June 13, 2020

Menonaktifkan Media Sosial

Biasanya dalam kondisi tertentu saya akan meminimalisir buka-buka sosmed yang nagih itu, terutama kalau kerjaan lagi banyak-banyaknya. Begitu juga dua minggu lalu, kebetulan di kantor sedang ada project yang cukup signifikan menyita perhatian. Jadi deh saya nonaktifkan Instagram dan Facebook. Khusus buat Facebook, saya akhirnya mengaktifkan lagi karena: butuh login ke Goodreads buat cari buku. Dulu memang bikin akun Goodreads pake Facebook karena malas mengingat-ingat password baru. Jadi ya gitu, kalo pas lagi butuh review buku, si Facebook-nya juga harus aktif.

Ada gunanya juga sih saya deaktivasi akun, karena trus jadi lebih fokus buat baca buku. Terbukti dalam 2 minggu saya berhasil menyelesaikan 3 buku:

  1. Psych101: A Crash Course in the Science of the Mind 
  2. HBR’s 10 Must Reads on Strategy 
  3. Value Proposition Design

Cerita dikit deh tentang buku-buku ini ya.

Psych 101: A Crash Course in the Science of the Mind

Kalo kamu tertarik dengan psikologi buat sekedar tahu, buku ini akan berguna sebagai teaser, pembuka. Makanya dikasi judul Crash Course, karena isinya memang singkat. Di buku ini dijelaskan soal teori-teori psikologi yang terkenal, termasuk sedikit latar belakangnya. Karena singkat, kadang-kadang ada kasus yang merangsang rasa ingin tahu dan membuat saya mencari penjelasan lebih jauh. Contohnya: Stanford Prison Experiment.

Di tahin 1971, ahli dari Stanford University mengadakan penelitian untuk mengetahui perilaku dasar manusia, apakah sebenernya kita sebagai manusia normal mampu bertindak di luar batas kemanusiaan apabila ditempatkan dalam kondisi tertentu. Mengambil subyek penelitian dari 24 mahasiswa baik-baik, para sukarelawan ini dibagi menjadi dua kelompok. Ada yang kebagian menjadi penjaga penjara, ada juga yang menjadi tahanan. Situasi dan kondisi dibuat persis sebagaimana kondisi penjara aslinya, termasuk perlakuan, kekerasan dan pelecehan terhadap tahanan.

Di luar dugaan (atau malah sesuai dugaan?), penelitian ini mengakibatkan hasil yang tidak menyenangkan. Saking buruknya efek yang ditimbulkan, sampai-sampai penelitian ini dihentikan setelah enam hari. Jelas prematur, karena awalnya kondisi ini dirancang untuk dijalankan dalam dua minggu. Hiii.. Ngeri.

Stanford Experiment ini cuma salah satu cerita yang dikisahkan, masih banyak penelitian lain yang ditulis walaupun (lagi-lagi) benar-benar singkat.

HBR’s 10 Must Reads on Strategy 

Dulu sewaktu kuliah, saya sudah familiar dengan artikel-artikel Harvard Business Review. Berkualitas, saking tingginya kadang-kadang saya sampai ngga paham, hahahaha! Tapi saya suka, karena menambah kemampuan kosakata. Tahu sendiri khan bahasanya Harvard gimana, banyak vocab aneh yang tidak jamak ditemukan. Minggu lalu saya kebetulan ngecek website Periplus dan melihat buku-buku HBR didiskon sampai 50%. Langsung saja saya sambar satu; ya si On Strategy ini.

Ngga gampang menyelesaikan bacaan ini, karena baca satu kali kadang ngga ngerti. Apalagi tulisannya Michael E. Porter, sang Bapak Manajemen. Pemaparannya selalu panjang, dilengkapi dengan boks-boks khusus untuk memperjelas poin-poin yang disampaikan. Jujur, kalau baca tulisan yang ada boks-boks gitu kadang bikin perhatian saya teralihkan. Alih-alih membaca tulisan utama, saya jadi baca boks, trus pas balik lagi ke tulisan utama saya sudah lupa lagi itu lagi bahas apa.

Tapi berkat kenyataan jarang main sosmed, akhirnya berhasil juga selesai bacaa.. Hahahaa.. Happy sekali saya.

Value Proposition Design

Sekarang masuk ke buku ketiga yang dibeli tanggal 19 April 2020 dan baru sampai 6 Juni 2020. Wha, lama amat? Iya, soalnya beli di Book Depository dan dikirim dari UK. Website-nya Book Depository sih bilang katanya kalo barang yang di-dispatch dari UK cuma butuh waktu 7-10 hari, tapi ada kemungkinan terlambat gara-gara Covid-19. Dan dugaan saya sih mungkin proses di bea cukainya juga memakan waktu yang lumayan. Masih untung sih buku ini ngga kena pajak, jadi jatuh-jatuhnya harganya jauh lebih murah daripada kalo beli di toko buku Indonesia.

Buku ini tentang apa sih? Menarik banget lho buat yang pengen ngebangun bisnis sendiri. Karena di sini dibahas soal Business Model, how to identify your business’ key points, trus juga dikasi template buat mengaplikasikan.

Ya, kurang lebih demikian ya Bapak-bapak dan Ibu-ibu.. Cerita singkat soal buah dari ngga main sosmed. Lumayan menghasilkan juga ternyata, hihihi..

June 2, 2020

Playlist 90-an

Di awal dekade 90-an dulu saya penggemar akut radio. Awalnya gara-gara sejak kelas 6 SD mulai dikasih kamar sendiri. Kesenengan deh tuh atur-atur interior kamar, ngebikin ada pojok bobok, area main, meja rias dan yang paling berkesan: sudut komik dan radio! Aduh, sampai sekarang saya masih bisa ngebayangin kamar lama saya dulu.

Kelas 6 SD juga merupakan titik awal saya di mana mulai ngerasa kayak orang gede. Udah punya make-up sendiri yang mereknya Puteri, keluaran Mustika Ratu. Yaelah namanya anak SD make-up nya apa sih, sebenernya ya cuma pembersih, penyegar dan bedak. Plus bedak badan, pengharum tubuh dan body lotion. Aih, dibeliin begitu aja saya senang bukan main.

Pulang sekolah biasanya saya suka bercentil-centil ria di depan cermin, pakai pembersih dan penyegar lalu siap-siap tidur siang sambil: denger radio! Paling seneng kalau pas hari itu ga ada jadwal les, Pramuka atau latihan drum band karena berarti bisa denger radio seharian. Kelas 6 SD itu saya belum kenal bahasa Inggris sama sekali. Jadi kalo denger penyiar radio bilang

“Salam dari Anik buat someone.”

atau

“Duh, salamnya spesial buat someone”,

Itu membuat saya bertanya-tanya “Siapakah gerangan si Samwan ini? Kenapa semua orang kirim salam buat dia?”

Kalau diingat-ingat sekarang mah lucu dan bikin geli sendiri ini mah. Lucu-lucu gini, masa-masa itu ngangenin buat saya. Makanya trus belakangan ini saya hobi banget dengerin lagu-lagu 90-an untuk sekedar melepas rindu. Playlist yang sudah saya susun di Spotify bisa di-klik di sini

Jujur, beberapa lagu bukan hanya mengingatkan masa-masa pra ABG dan remaja, tapi lebih ke pengingat tentang orang tua. Lho kok bisa? Iya, Mama saya dulu bukan tipe kekinian, tapi beliau tahu kalau saya suka banget denger musik di radio. Pernah di suatu masa pas saya pulang sekolah tiba-tiba di meja belajar saya sudah tergeletak 3 kaset. TIGA SEKALIGUS. Tanpa note, tanpa ucapan atau kata-kata apapun, tapi saya tahu kalau itu dibelikan Mama.

Kalian punya kenangan juga ngga dengan lagu 90-an? Atau jangan-jangan malah belum lahir?

June 1, 2020

Akhir Pekan Panjang

Tulisan curhat kesal saya yang kemarin akhirnya saya putuskan untuk dikembalikan jadi draft saja. Selain karena sudah puas, sudah menceritakan kejadian yang mengesalkan, juga terus terang saya takut kena kejadian yang tidak mengenakkan… If you know what I mean.

Sekarang beralih ke topik lain, cerita tentang beberapa hari belakangan ini. Walaupun sedang work from home, saya tetap senang kalau akhir pekan atau ada hari libur. Ya jelaslah karena kalau hari kerja, pekerjaan tetap ditagih, meeting tetap dijadwalkan, follow up sana-sini juga tetap gencar.

Akhir pekan ini berbeda, saya dikasih teguran berupa sakit. Dan ngga tahu kenapa, sakitnya dimulai persis pas Jum’at malam. Jum’at sore saya ngerasa kepala agak sakit. Hanya sakit di satu titik tapi mengganggu sekali. Gara-gara itu juga saya langsung tutup laptop begitu jam 18.00 teng. Selain sakit kepala terpusat, saya juga terus-terusan bersendawa. Tahu khan rasanya, serasa penuh gas dan ngga nyaman.

Malam itu juga saya minum obat maag dan paracetamol lalu pergi tidur dalam keadaan pusing. Jam 2 pagi, saking sakitnya kepala, saya terbangun dan beranjak ke dapur. Karena masih pusing jadi saya minum paracetamol lagi. Pas mau balik ke kasur tiba-tiba mual menyerang yang akhirnya berujung pada jackpot. Keadaan masih memburuk sampai 2 jam kemudian, di mana saya total minum 2 paracetamol dan obat maag lagi. Kenapa sampai 2? Karena persis sehabis minum obat tiba-tiba saya mual dan jadinya obat itu keluar lagi.

Yoga yang ikut bangun juga akhirnya jadi membantu dengan cara: ngerokin pagi-pagi buta! Hahahaha, jadi dia ngantuk-ngantuk gitu sambil ngolesin minyak kayu putih dan gosok-gosok punggung saya. Jam 4 pagi itu akhirnya titik yang sakit di kepala itu hilang total kalau berdiri. Anehnya, sewaktu saya berbaring titik itu masih terasa nyeri. Sumpah rasanya ngga enak banget. Dan rasanya sudah lama sekali saya ngga merasa sakit seperti ini. Memang ya kadang-kadang kesehatan itu you take it for granted. Begitu ada bagian tubuh yang ga beres baru deh kerasa.

Walaupun terasa ngga nyaman kalau berbaring, saya paksakan juga tidur. Mau gimana lagi, masa mau berdiri sampai pagi? Beberapa jam kemudian, di Sabtu paginya, saya bangun dan merasa senang karena sakit di kepala saya hilang sama sekali. Wow, ini benar-benar hal yang saya sangat syukuri.

Kalau diingat-ingat, saya ngerasa biasanya kalau sakit tuh selalu pas di saat libur. Begitu juga kali ini, untung saja sakit totalnya tepat di awal akhir pekan panjang jadi saya bisa istirahat yang lama.

Bagaimana dengan akhir pekan kalian? Semoga jauh lebih menyenangkan daripada saya ya 😀

May 17, 2020

Di Masa Karantina

Sebenernya bingung sih mau cerita tentang apa, lha wong keseharian isinya kurang lebih sama. Sahur, tidur, kerja, buka, tidur lagi. Kurang lebih begitu kalau mau disimplifikasi. Mungkin yang beda dari tahun-tahun sebelumnya cuma kenyataan bahwa semua aktivitas kali ini dilakukan di dalam ruangan mungil 33 meter persegi.

Walaupun kecil dan seadanya, Alhamdulillah ruangan apartemen ini bisa mengakomodir kebutuhan kami berdua. Ngga ada yang kurang dan ga lebih. Jujur, beberapa bulan lalu saya sempat merasa tergiur untuk upgrade lifestyle dengan mengambil unit apartemen agak ke tengah kota. Kalo sekarang khan di Kalibata nih, pengennya sih pindah ke Mampang atau Duren Tiga gitu. Makin dekat ke tengah kota, ngga signifikan memang tetapi secara lingkungan akan jauh lebih gaya.

Secara hitung-hitungan memang masih masuk, dan harusnya terjangkau oleh kami berdua. Waktu itu akhirnya saya memutuskan buat nanti-nanti aja deh follow up beli apartemennya, toh saya juga baru pindah kerja dan belum diangkat jadi pegawai tetap.

Selang beberapa bulan kemudian ternyata pandemi ini menerpa. Padahal saya masih dalam masa probation di kantor baru. Tahu sendiri khan, di masa sekarang ini perekonomian sedang melemah. Saya kuatir terkena dampaknya secara langsung, alias di-cut begitu saja dari kantor. Untung kekuatiran saya tidak terbukti, bulan lalu saya dinyatakan lulus masa percobaan dan menjadi karyawan tetap.

Sekilas pernah baca ada yang cerita tentang temannya yang bergaji 80 juta dan kena layoff. Hidupnya langsung berantakan karena punya cicilan rumah dan cicilan mobil mewah. Membaca berita itu jadi sedikit terhenyak, itu bisa saja kejadian di saya kalau waktu dulu tanpa pikir panjang langsung grasa grusu mau upgrade gaya hidup. Untung saja dulu itu ngga sembrono untuk DP, langsung ambil cicilan ini itu. Ada gunanya juga mager dan kebanyakan mikir “gimana kalau..”.

Sekali saya pernah chat dengan adik saya, dia sempat komentar

“Wah tapi kamu sama mas Yoga itu sama ya mbak, ngga suka yang aneh-aneh. Gaya hidup biasa saja, ngga neko-neko.”

Wah dia ngga tahu aja niat mbaknya beberapa waktu sebelumnya, hahahaha.

Di masa begini juga bukan saatnya buat tengok-tengok hasil investasi. Beberapa minggu lalu saya dapat laporan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) BRI, yang hasilnya tentu saja anjlok habis-habisan. Kenapa kok pakai DPLK BRI? Karena itu kantor pertama di mana masa kerja memang paling lama. Dan sebelum resign dulu memang saya buka satu akun tambahan yang isinya 100% ke saham. Jadi jangan ditanya lagi, sudah pasti turun sampai 30%-an.. Atau lebih ya. Mending berapa persennya itu dilupakan saja. Harapannya, setelah pandemi ini hasil investasi bisa kembali membaik. Kalo Yoga bilang sih, masa-masa resesi semacam ini adalah waktu yang tepat untuk mengecek kembali apakah pos-pos investasi yang sudah kita lakukan selama ini sesuai dengan ekspektasi kita atau tidak. Ok, saya ngikut aja deh..

Kalau tadi udah bahas soal investasi, sekarang lebih ke konsumsi. Belakangan ini saya jadi rajin banget belanja online, terutama makanan. Beragam restoran, kedai kopi dan usaha rumahan saya coba. Ada yang lewat Tokopedia, Shopee, atau bahkan pesan biasa melalui WhatsApp. Sebenernya selain karena saya ga bisa masak, juga sebagai usaha untuk membantu usaha kuliner juga sih. Bukan cuma restoran yang berlokasi di Jakarta saja, bahkan ada yang dari Semarang juga saya pesan! So far sih baru satu kali kecewa, pesan nasi bakar yang ternyata nasinya pera dan keras banget, huhuhu..

Mengingat masa karantina juga bikin banyak orang kehilangan sumber pendapatannya, maka saya pun jadi lebih aktif berkontribusi dalam kegiatan donasi sesama baik kolektif maupun individu daripada sebelum ini. Tapi dasar namanya ngga mau rugi ya, di akhir bulan akhirnya saya minta ganti dari suami saya, alasannya duit dia kan emang lebih banyak dari saya dan saya bilang ke dia, “gapapa, nanti itu akan masuk dalam hitungan amal ibadahmu” hihihi. Trus Yoga akhirnya cuma nginyem. Batinnya “siapa yang mau beramal, duitnya siapa yang dipake”

Fiuh, kayaknya udah cukup panjang lebar juga saya ngoceh kali ini. Ntar kapan-kapan disambung lagi deh, kalau memang sempat. Semoga kalian semua yang baca tulisan ini baik-baik dan sehat ya.