Archive for January, 2014

January 17, 2014

Cozumel, Mexico

Beginilah itinerary pelayaran Liberty of the Seas yang kami lalui saat itu:
Hari 1   Fort Lauderdale, Florida, waktu berangkat 4:30 PM
Hari 2   Cruising, berlayar menyusuri pesisir Florida, Keys, dan Cuba menuju perairan Karibia barat
Hari 3   Cozumel, Mexico, waktu tiba 7:30 AM dan waktu berangkat kembali 6:00 PM
Hari 4   Cruising, berlayar dengan rute yang sama dengan saat berangkat
Hari 5   Fort Lauderdale, Florida, waktu tiba 6:30 AM

Sebelum berangkat saya mencari informasi lebih menyeluruh tentang apa saja yang bisa dilakukan di Cozumel. Sebenarnya Royal Caribbean menawarkan berbagai paket kegiatan  (atau excursion sesuai istilah mereka) yang bisa diambil, namun harga yang ditawarkan mahal. Menurut review di Internet, lebih baik mencari paket tur di luar excursion yang ditawarkan karena bisa lebih murah dan sesuai dengan keinginan kita. Karena itu saya melakukan pemesanan scooter sejak masih di US. Saya tidak mau bergantung pada taxi atau pilihan transportasi lain yang tersedia di pelabuhan.

Di hari pendaratan di Cozumel, kami tidak langsung turun dan keluar kapal. Foto-foto dulu sebentar dari atas kapal, hehehe. Saat itu ada kapal Royal Caribbean yang saya lupa namanya juga menepi di Cozumel. Proses keluar dari kapal ternyata tidak memakan waktu lama. Cukup menggesekkan SeaPass Card alias kartu ID yang diberikan oleh Royal Caribbean pada setiap penumpang di awal keberangkatan, dan kita sudah diijinkan melangkah keluar kapal. Memasuki Mexico pun tidak rumit. Tas kita hanya diperiksa manual oleh petugas tanpa alat deteksi canggih untuk diperiksa apakah membawa tanaman, buah ataupun daging.

Begitu dijejerkan dengan kapal lain baru terlihat besarnya Miss Liberty of the Seas. Ternyata bedanya lumayan jauh ya.

Menurut beberapa tips dari wisatawan lain, saat di pelabuhan sebaiknya cuek, jangan terlalu berminat pada barang-barang yang terjajar di pelabuhan karena bisa-bisa diikuti terus menerus oleh sang penjual.

Di pelabuhan kami sempat bingung harus keluar dari arah mana. Akhirnya terpaksa deh bertanya pada seorang penjaga kios rental mobil. Begitu saya sebutkan kalau saya mencari Ernesto Scooter Rental, dia langsung sigap bertanya apa kami sudah punya reservasi di sana atau belum. Untungnya setelah dijawab kami sudah reservasi, ia tidak bersikeras menawarkan jasanya lebih jauh. Jarak dari pelabuhan ke tempat kami memesan scooter tidak jauh, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki.

Sesampainya di sana, sudah ada 2 keluarga yang sedang mengurus sewa jeep. Suami saya sempat sedikit berminat begitu melihat jeep, tapi saya ingatkan kalau yang sudah dipesan adalah scooter, bukan jeep, hehehe

Bukan hanya suami saya, si bule yang sedang mengurus sewa itu saja terlihat senang akan jeep-nya, bagai anak kecil melihat mainan. Maklum, mungkin dalam sepanjang hidupnya, baru sekali itu dia melihat mobil dengan kopling manual. Semua serba matic di US.

Proses pemesanan scooter di Ernesto pun tak rumit. Harga sewa scooter sebesar $25/hari (kalau ingin menyewa jeep, harga sewanya $60/hari), tetapi dengan online reservation, kita bisa berhemat $5. Belum termasuk bensin ya. Bensin diberikan full tank dan harus kembali full tank juga. Bisa mengisi bensin sendiri (saat itu sih saya hanya menghabiskan $2.5 untuk bensin) atau bisa juga menyerahkan semuanya pada Ernesto dengan membayar ekstra $5 lagi. Oh ya, walaupun di Mexico menggunakan Peso, tetapi mereka juga menerima USD, jadi tak perlu ke money changer dahulu. Hanya saja kita harus ikhlas apabila menerima kembalian dalam bentuk Peso. Syarat peminjaman scooter adalah menunjukkan SIM, Paspor, SeaPass Card dan memberikan nomor kartu kredit sebagai jaminan. Apabila kita mengembalikan scooter dalam keadaan baik-baik saja, kartu kredit tidak akan di-charge.

Setelah urusan pinjam meminjam selesai, mulailah kami berkelana. Tujuan pertama? Memutari pulau dalam arti sesungguhnya. Pulau Cozumel ini tidak berukuran besar, kami hanya butuh waktu 2 jam untuk mengitarinya, itu pun dengan kecepatan santai dan berhenti di setiap spot yang menarik.

Setelah melalui kurang lebih 3/4 putaran, kami melewati San Gervasio yang terkenal akan reruntuhan suku Maya. Perjalanan menuju San Gervasio bisa dibilang cukup sengsara karena jalannya rusak berlubang-lubang, alhasil suami harus bermanuver untuk melewatinya walaupun lebih sering gagal. Kunjungan ini cukup menarik walaupun melelahkan karena sinar matahari yang cukup panas dan harus berjalan kaki selama kurang lebih 1 jam.

Dari San Gervasio kami beranjak menuju downtown kota San Miguel. Beberapa pengunjung cruise ternyata menghabiskan waktunya di sini belanja karena banyak toko-toko dan semacam pasar tradisional yang menawarkan beberapa benda etnik. Saya sih tidak tertarik untuk belanja, jadi hanya melihat-lihat saja. Saya lebih tertarik nongkrong di Starbucks, upload fot0-foto yang kami ambil sepanjang perjalanan, maklum sudah fakir internet 2 hari, karena tidak ada sinyal HP di kapal dan Wifi yang disediakan oleh cruise ship cukup mahal.

Last but not least: kunjungan ke pantai. Pantai di Cozumel kebanyakan dimiliki oleh pribadi alias tidak gratis. Dari berbagai pilihan pantai, saya pilih ke Chankanaab karena lokasinya tidak terlalu jauh dari pelabuhan dan direkomendasikan oleh para cruiser. Ternyata benar-benar tak salah memilih pantai ini. Pemandangannya indah, bisa bersantai di hammock sambil tidur siang.

Sayang pada akhirnya kami tidak bisa berlama-lama di Chankanaab. Salah satu alasan adalah waktu yang terbatas, di mana kapal berangkat pukul 6 sore dan seluruh penumpang diharapkan sudah kembali 30 menit sebelumnya. Selain faktor waktu, cuaca juga mendorong kami cepat-cepat meninggalkan pantai. Apa boleh buat, kembalilah kami ke stateroom yang nyaman ini.

Yang jelas liburan dengan cruise ini benar-benar membuat ketagihan. Bukan hanya kenyamanan yang ditawarkan kapal, faktor pelabuhan yang dikunjungi juga membuat perjalanan ini berkesan.

Tags:
January 16, 2014

The Time Keeper – Mitch Albom

dari books.google.com

Saya penggemar buku-buku Mitch Albom seperti Tuesdays with Morrie dan Five People You Meet in Heaven, oleh karena itu saya berharap cukup banyak pada buku ini. Harapan saya tak terpenuhi karena buku ini mengecewakan.

Kita dibawa bolak-balik antara dunia lain dengan dunia nyata, melalui tokoh Dor, Sarah and Victor. Dunia lain ini menceritakan sejarah sang penjaga waktu sementara dunia nyata berkisah antara Sarah, gadis yang berharap waktu berjalan lambat dan kemudian ingin memutar balik waktu (well, who’s not?) dan  Victor, seorang kakek kaya raya yang mendekati akhir hidupnya. Saya tidak paham inti kisah buku ini dan tidak merasa ada keinginan besar untuk mengulang dari bab awal untuk dapat menarik pesan tersembunyi. Itu sebabnya di akun Goodreads saya buku ini hanya memiliki satu bintang.

Tags:
January 13, 2014

Royal Caribbean – Liberty of the Seas

Di awal liburan musim dingin Desember lalu suami memberikan isyarat setuju untuk berlibur ke Mexico. Sebenarnya ada beberapa opsi tempat di Mexico yang bisa dikunjungi dari US, dua di antaranya adalah Cancun dan Cozumel,  keduanya terkenal akan wisata pantainya jadi lumayan apple to apple deh pas menimbang-nimbang. Visa sudah tidak menjadi masalah bagi pemegang Visa US dari negara mana pun.  Pertimbangan biaya yang dibutuhkan untuk wisata ke sana lah yang kemudian menjadi decisive point saat itu 🙂  Hasil hitung-hitungan untuk ke Cancun ternyata lumayan besar karena untuk ke sana harus menggunakan pesawat pulang pergi, kalau mau murah pun harus dari NYC yang berarti biaya tambahan lagi untuk sewa mobil atau naik bis ke bandara JFK. Sedangkan untuk ke Cozumel bisa dikunjungi dengan biaya jauh lebih murah karena menggunakan kapal pesiar yang berarti harga yang harus dibayar sudah meliputi kamar, makan dan berbagai hiburan.

Langkah berikutnya, menentukan kapal pesiar apa dan kapal yang mana yang cocok untuk kami. Bagian ini pun tidak terlalu sulit karena walaupun banyak pilihan seperti Royal Caribbean, Carnival, Celebrity dan Disney, faktor tanggal (ini benar-benar tidak bisa diganggu gugat, karena jadwal keberangkatan dan kepulangan setiap cruise tour sudah fixed dari jauh-jauh hari) juga membantu saya untuk melakukan saringan awal. Jatuhlah pilihan kepada Royal Caribbean dengan kapal Liberty of the Seas. Spesifikasi teknisnya dilewatkan saja ya. Kapal ini pernah menjadi kapal terbesar di dunia pada tahun 2009, jadi bisa dibayangkan besarnya seperti apa.

Kami pun berangkat menuju pelabuhan keberangkatan Royal Carribean di Florida, Port Everglades di Fort Lauderdale, FL. Pelabuhan ini menjanjikan area yang aman, dengan tempat parkir yang terang, diawasi oleh security camera 24/7 dan biaya parkir yang terjangkau, yaitu sebesar $15 per hari. Apabila ingin menggunakan pesawat pun sebenarnya mudah saja karena banyak jasa shuttle dan taxi yang melayani antar jemput bandara internasional Fort Lauderdale – Port Everglades. Saat itu saya melihat banyak sekali kendaraan shuttle dari bandara bersliweran mengantarkan pengunjung yang memang datang khusus pada hari H untuk langsung naik ke kapal.

area parkir Port Everglades

antri untuk menyerahkan bagasi kepada porter

Sebelum menaiki kapal, kami menyerahkan kopor-kopor kepada porter untuk diantarkan langsung ke depan kamar, melakukan check-in di counter yang ditentukan (dianjurkan sepagi mungkin, karena pengunjung sudah mulai berdatangan mulai jam 9 pagi, padahal saat itu kapal akan berangkat jam 6.30 sore harinya),  dan meleati pemeriksaan yang hampir sama saat kita akan menaiki pesawat terbang. So, siap-siap pegel kaki ya, waktu itu kami mengantri masuk sampai satu jam lamanya.

Begitu memasuki kapal, kami menjelajah setiap deck yang ada di kapal (o iya, deck ini istilah yang digunakan untuk menyebut lantai kapal). Total deck yang di kapal ini ada 15, jadi bayangkan saja masuk ke gedung bertingkat 15 lantai untuk lebih gampangnya menggambarkan besarnya kapal pesiar ini. Miss Liberty ini dilengkapi dengan mall bernama Promenade yang berisi restoran, cafe dan berbagai toko. Selain mall, juga ada night club, casino, perpustakaan dan tentunya kolam renang.

Ruang makan yang tersedia di kapal ini ada 3 main dining room bernama Rembrandt, Michelangelo dan Botticelli dan 1 buffet restaurant bernama Windjammer/Jade Restaurant. Kita bisa memilih untuk bersantap di salah satu dari keempat dining room tersebut.

Apa perbedaan dari 3 ruang makan utama tersebut? Rembrandt dan Michelangelo memiliki jam buka strict dan kita harus memilih untuk menikmati makan malam di either sesi pertama atau kedua. Sementara Botticelli menawarkan My Time Dining yang membebaskan kita untuk melakukan reservasi sesuai waktu kita. Waktu makan yang sudah kita pilih berlaku untuk sepanjang perjalanan di kapal, walaupun agak meleset sedikit juga tidak dilarang. Di luar waktu-waktu yang kita pilih, kita harus mengantri dan menunggu seat kosong yang masih tersisa.

Malas mengantri? Masih bisa ke Windjammer kok, bebas makan di sana kapan pun dan sebanyak apa pun. Oh ya, sudah saya sebutkan belum kalau makanan di restoran-restoran yang saya sebutkan itu gratis 😉

Miss Liberty memiliki restoran lain yang premium dan berbayar seperti Chops Steakhouse dan Portofino Italian Restaurant. Selain itu juga ada Ben & Jerry’s Ice Cream shop dan Johnny Rockets diner. Semuanya ini tidak termasuk biaya yang sudah dibayarkan. Seperti biasa, saya dan suami sih pilih yang gratis-gratis sajalah ya, hihihi..

di atas Promenade

Sekarang memasuki kamar alias stateroom. Sebenarnya saya mengincar balcony room saat memesan kamar tetapi ternyata tipe tersebut habis bis bis. Apa boleh buat, saya harus puas dengan kamar berjendela ini. Walaupun demikian ternyata kamar ini sangat memuaskan. Mungil, efisien dan bersih.

Bagaimana dengan hiburan? Bisa dipastikan tak akan ada waktu terbuang percuma tanpa hiburan atau kegiatan yang bisa dilakukan. Setiap malam pasti ada saja pertunjukan, entah sekedar parade di Promenade, stand up comedy, teater Broadway, ice skating performance, atau bahkan akrobat di udara.

Po!

teater tempat stand up comedy

jazz music

Saturday Night Fever

mini golf area

Setiap makan malam ada dress code yang sebaiknya dipenuhi. Selama 5 malam kami berlayar, ada 1 malam yang bertemakan formal dinner. Jadilah suami saya tampil lengkap dengan jas dan dasi, tak seperti biasanya, hehehe.

Saya terkesan atas waiter yang melayani makan malam, dia mengingat menu yang saya pesan di malam-malam sebelumnya. “Owh, this lady likes cold soup very much”, katanya sewaktu saya memesan sup dingin untuk di malam ketiga. Dari review yang saya baca di internet, keramahan layanan Royal Caribbean memang salah satu kelebihan mereka. Bisa dibilang Liberty of the Seas melebihi ekspektasi saya atas sebuah liburan yang nyaman. Dengan harga yang tidak terlalu mahal, saya dan suami dimanjakan dengan berbagai fasilitas mewah dan layanan yang cukup memuaskan.

Mungkin ada yang berminat juga untuk mencoba cruise ship?

Tags: