiiing!! Keren banget, gw ampe merinding nontonnya.”

Dan ternyata tau ngga sih, dia nonton dari Facebook live salah satu ibu-ibu di situ. Hahahaha.. Emang ya teknologi itu keren banget, bisa menyelaraskan kehidupan Melbourne dan Jakarta.

Trus disambung lagi sama si teman yang bilang bahwa dia kangen Moreland Primary School, kangen MIS Unimelb dan terutama.. kangen Melbourne. I know, Melbourne memang ngangenin sih.

December 4, 2017

My #1 Fan

Tebak hayo siapa fans terbesar saya? Bukan suami lho ternyata, tapi teman berkebangsaan Thailand: Por. Ngga dink, ini hanya becandaan saya ke Por yang bilang bahwa diam-diam Por ini nge-fans sama saya.

20171116_201425

Por, my number one fan

Sama seperti Emma yang saya ceritain di post yang ini, Por juga lulus akhir tahun 2017. Iya, satu per satu teman dekat saya akhirnya pergi, hiks. Beda dengan Emma, saya kenal Por justru baru semester ini. Dia ini temannya salah satu teman dekat saya, Davian. Bingung ngga dengan tali rantai pertemanan yang saya sebutin? Hehehe. Jadi semester sebelumnya, Por sekelompok di mata kuliah Enterprise System dengan Davian. Davian pula lah yang mengenalkan saya pada Por karena kita bertiga satu kelas di mata kuliah Impact of Digitisation.

Trus waktu saya kebingungan cari korban yang bisa diajak jalan-jalan ke Canberra, entah kenapa nama Por mendadak terlintas di ingatan saya. Udah gitu dia anaknya pasrahan, pula. Jadi ditarik ke Canberra juga mau-mau aja. Por ini temen ngobrol saya selama di bis malam antar kota antar propinsi: Melbourne – Canberra. Trus dia juga yang  motretin saya di depan plang Autralian National University dan sama-sama sedikit nyasar  selama menjelajah Canberra berdua sebelum ketemu Rissa dan Ica.

photo6220033726570670047

Semester berjalan, ternyata saya menemukan beberapa kesamaan lagi. Kami sama-sama suka nangkring di perpustakaan kampus. Bahkan pernah beberapa kali kami menginap di perpus, walaupun masing-masing mengerjakan tugas yang berbeda. Saya masih inget banget tuh, satu saat saya pulang jam 6 pagi sementara Por masih merengut di depan layar pas saya pamit pulang.

Setelah istirahat, makan, mandi dan tidur-tidur dikit, jam 10 saya balik ke perpus yang sama. Por baru muncul beberapa jam kemudian. Saya tanya, dia ternyata baru pulang jam 8 pagi, 2 jam setelah saya.

Hari berganti, saya dan Por kadang suka saling bertanya di WhatsApp, walaupun udah saling tahu jawabannya pasti sama-sama lagi ada di Baillieu.

“Where are you?”

Sampai pada akhirnya pertanyaan itu berganti jadi

“I wanna ask THAT QUESTION”

Yep, THAT QUESTION means where are you 😀

Por beberapa kali dengan sedikit paksaan datang nonton saya tampil nari. Dia sampe udah terbiasa kalo saya tiba-tiba kirim pesan

“I will perform tomorrow at 2 pm. Queen Victoria Market. Please come if you have time.” 

Dan memang pada akhirnya dia selalu menyempatkan diri datang. Kalaupun ternyata ga datang, biasanya karena ada keperluan lain. Sambil bercanda dia kirim pesan

“Ah, I’m a bad fan.”

Yang terus saya tanggapi dengan

“Don’t worry, I still consider you as my #1 fan.”

Por juga saya kenalkan dengan beberapa kosa kata bahasa Indonesia seperti: pelet. Bukan apa-apa, ini sebenernya gara-gara Davian, mutual friend kami berdua, sering dapat makanan kecil berupa wafer, kue Chinese atau sekedar permen dari temannya yang kebetulan kebanyakan cewek. Guyon, kami akhirnya menyebut bahwa dia sering dapat pelet, dan ini ngga sengaja didengar oleh Por. Por pun nanya “emang pelet apaan sih?”

Belakangan, karena sering ketemu di perpus, Por dan saya akhirnya saling berbagi snack atau minuman ringan. Jadi deh selain nanya “THAT question”, WhatsApp message kami biasanya dilanjut dengan

“I have pelet for you, although without pelet I know that you love me already.”

Saya masih inget banget, di hari terakhir pertemuan kami beberapa hari lalu, Por sengaja menyempatkan diri nonton saya perform nari di acara sebuah sekolah. Bahkan Por kemudian bersedia saya mintain tolong buat merekam performance kami kali itu. Walopun trus dia protes berat

“Putri, tanganku pegel megangin kameramu terus-terusan. Berat, tahu!”

Berhubung capek dan ngantuk banget, habis perform kali itu saya ga kuat buat ngapa-ngapain lagi. Tapi juga ga mau langsung pulang ke apartemen, soalnya berarti pisah  sama Por. Wong dia udah bela-belain datang nonton masa trus saya tinggal begitu aja? Akhirnya saya ngajak dia buat istirahat tidur siang di mushala kampus. Beberapa jam kemudian pas udah seger lagi, baru deh saya maksa Por keliling kampus buat foto-foto. Kapan lagi bisa maksa anak orang muter keliling kampus 😀

Sekarang sih  saya agak sedih soalnya dalam waktu berdekatan kok dua teman belajar saya tahu-tahu sudah lulus. Gapapa deh, tinggal berharap semoga semester depan saya bisa menemukan teman diskusi dan teman belajar baru.