June 22, 2018

Kerja Kelompok – The Review

Heya! Kali ini saya mau sedikit curhat tentang pengalaman ngerjain tugas berkelompok alias group work. Empat semester sudah, kira-kira udah khatam lah ya dengan serba-serbi berbagi hati tugas. Konon, walaupun yang namanya ngerjain tugas kelompok itu sudah ada…

1

Tapi yang namanya pembagian peran selalu ada. Ngaku hayo, siapa yang pernah ambil bagian jadi mas-mas paling depan kayak ini?

2.png

Pernah ada kejadian, sang pelaku bilang mau ngerjain bagian Introduction. Begitu menjelang deadline eh dia ngilang! Tinggal kita kebingungan soal..

3.jpg

Udah gitu pas diajak meeting pagi-pagi jam sepuluh, eh

4

Padahal ngakunya..

5

Payah emang. Meeting sampe tengah malam pun dia ogah, gara-gara

6

YHAA! Baiklah, qaqaaa. Kadang

7

Dan pengen bilang

8

Walaupun konon ada temen yang keukeuh bilang..

9

Rasa-rasanya…

10

Ah biarlah. Yang penting..

11

Sumber gambar: Facebook page Qasidah Memes for All Occassions dan 9gag

June 2, 2018

Musim Gugur dan Sepeda Pinjaman

Alkisah di suatu hari libur di musim gugur, Ica ngajak saya muter-muter naik sepeda. Berhubung saya udah lama banget ngga sepedaan, saya mau-mau aja. Tapi ya, baru juga gowes beberapa ratus meter trus saya udah kehabisan napas, masaaaa. Sementara si Ica dengan santainya melaju jauh di depan.

Sedih. Hiks.

Sampai pada akhirnya pas kita berdua ngelewatin sebuah dinding yang dirambati daun-daun cantik dan ada dua mbak-mbak lagi foto-foto di situ, saya semangat gowes buat ngejar Ica

“Ca! Caaa!”

“Hiiii mbak Put pasti deh minta difotoin di situ.”

Eh dia tau aja, hihihi.

Walopun mencela, Ica tetep baik juga. Dia nawarin foto pake sepedanya yang tampilannya lebih terawat, bersih dan feminin. Maklum, sepeda saya itu lungsuran dari teman cowok yang modelnya gagah luar biasa. Ga ada feminin-femininnya sama sekali.

IMG_E0413

Tiap nemu area yang bagus trus Ica berhenti dan memandang saya dengan tatapan curiga dan sedikit meledek

“Mau difotoin?”

Yang tentu saja ngga dilewatkan oleh si mbak-mbak narsis satu ini, dan tetap pake sepeda pinjaman.

IMG_E0426

Dan kejadian yang sama terulang lagi minggu depannya. Sepedaan sore-sore, lewat taman, foto-foto, trus sepeda yang dipake itu minjem pula.

IMG_E0462

Ya begini inilah kalo yang namanya narsis ngga modal 😀

June 1, 2018

My Random Friend

Temen saya itu rata-rata ajaib. Ada yang suka nanya hal yang tak terduga, ada yang suka kepikiran hal ga lazim, trus ada juga nih makhluk satu ini yang jarang buanget pasang WhatsApp story trus sekalinya pasang malah beginian.

IMG_0453

Trus percakapan selanjutnya bikin seneng dan hati berbunga-bunga 😀

IMG_0454

She has no idea how this simple message really made my day. 

IMG_0455

And never I thought that someone think in this way about me. How sweet!

IMG_0456

The friendship that I will cherish, even after my Melbourne study period has finished. 

May 31, 2018

Banda dan Cerita Buat Dien Tamaela

Kalau postingan kemarin terkait dengan Bhinneka, blog post kali ini bernuansa OZIP Magazine, walaupun dua-duanya sama-sama terkait dengan Indonesian Film Festival (IFF) Australia. See, I’m truly grateful having these kind of experience, participating in the special event while wearing two different hats: as a dancer and a journalist.

Di awal bulan April lalu udah ada woro-woro penugasan buat liputan, masing-masing jurnalis disuruh pilih salah satu film yang pingin ditonton. Ga cuma itu, si jurnalis juga berhak bawa satu temen buat nemenin. Pinginnya sih ngegandeng suami, eh apa daya kita LDR alias long distance relationship, bukan lho dikira relationship.

Bulan April dan Mei itu bulan-bulan asyik masyuk buat mahasiswa Melbourne. Masyuk sama siapa? Ya jelas sama perpustakaan lah, wong biasanya deadline assignment itu kayak cewek-cewek kalo mau ke toilet: maunya ditemenin. Jadi bisa aja tuh sehari ada dua deadline barengan datangnya. Makanya, pas dapat tawaran ngeliput itu saya bukannya seneng, malah senep. Dengan seksama dan hati-hati saya pilih tanggal yang ga ada deadline, ga ada presentasi, ga ada group meeting, ga ada apa-apa deh. Masih untung nentuinnya ga pake ngitung weton segala.

IMG_E0451.JPG

Terpilihlah sebuah film berjudul Banda, film kedua yang diputar hari Sabtu, 28 April 2018. Dan terpilihlah seorang teman yang bisa saya seret ikut nonton bareng, tak lain dan tak bukan adalah Ica. Begitu datang di lokasi, saya bilang ke panitia bahwa saya dari OZIP ternyata trus langsung digiring ke photo booth dan kita berdua dijepret sebanyak tiga kali. Dipesenin juga buat datang ambil hasil fotonya pas akhir acara. Tuh, foto yang di atas itu tuh. Unik ya?

Banda the Dark Forgotten Trail adalah sebuah film dokumenter yang mengupas kepulauan Banda, mulai dari kekayaan sumber daya, budaya, sampai dengan keindahan alamnya. Narasi sejarah tersebut dituturkan dengan apik oleh Reza Rahardian, membawa penonton terpesona dalam gambar demi gambar yang bercerita tentang banyak hal.

Salah satunya adalah fakta bahwa di abad ke-17, Banda memiliki kekayaan yang nilainya melebihi emas, yaitu pala.  Berguna sebagai penambah rasa masakan, pengawet makanan, bahkan sampai obat, kemahsyuran buah ini mengundang perseteruan bangsa-bangsa Eropa untuk meneguhkan posisi di Banda. Kisah pun bergulir, salah satunya tentang beberapa tokoh besar Indonesia seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Dr Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri yang diasingkan ke Banda Neira.

Trus apa hubungannya dengan Dien Tamaela, nama yang disebut di judul blog post ini? Hubungannya adalah: nama Dien Tamaela disebut-sebut di penghujung film, bagian dari puisi Chairil Anwar yang berjudul Cerita Buat Dien Tamaela. Berkisah tentang semangat dan keberanian pemuda Maluku, Chairil mampu menggambarkannya dengan sempurna walaupun tak sedetik pun ia pernah menjejakkan kaki di Maluku.

Asli, Banda ini film yang menarik banget. Walaupun berjenis dokumenter, film ini ga ngebosenin dan berhasil membuat mata saya terpaku di layar terus-terusan buat menikmati adegan demi adegan yang disajikan.