When Breath Becomes Air

when-breath-becomes-air.png

Baca buku ini lagi-lagi gara-gara Bill Gates. Dasar emang saya sukanya ikut-ikutan, bahkan baca buku aja ngikut orang. Saya udah ngincer buku ini di perpustakaan kota Melbourne. Sayangnya karena ini judul laris jadi antriannya puanjaaang. Nyerah, akhirnya saya mutusin buat beli bukunya. Bener aja, ternyata sama sekali ngga rugi beli karena dalam sehari udah habis saya lalap.

Buku ini ditulis oleh Paul Kalanithi, M.D., sebagai sarana bercerita tentang perjuangannya melawan kanker stadium lanjut. Bagian pertama diawali dengan kisah masa kecilnya di Kingman, Arizona di mana dulu sarat dengan bacaan serius. Judul-judul yang Paul baca saat kecil bahkan sampai sekarang belum saya baca. Hiks, jadi malu. Tapi rasa-rasanya saya belum pernah tahu ada anak usia 10 tahun sudah melahap 1984 karya Orwell. Mungkin Paul Kalanithi memang bukan anak biasa yang memiliki ibu yang juga tidak biasa.

Ibu Paul yang mencekoki dirinya dengan bacaan berat semenjak dini. Beliau pula lah yang mengantarnya ke Las Vegas, kota besar terdekat dari Kingman, untuk mengikuti berbagai ujian demi kelanjutan pendidikannya. Paul mengawali karirnya di dunia medis melalui jenjang yang tidak biasa: English Literature dan Human Biology dari Stanford University. Setelah itu dia lanjut ambil M.Phil di bidang History and Philosophy of Science and Medicine dari University of Cambridge.

Gilaaa, ini beneran ngga biasa khan? Kuliah S1-nya English Literature trus banting setir belajar buat jadi dokter bedah syaraf. Lagi-lagi ini menunjukkan kuatnya tekad dan kemauan Paul buat maju dan berkarya. Dan ga heran khan kalo Paul tergerak buat nulis buku selama berjuang melawan sel-sel kanker yang menggerogotinya, wong minat dan bakat Paul sebagian memang ada di bidang literatur.

Di tengah karir yang menanjak, rumah tangga yang sedikit bermasalah dan masa trainingnya sebagai dokter spesialis yang hampir selesai, Paul cukup terguncang dengan kenyataan bahwa ia mengidap kanker stadium lanjut. Tapi dia tetep keukeuh mencari jawaban atas pertanyaan yang selalu menghantuinya sampai akhir hayat.

“What makes human life meaningful?”

“What makes life meaningful enough to go on living?”  

Buat cari tahu jawabannya, silahkan bedah sendiri buku ini 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: