Archive for October, 2016

October 7, 2016

Hoarding Disorder

Dulu saya termasuk hoarder, sebutan untuk si penimbun. Banyak benda yang saya simpan atas nama kenangan. Catatan jaman kuliah, materi kelas dari dosen, soal-soal kuis sampai dengan draft skripsi saya simpan. Tiket nonton bioskop pertama terselip rapi di agenda saya. Minutes meeting di rapat pertama yang saya ikuti masih ada di lemari. Buku yang tak akan pernah saya baca ulang sengaja saya taruh di lemari khusus. Sampai dengan pada suatu saat saya merasa kok kamar sumpek sekali. Banyak barang!

20150816_172436_zpsnwlcjirp

rumah mungil saya

Setelah menikah saya tinggal di sebuah kamar kontrakan yang mungil sampai beberapa tahun kemudian saya kembali tinggal di hunian super duper imut. Di sinilah saya sadar untuk selektif dalam menyimpan barang. Iseng, saya cari tahu soal kebiasaan ini yang ternyata kalau sangat parah bisa sampai dikategorikan kelainan: hoarding disorder. Kelainan ini biasanya disebabkan oleh ketakutan berlebihan atas suatu benda yang dianggap berharga atau karena nilai kenangan benda tersebut.

Benda yang ditumpuk oleh hoarder biasanya macam-macam, bisa koran, majalah, kertas, dus, foto sampai perabotan. Ciri-ciri yang sudah mulai mengkhawatirkan:

  • Enggan membuang benda, apapun itu. Kalau mau menyingkirkan sesuatu rasanya gimana, gitu.
  • Benda yang dikumpulkan ditaruh, tapi kemudian lupa ada di mana. Nah lho!
  • Merasa eman-eman terhadap benda yang dimiliki. Rasanya semua punya kenangan di baliknya.
  • Bawaannya curiga kalau ada yang pegang-pegang bahkan kadang sampai ada yang obsessive banget. Sedikit-sedikit periksa tempat sampah, khawatir jangan-jangan ada yang tidak sengaja terbuang.
  • Lama kelamaan barang yang ditumpuk jadi menggunung. Pada beberapa kasus bahkan sampai mengakibatkan pemilik rumahnya susah berjalan saking banyaknya benda yang disimpan.

Menikah, pindah ke Amerika, tinggal di apartemen Kalibata City dan pada akhirnya sekarang mendarat di Melbourne, saya selalu tinggal di tempat mini. Mau tidak mau harus pintar-pintar menyusun barang dan juga memutuskan apa saja yang mau disimpan dan apa yang disingkirkan.

Cara yang saya terapkan:

  1. Seleksi berdasarkan expiry date. Berlaku untuk makanan kering, bumbu dapur, obat-obatan dan juga kosmetik.
  2. Jelek? Simpan di laci atau buang. Hal ini bisa diaplikasikan untuk pajangan, tumpukan kertas, buku bahkan sampai bumbu dapur.
  3. Tidak pernah dipakai selama setahun terakhir? Sumbangkan saja. Diterapkan untuk pakaian, terutama kalau kondisi badan berubah entah karena makin kurus (halah, maunya) atau sebaliknya, baju sudah tidak muat.
  4. Beli sepatu agak mahal. Hitung berapa kira-kira harga sepatu itu per pemakaian. Contohnya: saya sengaja pilih sepatu Skechers yang harganya 600 ribu rupiah tapi bisa saya pakai setiap hari. Literally. Saya pakai sepatu ini ke kantor, ke mall bahkan sampai ke Melbourne juga saya pakai tiap hari ke kampus. Berapa harga per pemakaian? 600.000: 365 = 1.643. Murah ya!
  5. Masih kaitannya dengan poin 5, untuk jenis alas kaki lain saya menetapkan batasan masing-masing hanya 1 pasang. Saat ini ada 1 sepatu jalan, 1 sepatu resmi, 1 sandal kondangan, 1 sepatu olahraga dan 1 sandal jepit. Total: 5 alas kaki. Ini berlaku di Indonesia. Kalau di sini saya malah hanya punya 1 sepatu Skechers untuk sehari-hari dan 1 sandal jepit untuk di kamar mandi.
  6. Baju pergi saya maksimal hanya 12 lembar atasan. Jadi harap maklum kalau sehari-hari saya seperti tidak ganti karena itu-itu saja yang dipakai, hehehe. Toh yang penting baju yang dipakai selalu bersih.
  7. Pindah ke apartemen atau rumah yang ukurannya mini. Tempat tinggal saya saking kecilnya, semua harus serba compact dan fungsional. Bayangkan, apartemen saya di Kalibata menggabungkan 4 fungsi ruang jadi 1: ruang tamu + ruang keluarga + dapur + ruang makan. Kalau perabotan dan furniture tidak ditata cermat, bisa dibayangkan khan hasilnya seperti apa.
  8. Punya benda kenangan dari almarhum keluarga boleh, tapi usahakan yang bentuknya kecil dan mudah disimpan. Saya hanya menyimpan giwang pemberian Mama dan korek api gas milik Papa. Benda-benda lain seperti baju, mayoritas sudah diberikan ke beberapa orang.
  9. Beli makan take-away dari Solaria? Buang saja kotaknya. Bentuknya memang bagus, sayang untuk dibuang dan mungkin ada alasan tak mau mencemari lingkungan. Tapi kalau setiap kotak makan restoran  disimpan, lama-lama dapur berubah jadi tempat penyimpanan kotak makan.

Semua langkah itu biasanya saya lakukan ulang setiap sebulan sekali. Kadang tanpa saya sadari, masih ada saja sisa kebiasaan sayang-sayang barang yang tertinggal. Begitu sudah sebulan dan terasa gerah baru merasa kok sumpek ya. Kalau sudah begini berarti sudah saatnya untuk melakukan sortir ulang benda-benda yang mungkin sudah waktunya pindah kepemilikan, hehehe.

October 1, 2016

Dancing & Happiness

cafb0580-d6ef-4dde-93bb-92839fde4594_zpsn6fdgjxy

Saya belum menemukan padanan kata yang artinya semanis ‘dancing and happiness‘. ‘Menari untuk bahagia’? Atau ‘Temukan bahagia dengan menari’? Kok kedengarannya malah wagu, bukan bahasa saya sama sekali. Ah sudahlah, toh itu juga hanya judul.

Saya kenal tari sejak usia 6 tahun, dikenalkan oleh orang tua saya pada tari Pendet dan tari Serimpi. Jangan tanya sekarang, sudah lupa semua karena saya dulu malas latihan. Sekarang saya malah agak menyesal kenapa waktu kecil ogah-ogahan diantar ke sanggar tari.

6c8c52a7-8c7a-499a-acb5-12c57c42a959_zpsvcbuexzb

Fast forward ke 28 tahun kemudian, ternyata di kantor ada klub menari. Iseng-iseng saya daftar dan latihan. Ternyata saya suka! Sempat belajar tari Lenggang Nyai dan tari Enggang, saya keburu pindah ke Melbourne. Saya bersyukur sekali memilih kota ini, karena ternyata di sini ada Bhinneka, sanggar tari Indonesia. Melalui Bhinneka saya bisa belajar tari Saman, bahkan saya sudah ikut dua kali tampil di bulan ketiga saya di sini.

14434893_1596091590687604_414753186416826285_o_zpsgsdncops

Menari, berdasarkan pengalaman pribadi saya memang membuat senang. Tapi bukan berarti menari tidak melelahkan lho, justru sebaliknya. Setiap habis latihan tari rasanya lapar, bahkan di awal-awal latihan rasanya badan seperti mau rontok dan susah berjalan. Belum lagi memar-memar di paha, lutut dan beberapa bagian tubuh lain. Semua capek dan lelah itu terbayar saat tampil, terutama melihat respon penonton yang antusias dan terhibur melihat penampilan kita.

Berdasarkan hasil penelitian di beberapa negara katanya menari itu memang berkaitan erat dengan happiness karena bagus untuk interaksi sosial, latihan konsentrasi dan juga meningkatkan percaya diri, terutama setelah kita menguasai gerakan baru. Pada dasarnya semua aktivitas fisik mulai dari olahraga ringan, lari sampai dengan balet merangsang tubuh untuk menghasilkan endorphin, hormon yang membuat kita senang, bahagia dan bahkan bisa membuat lupa akan rasa sakit.

Menurut artikel yang saya baca sih, any dances will do, jadi sebenarnya jangan ragu untuk mulai menggerakkan badan sekedar ikut irama lagu. Toh yang penting badan goyang, hati pun senang, iya khan?

Reference:

  1. https://www.psychologytoday.com/articles/200703/dance-therapy-spin-control
  2. https://www.psychologytoday.com/articles/201007/mind-your-body-dance-yourself-happy