Archive for March, 2014

March 23, 2014

Jamaica and Haiti Trip – Day 2

Hari pertama ada di sini.

Di hari kedua ini kami dibangunkan oleh petugas room service yang mengantarkan sarapan. Salah satu fasilitas yang tidak saya coba di perjalanan tahun lalu karena saya merasa tidak ada nilai tambahnya untuk sarapan di dalam kamar. Beda dengan sekarang karena ada faktor balkon. Sekali-kali boleh donk mencoba sarapan di balkon di tengah lautan :D. Untuk memesan room service ini mudah, cukup mengisi form yang disediakan di dalam kamar dan gantungkan di gagang pintu pada malam harinya. Menu yang disediakan mungkin tidak mengundang selera kita sebagai orang Indonesia, tapi paling tidak saya merasa cukup dengan kopi atau teh untuk sarapan.

Hari itu merupakan day at sea, jadi kami meneliti Cruise Compass mengenai acara menarik yang ditawarkan kapal. Setiap malam, biasanya saat kita makan malam, stateroom attendant akan masuk ke dalam kamar kita untuk merapikan tempat tidur, mengganti handuk, membersihkan kamar dan meletakkan lembaran informasi yang bernama Cruise Compass. Di dalamnya dicantumkan jadwal aktivitas lengkap hari berikutnya mulai jam 5 pagi sampai lewat tengah malam. Di situlah kami menentukan kegiatan apa yang ingin dilakukan. Seusai sarapan kami naik ke sport deck di deck 13 untuk mencoba meja ping pong yang ada di sana, hanya suami saya dan Dani sih yang main sementara saya leyeh-leyeh memandangi orang-orang bermain basket.

Selesai ping pong, kami menuju Windjammer Cafe untuk makan siang. Selepas sendokan makan siang terakhir, saya baru sadar kalau kamera kami masih tertinggal di area tenis meja. Panik, saya naik turun ke sport deck tempat asal duduk saya, ke bagian Lost & Found di dekat pool deck 11, kemudian Guest Relation di deck 5 dan beberapa tempat lain. Semua memberikan jawaban sama, belum ada yang menyerahkan barang yang tersasar dengan ciri-ciri yang sama dengan kamera kami. Mudah dikenali sih sebenarnya, LCD screen nya sudah retak karena jatuh perjalanan ke NYC terakhir itu. Setelah berkeliling selama kurang lebih satu jam, akhirnya saya bertemu suami yang juga habis mondar-mandir. Kami memutuskan kembali ke sport deck untuk bertanya kepada petugas kebersihan, barangkali ada yang menemukan kamera tersebut. Ajaibnya, kamera masih tergeletak begitu saja di lantai dan anehnya saya merasa pasti tidak melihat kamera tersebut sebelumnya. Apapun yang terjadi, saya lega karena tidak jadi kehilangan kamera, fiuhh..

Setelah urusan kamera selesai, suami mengajak saya menonton FlowRider, salah satu kegiatan air yang disediakan di kapal, semacam simulasi surfboarding di air yang mengalir deras. Semua penumpang kapal bisa mencoba tanpa tambahan biaya lagi, asalkan menandatangani waive form yang membebaskan kapal dari semua risiko kecelakaan yang mungkin menimpa para pengendara FlowRider dan cukup sabar untuk mengantri, karena peminatnya cukup banyak. Suami bilang akan mencoba FlowRider kalau ada kesempatan, tapi bukan hari ini karena jadwal di hari itu sudah cukup sesak, apalagi dalam beberapa jam lagi kami berencana menonton pertunjukan Encore, ice skating performance. Walaupun di perjalanan saya dulu juga ada Encore, tapi kalau tidak salah koreografi yang disajikan berbeda, jadi bisa dibilang saya menyaksikan dua pertunjukan yang berbeda. Belum lagi perbedaan di atraksi akrobat, di mana kali ini menampilkan bintang tamu dari Las Vegas yang wow!

Setelah pertunjukan Encore selesai kami terburu-buru menuju Platinum Theater yang terletak di sisi yang berseberangan tempat kami menonton Encore. Ternyata dalam trip ini ada pemutaran film bioskop dalam ruangan studio, dalam 3D pula. Ini termasuk kegiatan yang di trip kami sebelumnya tidak ada dan baru kami temui di trip kali ini. Setelah mengambil kacamata 3D dari attendant, kami pun menikmati akting Sandra Bullock yang sepertinya sedang berperan sendiri dalam Gravity. Bagi saya dan suami yang selama di Amerika jarang menonton di bioskop, adanya film di atas kapal ini jelas tak boleh dilewatkan.

Tema malam kedua ini adalah formal night. Ini memang menjadi kebiasaan di setiap perjalanan cruise, dan selalu ada satu atau dua malam yang bertemakan ini. Mungkin untuk memfasilitasi animo banyak penumpang cruise yang ingin berfoto dengan pakaian resmi di tengah-tengah kapal yang bernuansa lux itu. Saya dan Dani juga termasuk dalam kumpulan itu pastinya, hehehe… Sebuah dress dan setelan jas sudah saya siapkan untuk kami demi malam itu. Kapan lagi bisa dress up dan bersenang-senang?

Waiter kami malam itu bernama Mario yang berasal dari Peru. Mario ini lucu dan kalau bicara cepat sekali. Saya sampai harus menyiagakan telinga untuk menangkap apa yang dia katakan. Sama seperti Peamkait, waiter kami di malam sebelumnya, Mario pun ramah sekali.

Selepas makan malam yang (seperti biasa) selalu sukses membuat kami kenyang maksimal (padahal sepertinya porsi tiap makanan sedikit-sedikit lho…), kami bertiga berencana menyaksikan pertunjukan akrobat In the Air tetapi karena saya dan suami terpisah dengan Dani, kami kemudian tidak bertemu lagi di sisa hari itu. Saya dan suami hanya menyaksikan pertunjukan selama 20 menit pertama sebelum merasa bosan dan memutuskan keluar teater karena sama persis seperti yang disaksikan tahun lalu, baik dari segi alur cerita dan aksi panggungnya.

Dari sana saya dan suami kembali ke kamar untuk beristirahat. Seperti biasa pula, Dani bertandang dan menikmati nyanyian dan permainan piano tunggal Bernie Martini di Schooner Bar. Penampilan Bernie memang enak dinikmati, apalagi sebenarnya kami tidak perlu membayar ekstra ataupun diharuskan membeli minuman seperti layaknya di bar. Tetapi saya dan suami sudah kehabisan energi (mungkin karena panik naik-turun mencari kamera paginya juga ya…) dan memilih untuk tidur cepat malam itu, buat menyiapkan stamina yang cukup karena keesokan harinya kami dijadwalkan akan mendarat di Labadee, Haiti. Waktunya jalan-jalan di pantai!

Bersambung ke hari ketiga, keempat dan kelima.

Tags:
March 22, 2014

Jamaica and Haiti Trip – Day 1

Saya dan suami merencanakan acara untuk Spring break kali ini tak lama setelah Winter break berakhir. Bisa dibilang sudah tak sabar untuk kembali berlibur, apalagi Spring break ini berlangsung seminggu penuh. Dari sekedar ide asal dan iseng mengajak seorang teman, Dani, akhirnya jalan-jalan dengan cruise terwujud lagi. Cruise yang dipilih kali ini berdasarkan pertimbangan waktu, jenis hiburan yang disajikan di kapal dan itinerary. Saya dan suami ingin berlayar ke negara selain Mexico, sementara Dani ingin kapal yang menyediakan hiburan Broadway Theatre di dalamnya. Dari utak atik web Royal Caribbean dan Carnival didapatlah kapal yang sama dengan perjalanan kami Desember lalu: Liberty of the Seas.

Itinerary perjalanan kapal kurang lebih sebagai berikut:

Hari 1   Fort Lauderdale, Florida, waktu berangkat 4:30 PM
Hari 2   Cruising, berlayar menyusuri pesisir Florida, Keys, dan Cuba menuju perairan Karibia barat
Hari 3   Labadee, Haiti, waktu tiba 7:30 AM dan waktu berangkat kembali 3:30 PM
Hari 4   Falmouth, Jamaica, waktu tiba 8:30 AM dan waktu berangkat kembali 4:30 PM
Hari 5   Cruising, berlayar dengan rute yang sama dengan saat berangkat
Hari 6   Fort Lauderdale, Florida, waktu tiba 7:00 AM

Saya sengaja mencari negara yang tidak mensyaratkan visa bagi pemegang paspor Indonesia. Dari berbagai negara tujuan seperti Bahamas, Haiti, Jamaica, Mexico, Bermuda dan lain-lain, hanya Bahamas yang rewel soal visa. Mexico yang kami kunjungi tahun lalu membebaskan kami bukan karena faktor paspor Indonesia, melainkan karena kami punya visa US yang valid. Jadi kalau ingin berkunjung ke Mexico dari Indonesia, tetap harus mengajukan permohonan visa Mexico ya :). Haiti dan Jamaica membebaskan kami dari persyaratan visa karena kami penumpang cruise. Saya lupa ketentuan pastinya untuk pengunjung selain penumpang cruise.

Salah satu tips untuk calon penumpang yang berangkat dari Amerika, jangan lupa untuk memanfaatkan diskon US Residence. Saya dan suami memilih untuk tidak membuat State ID jadi tahun lalu tidak memanfaatkan harga khusus. Berhubung kali ini berangkat bersama Dani yang punya Pennsylvania State ID, kami mendapat potongan harga kurang lebih $100. Lumayan khan. Tips lain: selalu sediakan uang pecahan $1 untuk memberi tip kepada porter, petugas room service delivery atau penduduk lokal di tempat tujuan.

Siang itu kami berangkat dari hotel di Kissimmee, FL sekitar jam 9 dan sampai di Fort Lauderdale, FL sekitar jam 1 siang. Langkah yang dilakukan sama persis seperti tahun lalu. Kami menyerahkan bagasi kepada porter di luar lengkap dengan tip sebesar $1 per koper. Setelah urusan koper selesai, kami mulai antri untuk check in. Proses check in hanya melibatkan verifikasi paspor, visa dan I-20 (berhubung kami datang dengan visa F1 dan F2) serta mengisi formulir pernyataan kesehatan dan foto untuk keperluan keamanan. Setelah mendapatkan SeaPass Card, kami diijinkan masuk ke kapal.

Kondisi Liberty of the Seas persis sama dengan yang saya ingat sebelumnya. Bersih dan teratur. Tidak seperti perjalanan yang lalu di mana saya harus puas dengan kamar berjendela karena balcony stateroom habis dipesan, kali ini kami berhasil mendapatkan balkon karena kami pesan jauh-jauh hari. Menumpang Liberty of the Seas untuk kedua kalinya sama sekali tidak membosankan. Terlalu banyak hiburan dan aktivitas yang disediakan kapal sampai-sampai kami kadang harus mengorbankan salah satu acara demi mengikuti acara lainnya.

1053422_10202714555878319_444033235_o

Hal pertama yang kami lakukan setelah selesai check in adalah meletakkan barang tentengan di kamar dan kemudian makan siang di Windjammer cafe. Makanan yang tersedia dalam bentuk buffet yang tak pernah habis ini benar-benar cocok untuk yang kelaparan setelah menyetir 3 jam. Melihat saya dan Dani yang mengenakan jilbab, kami disapa waiter muslim dengan Assalamualaikum. Setelah berbincang sejenak dengan kami (bertanya asal kami dari negara mana), ia menghilang dan kemudian tiba-tiba kembali sambil menarik seorang kawan. Ternyata ia mengajak teman sesama waiter yang berasal dari Bali yang bernama Putu. Kami sempat ditawari minuman oleh Putu, yang terpaksa kami tolak karena sudah kenyang.

Setelah makan siang kami menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengitari kapal kemudian mengikuti muster drill alias pengarahan mengenai apa saja yang harus dilakukan apabila terjadi hal yang tidak diinginkan di kapal tersebut. Pengarahan ini bersifat wajib, absensi dilakukan dengan melakukan scan atas Sea Pass Card sehingga dapat diketahui siapa saja yang belum hadir. Selesai muster drill, kami kembali ke kamar untuk bersiap-siap makan malam.

2014-03-10 19.19.53

Sesampainya di kamar ternyata koper dan stateroom attendant kami sudah menunggu. Berbeda dengan perjalanan tahun lalu di mana saya tidak pernah melihat stateroom attendant kami, kali ini sang attendant memperkenalkan diri dengan ramah. Perbedaan perlakuan ini jelas berakibat pada perbedaan sikap saya terhadap mereka. Kalau di perjalanan lalu saya tidak meninggalkan ekstra tip, di hari terakhir saya dan Dani meninggalkan amplop berisi sedikit dolar tambahan untuk Marso, sang attendant yang berasal dari Filipina. Jangan salah sangka, sebagai penumpang cruise kami diwajibkan untuk memberi tip sebesar $12 per hari per orang yang kemudian dialokasikan untuk stateroom attendant, waiter dan kitchen staff. Saya lupa pembagian per orangnya berapa, yang pasti saya dan suami membayar sebesar $120 hanya untuk tip. Berhubung kami merasa puas dengan keramahan dan hasil kerja Marso, kali ini saya menambahkan tip sebagai penghargaan lebih.

Makan malam kami di hari pertama dilayani oleh waiter asal Thailand, Peamkait. Seperti halnya saat makan siang, kali ini pun Pam menyeret kawannya yang bernama Sigit untuk diperkenalkan kepada kami. Dari namanya saja sudah jelas khan, Sigit ini berasal dari Indonesia juga, hehe. Cukup lama juga Sigit berbincang dengan kami, ia bercerita bahwa karirnya di kapal sudah menginjak tahun ke-13 dan sebentar lagi ia memutuskan untuk berhenti berlayar karena akan menikah. 13 tahun! Wow!

Seusai makan malam kami bersiap-siap di Royal Promenade, jantung keramaian dan aktivitas Liberty of the Seas. Malam pertama akan dimulai dengan Socalicious Parade, pawai a la Mardi Gras yang sangat meriah dengan kerlap kerlip lampu dan tata kostum maksimal. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kadang kami harus mengorbankan satu acara demi acara lain. Kali ini kami terpaksa mengorbankan penampilan pertama Steven Scott, seorang comic, sekitar pukul 7.30 malam karena masih di ruang makan. Maklum, berhubung tidak mau rugi jadi kami memutuskan untuk selalu makan malam di Main Dining Room yang disajikan dalam bentuk fine dining lengkap dengan entree, main course dan dessert. Jelas saja waktu yang dibutuhkan untuk makan tidak bisa sebentar. Minimal kami harus meluangkan waktu 1.5 jam untuk makan. Untung saja masih ada late night stand up comedy yang disajikan oleh comic yang sama, Steven Scott, pukul 11.15 malam. Dan ternyata memang Steven Scott layak ditunggu karena lucu dan serba bisa. Beberapa kali ia memamerkan keahliannya menirukan alat musik seperti harmonika, terompet, gitar dan drum dengan mulut. Sepertinya sendirian pun dia bisa bikin orkestra full sendiri, keren!


2014-03-10 22.42.42

2014-03-10 22.43.57

Setelah acara stand up comedy selesai, saya sudah terlalu mengantuk dan tidak tertarik untuk mengikuti acara apapun lagi. Dani yang masih bersemangat melanjutkan ke Schooner Bar yang ramai karena ada performance dari Bernie Martini. Si Bernie ini di kemudian hari menjadi favorit Dani, hampir setiap malam Dani berkunjung ke sini untuk menyaksikan Bernie menyanyikan lagu favorit Dani: Sweet Caroline dan Piano Man. Yang jelas stamina saya dan suami tidak sekuat itu, seringkali jam 12 malam sudah kembali ke kamar yang nyaman.

2014-03-10 23.21.23

Bersambung ke hari kedua, ketiga, keempat dan kelima.

Tags: