Archive for June, 2013

June 20, 2013

Grand Canyon National Park, Arizona

2013-05-17 14.42.55

Perjalanan dari Sedona menuju Grand Canyon memakan waktu kurang lebih 2 jam. Kami sampai di hotel yang dipesan sekitar pukul 10 malam. Bisa dibayangkan bagaimana lelah dan laparnya kami saat itu. Di saat seperti itu justru muncul kejadian yang kurang menyenangkan. Bisa dibilang hotel yang kami pesan tidak profesional. Saat kami membuka kamar hotel yang diberikan oleh resepsionis ternyata kondisi kamar masih berantakan. Benar-benar berantakan dalam arti sebenarnya. Sepertinya kamar itu belum dibersihkan sejak tamu sebelumnya check out. Resepsionis tidak merasa bersalah bahkan ogah-ogahan memberi kunci kamar pengganti. Kami masuk ke dalam kamar pengganti dan ternyata… Kamar itu sudah dihuni orang! Merasa marah, penghuni kamar keluar dan mengajukan komplain bersama kami.

Tak mau bermasalah ketiga kalinya, kami menyeret resepsionis ikut membuka kamar ketiga, hahahaha! Untung saja kamar ketiga ini tidak bermasalah. Akhirnyaa.. bisa istirahat juga.

Sebenarnya untuk menjangkau Grand Canyon kita bisa memilih menginap di 3 kota yaitu Flagstaff, Williams atau Tusayan. Flagstaff terletak sekitar 1,5 jam dari lokasi dengan tarif hotel termurah. Williams bisa ditempuh dengan mobil sekitar 1 jam dari Grand Canyon. Kota terakhir, yaitu Tusayan, berjarak hanya 10 menit dari entrance Grand Canyon tetapi tentu saja dengan tarif hotel yang lebih mahal dari 2 kota lainnya. Setelah menimbang dari segi harga dan lokasi, akhirnya kami memilih untuk menginap di kota Williams, yang juga dilewati rute historis di US, US Route 66.

Keesokan harinya kami melaju ke Grand Canyon yang tersohor itu. Untuk memasuki area National Park ini kami harus membayar USD 25 per mobil. Tiket masuk berlaku untuk 7 hari berturut-turut. Cukup murah, khan?

Grand Canyon bisa dilihat dari beberapa sisi yaitu South Rim, North Rim dan West Rim. South dan North dikelola oleh pemerintah Amerika tetapi West Rim adalah tanah pribadi milik suku Hualapai. South Rim lebih mudah dijangkau dan fasilitas yang tersedia lebih lengkap, jadi kami pun memilih South ketimbang North. Oiya, walaupun milik pribadi, West Rim juga bisa dikunjungi oleh turis, tentunya dengan biaya yang berbeda. Berdasarkan informasi, paket yang disediakan mulai dari $29.95 per orang, belum termasuk pajak dan biaya tambahan. Di West Rim ada area yang disebut SkyWalk di mana pengunjung bisa menapakkan kaki di lantai kaca dan memandang ngarai tepat di bawah kaki. Untuk itu perlu merogoh kocek ekstra $70.95 per orang belum termasuk pajak. Jangan dikira kita bisa bebas mengambil gambar selama di SkyWalk. Seluruh barang bawaan tidak diperbolehkan dibawa, termasuk kamera. Apabila ingin memiliki gambar selama di SkyWalk pengunjung harus membayar sekitar $20. Lebih komersial 🙂

view dari Desert Overview

view dari Desertview Overlook

South Rim sendiri sangat luas sekali. Saat mengunjungi Visitor Center kami diberikan beberapa rute dan trail yang dapat dilewati untuk menikmati pemandangan Grand Canyon, masing-masing dengan scenic view post-nya. Rute ke barat (sampai mencapai Hermit’s Rest) bisa dilalui dengan berjalan kaki, sewa sepeda atau menggunakan shuttle bus yang tersedia. Karena keterbatasan waktu dan kemalasan kami, jelas kami memilih shuttle. Sedangkan rute ke timur (menuju Desertview Outlook, sekitar 30 km ke arah timur) hanya bisa dilalui dengan mobil pribadi.

Itulah sebabnya rute barat banyak dipadati oleh wisatawan, sedangkan rute timur sebaliknya. Walaupun menurut kami, pemandangan yang ada di post Desertview Outlook adalah yang terbagus sepanjang Grand Canyon South Rim, apalagi kalau kita menaiki Watch Tower yang ada di sana sampai ke puncaknya dan memandangi ngarai yang terbentang luas dari sana. Majestic!

Di beberapa titik saya harus mengingatkan suami saya untuk tidak terlalu ke tepi tebing. Dalam hati saya hanya membatin, pasti di masa kecilnya ia sangat bandel dan suka memanjat sana sini.. Haduh *usap keringat*.

ini dia yang bikin saya deg-deg-an

ini dia yang bikin saya deg-deg-an

Untuk pengunjung yang berjiwa avonturir, di Grand Canyon juga ada rute trail hiking menyusuri lembah hingga mencapai Colorado River. Tentunya dengan berbagai tingkat kesulitan masing-masing rute yang berbeda. Rute hiking tersulit adalah yang  menembus ngarai menyeberangi sungai menuju ke rim seberang, North Rim. Untuk mencapai seberang, dibutuhkan waktu hingga 14 jam dan disarankan untuk tidak menempuhnya dalam waktu sehari. Pihak pengelola menyediakan rest stop untuk beristirahat di sana. Tetapi tentu saja jangan membayangkan tempat yang nyaman bagaikan hotel ya.

Untuk menceritakan indahnya Grand Canyon mungkin lebih baik apabila diwakili oleh gambar saja ya. Enjoy!

2013-05-17 13.07.12

kalau pose di sini masih mendingan karena tidak di pinggir tebing


2013-05-17 14.09.45

Jalur yang bergurat-gurat di sisi kanan bawah adalah salah satu trail Grand Canyon, tertarik?


2013-05-17 14.41.15

Salah satu sceniew view post di rute barat


 Desertview Outlook

Desertview Outlook

Tags:
June 17, 2013

Sedona, Arizona

Sedona adalah kota kecil di negara bagian Arizona. Hal yang membuatnya istimewa adalah bebatuan merah yang berderet cantik dan memantulkan warna oranye keemasan di kala matahari terbenam. Karena saat itu sudah memasuki Spring jadi matahari terbenam agak larut, sekitar setengah 8 malam. Kalau musim panas lebih malam lagi, sekitar jam setengah 9 (CMIIW).

bebatuan merah

bebatuan merah

belum terlalu gelap

mumpung belum terlalu gelap 

Sunset di Sedona memang sangat indah, sayang kami tidak berhasil mengabadikannya dalam bentuk dua dimensi. Hasil foto yang didapat kurang dapat mewakili kecantikan pemandangan yang sebenarnya. Tapi kalau punya kesempatan, Sedona sangat direkomendasikan untuk dikunjungi.

 sunset di Sedona

sunset di Sedona

Sebenarnya saat itu teman merekomendasikan untuk mengunjungi the Church of Holy Cross, karena pemandangan dari pekarangan gereja yang terletak di atas bukit itu sangat bagus. Katanya kita bisa melihat hampir seluruh landscape red rock Sedona dari sana. Sayang, ternyata gereja itu telah tutup dari jam 6 sore saat kita sampai di sana.

Tetapi untungnya di sepanjang jalan antara Sedona sampai Grand Canyon terdapat banyak scenic view spot di mana pengunjung bisa parkir sejenak menikmati pemandangan. Saya memperhatikan di sana ada satu kawasan yang sangat hidup, toko, restoran, hotel dan cafe berjejer padahal beberapa ratus meter kemudian kosong tak ada apa-apa. Pemerintah setempat rupa-rupanya telah menyulap kawasan yang nampaknya tidak ada apapun selain batu-batuan merah menjadi kawasan wisata yang menyenangkan dan nyaman. Jadi apabila tertarik ingin menyambut sunrise di Sedona bisa saja menginap di salah satu hotel yang tersedia. Tentu saja harga per malam di kawasan ini lebih mahal dibanding harga hotel di kawasan Grand Canyon, tujuan kami berikutnya.

Tags:
June 14, 2013

Phoenix, Arizona

parking ticket

parking ticket

Pagi-pagi di Tucson keesokan harinya kami dikejutkan oleh.. parking ticket alias tilang! Hahay, ternyata semalam sang supir sebegitu mengantuknya sampai-sampai tidak sadar kalau mobil terparkir melebihi batas dan menempati lebih dari satu parking lane.

Pantas saja di sini tidak ada akun twitter semacam @parkirlubangsat yang memaki-maki pengemudi yang parkir seenak udel. Untuk pelanggaran parkir terhitung ringan seperti ini saja, kami terkena denda 35 dolar! Sudahlah, ticket ini ditanggung berempat.


Selepas dari University of Arizona kami ke kota Phoenix yang berjarak kurang lebih 1 jam perjalanan dari Tucson. Di suburb kota Phoenix, di Tempe tepatnya, ada satu universitas yang cukup dikenal dari state Arizona, Arizona State University. Konon University of Arizona di Tucson dan Arizona State University yang ada di Tempe berseteru satu sama lain, khususnya dalam olahraga. Tentunya tidak sampai tawuran, hanya pandangan sinis yang didapat apabila kita nekad memakai kaos seteru. Ada-ada saja ya 🙂

Palm Way di Arizona State University

Palm Way di Arizona State University

Ngomong-ngomong, tahukah anda apa singkatan kampus ini? Yes, lazim disebut dengan ASU. Ini faktor utama saya melarang suami membeli ketika dia terlihat berbinar-binar memandangi kaos collegiate dengan kombinasi warna yang cukup catchy dari kampus ini, maroon dan emas. Alamak, bisa jadi apa kalau suami memakai kaos bertuliskan ASU dan berjalan-jalan di muka umum di Jakarta.

huruf A di bukit kelihatan nggak?

di depan gerbang ASU, “huruf A di bukit kelihatan nggak?”

Kampus ASU juga berjuluk the Sun Devils dengan maskot Sparky seperti yang ada di latar foto di bawah ini. Cocok banget ya, mengingat matahari di kota itu benar-benar gahar.

logo ASU

logo ASU

jembatan ASU

jembatan ASU

Puas berjalan-jalan di lingkungan kampus selama 3 jam, kami pun segera meninggalkan Tempe. Berhubung di kota ini tidak banyak yang bisa dilihat dan juga karena kami berencana mengejar sunset di Sedona, kota tujuan berikutnya.

Tags:
June 11, 2013

Tucson, Arizona

Hal yang pertama dilakukan begitu mendarat di Tucson International Airport (TUS) adalah menuju tempat persewaan mobil. Tentu saja setelah bersua dengan tuan rumah sekaligus teman kami yang telah menunggu di sana. Car rental sudah sangat jamak ditemukan di tiap bandara di US. Berbagai operator rental mobil membuka counter di sini, mulai dari Zipcar, Hertz, Avis, Enterprise, Budget, Thrifty dan masih banyak lagi lainnya. Sebelum trip kami sudah membandingkan harga sebelum memutuskan operator yang menjadi pilihan kami saat itu, Enterprise. Demi penghematan kami menyewa mobil tanpa GPS dan asuransi. Lha, beresiko dong? Tidak juga, kebetulan asuransi mobil teman bisa di-transfer ke mobil sewaan, jadi tidak perlu beli asuransi lagi dari operator. Sedangkan GPS kami dapat dari hasil pinjaman teman dari teman yang tinggal di Tucson. Total jendral rental mobil 14 hari cukup USD 500 sahaja. Lumayan murah mengingat biaya ini dibagi berempat! Pelayanan customer service Enterprise di counter sewa dan pengembalian pun ramah dan menyenangkan. Recommended!

 

 pemandangan umum di Tucson, penuh dengan kaktus

pemandangan umum di Tucson, penuh dengan kaktus

 

pintu masuk museum

pintu masuk museum

Seusai makan siang, kami diajak berjalan-jalan ke Arizona-Sonora Desert Museum. Menengok kaktus katanya. Sepanjang rute menuju museum sudah menampakkan pemandangan ciri khas Tucson Arizona. Semak berduri dan kaktus! Tiket masuk museum ini USD 14.5 per orang. Selain cactus garden, di dalam museum ini juga terdapat kebun binatang dan berbagai jenis tanaman gurun. Cuaca jangan ditanya. Panas luar biasa. Selama kami di Tucson suhu siang hari tidak pernah kurang dari 86 F alias 30 C. Di hari kunjungan kami ke museum itu bahkan berkisar antara 100 – 110 F atau 37 – 43 C. Mari kita kipas-kipas! Di malam hari suhu bisa turun hingga 18 C, labil sekali ya?

diperlukan waktu puluhan tahun bagi kaktus untuk tumbuh setinggi ini

diperlukan waktu puluhan tahun bagi kaktus untuk tumbuh setinggi ini

salah satu kaktus yang memiliki bunga

salah satu kaktus yang memiliki bunga

Mendengar kata kaktus mungkin yang terbayang adalah tanaman berduri tajam berwarna hijau. Tetapi sebenarnya kaktus juga ada yang memiliki semburat warna kuning, oranye atau bahkan merah.

Kaktus yang menjadi ciri khas Sonora desert (padang pasir di mana kota Tucson terletak) adalah Saguaro, jenis yang tumbuh tinggi dan berusia panjang. Saguaro tanpa lengan disebut spear. Umumnya dibutuhkan waktu 75 tahun bagi kaktus untuk mulai memiliki lengan.

Sejauh mata memandang niscaya yang akan ditemui adalah kaktus.. kaktus.. dan kaktus. Tapi sebenarnya di dalam museum ini juga ada area khusus burung. Burung-burung tersebut terbang bebas di sekitar pengunjung. Mereka tidak akan lepas karena ditempatkan di semacam gedung dengan jaring-jaring rapat menyelubungi gedung tersebut. Khusus di area burung tersebut ada berbagai tanaman dan bunga-bunga lain selain kaktus. Bukan cuma itu, bahkan disediakan kolam ikan yang gemericik airnya memberi kesan segar di tengah gurun itu.

 taman kaktus

taman kaktus

 sempat ketemu tarantula juga, lagi jalan-jalan santai

sempat ketemu tarantula juga, lagi jalan-jalan santai

Bagi yang ingin mengunjungi Tucson dan sekitarnya mungkin harus bersiap-siap dengan pakaian yang nyaman dan menyerap keringat, sunblock (SPF minimal 50) dan banyak-banyak air putih supaya tidak dehidrasi. Untung saja di dalam museum ini disediakan banyak spot tap water. Walau minum cukup banyak, saya sama sekali tidak ingin buang air kecil. Ngeri sendiri membayangkan apabila saya tidak minum.. Dehidrasi mengancam.

Garangnya sinar matahari juga merupakan ancaman tersendiri. Di hari pertama ini kami tidak sempat mengoleskan sunblock karena begitu mendarat langsung berjalan-jalan. Akibatnya bagi kulit ternyata cukup fatal. Bagi kulit sensitif, cahaya matahari yang intens seperti itu bukan hanya membuat kulit terbakar. Kalau efeknya ke orang bule mungkin hanya merah sesaat lalu beberapa hari kemudian kembali seperti semula. Kulit Asia saya dan suami lebih ribet lagi urusannya. Sudah kelam, di beberapa spot terasa gatal dan agak pedih kalau kena air. Alhasil beberapa hari berikutnya frekuensi oles-oles body lotion dipersering.

museum in panoramic view

museum in panoramic view

 

Setelah puas berkeliling museum, kami lanjut ke lokasi berikutnya: supermarket. Jangan salah sangka dulu, bukan hendak shopping oleh-oleh atau semacamnya tapi hendak membeli keperluan road trip semacam: rice cooker, beras, indomie, telur, kecap, saos sambal dan lain-lain. Lho, buat apa? Rencana road trip yang cukup lama lumayan menghabiskan biaya. Salah satu budget yang bisa dihemat adalah budget makan. Jadi untuk sarapan dan makan malam, cukup masak ala kadarnya di hotel, budget makan bisa dialokasikan hanya untuk makan siang saja.

Untungnya di sini ada supermarket Asia yang sangat besar. Berbagai jenis makanan impor ada di sana, bahkan dari Indonesia pun banyak. Sepanjang road trip 15 hari, saya dan suami berbekal satu kardus Indomie isi 30 hanya bersisa 2 hingga kami pulang! Tuh, lumayan hemat kan 🙂

Esok harinya tak lupa kami melakukan wisata kampus dengan mengunjungi universitas yang ada di Tucson, the University of Arizona. Herannya, universitas ini tidak banyak dijumpai mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Selain teman kami, hanya ada 2-3 orang lagi yang berkuliah di sini. Mungkin setelah melihat kondisi iklim di sini, langsung mundur teratur.

 tapi bukan native American women beneran lo!

tapi bukan native American women beneran lo!

Kampus UoA ini lumayan luas dan.. gersang! Di mana-mana bebatuan dan pasir lengkap dengan beberapa kaktus. Sebenarnya masih ada banyak tanaman hijau sih, tetapi hawa yang terasa saat itu hanya panas, karena sama seperti hari sebelumnya, hari ini matahari juga sedang sale besar-besaran, dan mungkin juga karena tidak ada angin bertiup.

siapa mau sekolah di siniii? pencinta panas tentunya

siapa mau sekolah di siniii? pencinta panas tentunya

Tags: