February 15, 2019

Happiness Formula

“How much do you rate your happiness level from 1-10 scale?” her eyes meet mine. 

“Uhm.. 8,5 or 9, maybe” Me. Answering the question steadily.

Demikian cuplikan diskusi dengan Ms. F, seorang konsultan yang rutin datang ke kantor untuk menerima curhatan-curhatan kami semua. Kisah tentang beliau udah pernah saya singgung sedikit di blog post yang ini nih.

Kali ini dengan sabar beliau menanyakan semua aspek dalam hidup saya mulai dari project yang saya pegang, hubungan kerja dengan tim, klien, atasan dan lain-lain. Trus beranjak ke pembicaraan mengenai suami, saudara kandung dan ipar. All is good, I said.

Kebetulan beberapa hari sebelumnya saya sempet bilang ke suami saya

“Aku tadi mikir, hidupku ini cukup banget. Rumah ada. Makan bisa aja milih-milih mau makan apa. Kerjaan.. ada. Suami yang sayang dan aku sayang juga ada. Pas. Ga berlebih.”

Hal yang sama juga saya sampaikan ke Ms. F

“Saya merasa beruntung karena.. Suami ada. If I have a bad day, saya tinggal pulang lalu pas tidur minta dipeluk suami. Langsung perasaan yang ga tenang atau banyak pikiran jadi hilang. Trus juga kalau mau makan, mau milih makan apa juga terserah saya. Kopi, apa lagi. My happiness is coffee, book and traveling.”

Ms. F langsung mencatat di laptopnya sambil bergumam.

“Hmm.. interesting. No wonder your happiness level is high coz you’ve found your happiness formula. Maybe it’s time for me to seek one.”

Yep. My happiness formula is so simple and easy: coffee, book, traveling.. and of course: HUSBAND.

February 10, 2019

Terkapar di Lorong Toilet Gandaria City

Gimana, judulnya udah cukup click bait belum? Buktinya kalian pada baca postingan ini.. Ngaku deh, pasti karena penasaran sama judul khan? Tapi judul itu beneran nyata, bukan hal yang dikarang-karang cuma demi nambah jumlah pembaca blog.

Jum’at malam lalu, seperti biasa, saya dijemput suami dari kantor buat langsung nonton di Gandaria City. Sebelum nonton, kita makan malam dulu di Thai Street. Di sinilah petaka yang tidak saya sadari bermula. Jadi memang sejak lahir saya mengidap alergi udang dan kepiting akut. Setiap makan cuplikan udang, bahkan cuma makan sesuatu yang digoreng dengan minyak yang sama dengan gorengan udang aja udah bikin gatal dan panas seluruh badan.

Tapi makin berumur trus saya penasaran banget dengan rasa udang dan kepiting yang kata orang itu enak. Akhirnya pelan-pelan saya colek deh tuh udang dan kepiting, tapi dengan catatan setiap habis makan saya selalu langsung nenggak incidal, sebuah merek obat alergi. Berhasil, lama-lama tanpa incidal pun saya bisa bebas makan udang dan kepiting.

… Ternyata tidak berlaku buat soft shell crab-nya Thai Street…

Tiga puluh menit setelah makan, saya dan suami jalan-jalan di Gramedia. Di sini mulai berasa telapak tangan saya gatal. Dalam hati mbatin

“Wah, tangan kok gatel ya. Apa mo dapet duit?”

Pas lagi asik garuk-garuk telapak tangan, tiba-tiba terasa daun telinga panas, leher gatal dan muka saya terasa aneh. Paham lah saya.. Ini serangan negara api. Langsung saya menggamit suami buat keluar dari Gramedia secepatnya dan cari toko obat buat beli incidal. Saya bawa stok sih sebenernya, cuma gara-gara ketiban ini itu trus si incidal yang mungil itu jadi remuk ga berbentuk.

Di Century ternyata ga jual incidal. Pasrah, saya akhirnya menenggak incidal tanpa bentuk dalam bentuk bubuk itu. Saya bilang ke suami kalo mau ke toilet sebentar, dan dia pun bergerak cepat nyari toko obat lain. Ternyata dia ga nemu incidal, tapi berhasil dapat versi generiknya: cetirizine.

Begitu keluar toilet, lutut saya udah terasa ga bertulang, lemes banget. Waktu suami menyodorkan cetirizine pun saya ngga punya tenaga buat nerima obat dan buka plastiknya. Iya, separah itu. Saya cuma bisa berbisik

“Bukain. Ambilin air minum dari tas. Aku ga kuat.”

Untung aja di lorong toilet itu ada bangku agak panjang. Tanpa pikir panjang lagi saya rebahan di bangku itu. Ga peduli orang berlalu lalang ngeliatin ini kenapa kok ada mbak-mbak tidur di sini. Saya udah terlalu lemes.

Suami sempat mengusulkan buat tidur di dalam bioskop aja, toh film akan dimulai 10 menit lagi. Memang kami udah pegang tiket nonton buat film jam 21.50 WIB dan saat itu udah jam 21.40 WIB. Tapi kemudian datanglah satpam Mal. Kayaknya dia udah dapat laporan bahwa ada orang nyaris pingsan di situ, jadi si pak Satpam ini ngajakin kami ke Ruang Sehat Mal. Awalnya dia nawarin mau dorong pake kursi roda. Tawaran yang saya tolak karena saya masih kuat jalan kalo lokasinya ga jauh. Kata si bapaknya sih ga jauh. Yasud, kita ngikut dibawa dia ke Ruang Sehat.

Begitu nyampe, ternyata modelnya kayak UKS sekolahan gitu. Begitu lihat ada tempat tidur saya berbinar-binar.. Langsung deh buka sepatu trus tidurrrr…

Sumpah itu begitu menggeletak di tempat tidur saya langsung ilang.

Beberapa saat kemudian saya denger ada orang ngobrol, yang ternyata adalah bapak Satpam Mal dan suami saya. Jadi selama saya tidur itu suami saya nungguin efek sakit dan obat dengan sangat sabar. Nungguin saya kelar sekolah dua tahun aja dia sabar, apalagi nungguin 30 menit, ya ga?

Pas udah kebangun itu saya merasa agak kuat buat melangkah dan menempuh perjalanan pulang dengan motor. Tadinya sempet kuatir juga, takut masih nggliyeng trus malah jatuh di jalan. Tapi untungnya sih udah pulih, walopun belum 100%.

Efek kambuh dan obat alergi ternyata ga cuma sampai di malam itu. Keesokan harinya praktis saya ngga bisa ke mana-mana karena… NGANTUK berat. Ga tau itu apakah gara-gara over dosis obat alergi (khan saya sempet nenggak setengah remah-remah incidal plus sebutir cetirizine) atau memang karena sakitnya.

Seingat saya, terakhir kali saya kambuh separah itu adalah saat SMA, di mana itu udah DUA PULUH TAHUN lalu. Gile, tua amat ya saya.  Paling engga, kambuhnya alergi kali ini membuat saya lebih berhati-hati lagi untuk selalu mengecek stok obat alergi di dalam tas. Jangan sampai obat remuk tak berbentuk masih juga dibawa-bawa. Untung kemarin itu masih nemu cetirizine, kalo engga, wah mungkin malam itu saya berakhir di rumah sakit. Fiuh.

February 5, 2019

The Tattooist of Auschwitz: A Novel

Saya bingung dengan kemampuan baca saya, kadang bisa baca berhari-hari, berpekan-pekan atau malah hanya dalam 6 jam saja. Buku ini contoh kategori terakhir: saya pinjam dari perpustakaan hari Sabtu malam, eh ternyata Minggu malam udah kelar dibaca. Whew.

Mungkin juga karena faktor bahasa yang tidak terlalu rumit plus ceritanya menarik sih yang bikin ga bisa lepas dari buku ini. Dan mungkin karena faktor ke-Melbourne-an juga. Trus pasti pada bingung deh apa hubungan antara Melbourne sama Auschwitz, dasar si mbaknya ini snob.

Jadi gini, Heather Morris si penulis novel ini adalah warga negara New Zealand yang sekarang bermukim di Australia, tepatnya di…. Melbourne lah. Mana lagi? Trus di Melbourne ini juga dia ketemu sama Ludwig Sokolov alias Lale, seorang mantan tahanan Auschwitz.

Awalnya ga mudah tuh buat meyakinkan Lale curhat tentang masa lalunya. Tapi toh akhirnya Morris berhasil membuat Lale buat berbagi cerita dan setuju untuk membiarkannya ditulis menjadi screenplay dan kemudian dalam bentuk buku. Ga sia-sia, buku ini bertengger di deretan atas The New York Times selama 20 minggu. Pencapaian luar biasa buat penulis yang sebelumnya sama sekali belum pernah menulis apapun.

Sekarang kembali soal kisah di dalam bukunya. Seperti tercermin di judul, buku ini bercerita soal Lale sendiri, seorang tukang tato tahanan di Auschwitz. Hari demi hari dilalui Lale dengan kengerian luar biasa. Bahkan sempat diceritakan ia bertemu mata langsung dengan Josef Mengele. Pernah denger soal Mengele? Googling gih.

Set the gruesome and cruel story aside, Lale focused on how he saw, seek and then had relationship with his love of lifetime: Gita. Later on they got married and live happily ever after.

Kisah dalam buku ini bukan berarti nyata lho, beberapa kritikus menuduh bahwa beberapa detil dalam novel ini dibuat-buat, hasil karangan Morris semata. Well, apapun itu, buku ini lumayan kok buat menghabiskan waktu ketimbang mantengi twitwar. Ya ga?

Tags:
February 3, 2019

Autonomous Weapon – will it be our future?

Disclaimer: I haven’t read this book, despite the fact that I want to. I stumbled upon this title on (as usual) Bill Gates’ blog. He picked up this book: Army of None: Autonomous Weapons and the Future of War by Paul Scharre as one of his favourites. Reading the synopsis then brings me back to a year ago, one of the most difficult time during my school year in University of Melbourne.

In my third semester, I took one subject titled Impact of Digitisation which learn anything about effect of technology on daily life, be it on social life, marriage, work, health care even on crime! When the lecture assigned us to write an essay on whatever topic we like, I purposefully choose the impact of Artificial Intelligence on war. Decision that I regret.

Why? Simply because I was too attached to the issue.

Below is the excerpt from my essay:

The development of Autonomous Weapon Systems (AWS), although the technology does not exist yet, has raised the ethical and moral issues. These potential future weapons have garnered attention and invited debate amongst the high-profile leaders. Autonomous means that once activated, the system will perform a task on its own. This triggers the research questions whether and to what extent dehumanisation takes place in the process and what actions should be taken to prevent this from happening. Based on the analysis, the negative impacts outweigh the positive values. Therefore, support from society and strong policies are required.

The key is: dehumanisation. During the writing process, I can’t stop thinking on how the advancement of autonomous weapon systems has shifted the weapon machine operation from automatic technology to autonomous.

The journals, the book chapter, the videos all presented on how cruel human can be. Can you imagine on the real war, when we employ the autonomous weapon, it will perform no judgement on situation. The further the distance, the lesser psychological impact on the life-taker due the detachment of the actor from the consequences. 

Interestingly, the more I dislike the subject, the more it intrigues my curiosity on it. Thus, I put this title as the next-book-to-read.