November 8, 2019

Mimpi yang Tercapai

Belakangan ini entah kenapa beberapa akun Instagram yang saya ikuti sedang update story dan post sedang di New York City. Ada yang sedang magang, ada yang ikut suaminya sekolah di Amerika dan lagi bertandang ke NY. Ada juga yang ikut NY Marathon.

Melihat semua update kisah hidup itu bikin saya senyum sendiri. Tidak ada iri atau cemburu sama sekali, malah saya ikut bahagia. Saya ingat rasanya waktu pertama kali menginjakkan kaki di Amerika. Surreal! Lalu saya teringat, ternyata doa dan impian saya di masa kecil terwujud semua.

Punya suami baik. Checked.

Mengunjungi New York City. Done.

Kuliah S2 dengan beasiswa. Sudah.

Tinggal di luar negeri. Dua kali malahan.

Kebetulan di hari yang spesial ini saya punya satu keinginan yang belum tercapai: semoga adik bungsu saya mendapat pekerjaan yang baik dengan posisi yang bagus dan hidupnya bahagia selalu. Ingin yang saya pintakan tepat di hari ulang tahunnya.

Happy birthday, my dearest brother!

October 19, 2019

Lari dan Nari

Memang terdengar klise, tapi beberapa minggu belakangan ini saya merasa lebih happy dan bersemangat karena aktivitas fisik. Lupa deh dulu awalnya gimana, tiba-tiba saya pengen aja lari ke Gelora Bung Karno (GBK) buat sekedar jalan-jalan. Ngga mau sendirian, saya nyeret Yoga yang pasrah aja digeret ke mana-mana. Diwarnai dengan skeptisnya dia

“Emang mau ngapain di sana?”

“Bukannya rame? Emang enak di GBK?”

“Kamu emang bisa bangun pagi”

Dan seribu pertanyaan yang khas dia banget. 10 tahun bareng dan 8 tahun nikah ternyata lumayan membiasakan diri saya atas pertanyaan dan tanggapannya yang realistis, kalo ngga mau dibilang skeptis.

Cuek, saya tetep maksa Yoga buat berangkat ke GBK. Hasilnya? Malah dia yang peningkatannya terlihat pesat. Kita berdua sama-sama install aplikasi Nike Run Club (NRC) untuk mengukur progress lari, dan Yoga keliatan jelas banget peningkatannya. Ntar kapan-kapan deh saya share tentang NRC itu.

Selain lari, saya juga kembali ke hobi semasa kuliah di Melbourne: nari! Ada beberapa akun sanggar tari yang saya ikuti, salah satunya adalah Gandrung Dance Studio. Gandrung beberapa kali membuka kelas dewasa, kayaknya tiga bulan sekali deh. Bulan-bulan kemarin saya masih terus aja mencari excuse atas kemalasan saya, inilah itulah.. Yang akhirnya membuat ngga daftar kelas. Tapi bulan Oktober ini beda. Saya langsung kirim pesan pribadi ke sanggar tersebut dan direspons dengan baik. Katanya langsung datang saja, bawa jarik, selendang plus stagen. Cukup dengan uang pendaftaran 100 ribu rupiah plus bulanan 250 ribu rupiah, semua orang bisa mengikuti kelas tari tersebut.

Kelas tarinya sekarang sudah masuk minggu kedua, dan saya merasa sangat happy! Di hari pertama kelas rasanya agak kesal dengan diri sendiri karena ga hapal-hapal sama gerakannya. Tapi memasuki pertemuan kedua, saya merasa lebih bisa mengikuti, sudah sedikit hapal, dan rasanya saya terhanyut dalam gerakan dan musiknya. Dancing makes me feel good. It clearly improves my mood, enhances my quality of life.

Tarian yang sedang saya pelajari saat ini adalah Tari Surilang, asal Jawa Barat. Menarik, karena sebelumnya saya hanya pernah belajar tari Betawi (Lenggang Nyai), Aceh (Ratoh Jaroe) dan Minang (Piring dan Rantak). Ke depannya, masing-masing batch akan diajari tarian yang berbeda-beda. Walaupun gerakan saya masih jauh dari luwes ataupun indah, yang penting saya menikmati :D.

Ayo, siapa lagi yang merasa kalau dengan aktivitas fisik jadi lebih bahagia?

July 28, 2019

Saying Goodbye to Traveloka

I was a happy customer. Was.

Until today, 28 July 2019 exactly at 9.06 am.

Sebagai pengguna setia Traveloka saya dengan senang hati melakukan berbagai pembelian mulai dari tiket pesawat, hotel, kereta api dan bahkan menulis review untuk restoran lengkap dengan upload foto. Setiap kali jalan-jalan, entah dalam atau luar negeri, saya selalu membuka website Traveloka terlebih dahulu sebelum mencari informasi di tempat lain. Kalau tujuan yang saya cari tidak ada di sana barulah saya buka Expedia, Booking atau Hotels.

Secara harga saya lihat sih Traveloka ga terlalu beda jauh dari website sejenis. Satu-satunya faktor yang membuat saya tetap menggunakan Traveloka adalah karena data saya sudah ada di sana jadi saya ngga perlu isi ulang lagi. Iya, lebih di faktor kenyamanan. Makanya begitu faktor kenyamanan ini diusik, saya ga perlu pikir panjang lagi buat minggat.

Dua minggu lalu saya lagi-lagi menggunakan jasa Traveloka buat paket wisata hotel dan pesawat ke Bangkok, Thailand. Seperti biasa, setelah selesai jalan-jalan biasanya Traveloka akan mengirimkan e-mail, meminta saya untuk menuliskan ulasan atas pesanan saya. Karena saya tidak merasa ada urgensi menulis ulasan, jadi saya diamkan saja e-mail tersebut. Toh pengguna Traveloka juga ga banyak, tidak sebanyak Google atau Trip Advisor, misalnya. Saya sih mikirnya pasti orang yang akan menginap di hotel yang sama dengan saya pasti udah mencari ulasan lain di internet. Intinya: nulis ulasan itu cuma bikin saya capek, ga ada keuntungan buat saya.

Beberapa hari kemudian Traveloka kembali mengirimkan e-mail yang isinya kembali meminta ulasan atas hotel yang saya tinggali. Saya diamkan saja dengan alasan yang sama. I mean, writing a review is not simple for me. It has to be sincere and I HAVE TO BE CONNECTED WITH WHAT I WRITE.

I don’t know about you, guys.. But writing something require my emotion, my memory, my fondness and my willingness. You can’t simply require me to write one on the spot.

Pagi ini, dengan lancangnya Traveloka kembali mengirim e-mail KETIGA KALINYA.

SAYA MUNTAB

Keluhan pertama kali

Dibalas dengan kata-kata bahwa e-mail yang dikirim merupakan automated e-mail. Saya sih merasa kalau saya ngga segoblok itu juga buat menyangka semua e-mail dikirim secara manual. Saya justru sangat ingin tahu divisi mana yang secara lugu-nya punya ide

“Wah ini kalo customer ngga ngisi ulasan mending kita kirimin e-mail aja buat maksa mereka nulis.”

Saya pengen liat langsung muka si bodoh yang punya ide tersebut.

Lebih muntab lagi sewaktu keluhan saya tiba-tiba di-mark as solved oleh mereka.

That’s fine, Traveloka. I was happy to know you, was satisfied as your customer. But really sorry, you now lost me. Good bye.

June 14, 2019

I Like Me

simple question

Suatu hari saya ngga sengaja melihat foto ini di internet. Gambar yang sederhana, tapi membuat berpikir panjang. Iya juga ya, misalnya saya ketemu saya sendiri kira-kira apa kesan pertama? Dan mau diajak ngobrol apa?

Skenario pun mulai tersusun. Sepertinya saya akan mulai dengan ngobrol tentang hal santai, mulai dari aslinya dari mana, anak ke-berapa dari berapa bersaudara. Lalu beranjak ke kuliah di mana dan pernah tinggal di mana saja.

Selanjutnya saya akan ajak ngopi bareng. Flat white, tentu saja. Sambil ngopi, saya akan bahas buku terakhir yang dibaca. Apakah Sheryl Sandberg dan Michelle Obama memiliki karakter yang sama. Siapa yang lebih disukai, Bill Gates atau Jeff Bezos. Mengingat karakter saya, besar kemungkinan kami berdua akan lebih memandang Bill Gates ketimbang bos Amazon.

Kemudian saya akan curhat sedikit tentang bobot badan yang bertambah secara signifikan begitu usia menginjak kepala 3. Ingatan mulai berkurang dan suka lupa nama orang yang diajak bicara. Betapa dulu suka geli sendiri kalau Mama sudah memanggil dengan absen semua nama anaknya satu per satu dan sekarang mengulangi hal yang sama. Lalu kami akan tertawa bersama.

Semalam saya lempar ide itu ke suami. Respon dia?

“Nggak, aku ga akan suka kalo ketemu dia. Kamu memang bakal suka ketemu aku karena kamu cerita sesuatu dan aku mendengarkan. Tapi aku engga suka ketemu aku.”

“Lah, kenapa? Khan kalian bisa cocok dan ga saling ganggu karena toh sama-sama pendiam.”

“Iya tapi kalo ada dia khan jadinya diam. Trus aku juga diam. Ngga ada bedanya donk? Jadi mending ngga usah ketemu.

Hmmmm… Logis. Tapi ya maksudku ga gitu juga sik (–“)