July 28, 2019

Saying Goodbye to Traveloka

I was a happy customer. Was.

Until today, 28 July 2019 exactly at 9.06 am.

Sebagai pengguna setia Traveloka saya dengan senang hati melakukan berbagai pembelian mulai dari tiket pesawat, hotel, kereta api dan bahkan menulis review untuk restoran lengkap dengan upload foto. Setiap kali jalan-jalan, entah dalam atau luar negeri, saya selalu membuka website Traveloka terlebih dahulu sebelum mencari informasi di tempat lain. Kalau tujuan yang saya cari tidak ada di sana barulah saya buka Expedia, Booking atau Hotels.

Secara harga saya lihat sih Traveloka ga terlalu beda jauh dari website sejenis. Satu-satunya faktor yang membuat saya tetap menggunakan Traveloka adalah karena data saya sudah ada di sana jadi saya ngga perlu isi ulang lagi. Iya, lebih di faktor kenyamanan. Makanya begitu faktor kenyamanan ini diusik, saya ga perlu pikir panjang lagi buat minggat.

Dua minggu lalu saya lagi-lagi menggunakan jasa Traveloka buat paket wisata hotel dan pesawat ke Bangkok, Thailand. Seperti biasa, setelah selesai jalan-jalan biasanya Traveloka akan mengirimkan e-mail, meminta saya untuk menuliskan ulasan atas pesanan saya. Karena saya tidak merasa ada urgensi menulis ulasan, jadi saya diamkan saja e-mail tersebut. Toh pengguna Traveloka juga ga banyak, tidak sebanyak Google atau Trip Advisor, misalnya. Saya sih mikirnya pasti orang yang akan menginap di hotel yang sama dengan saya pasti udah mencari ulasan lain di internet. Intinya: nulis ulasan itu cuma bikin saya capek, ga ada keuntungan buat saya.

Beberapa hari kemudian Traveloka kembali mengirimkan e-mail yang isinya kembali meminta ulasan atas hotel yang saya tinggali. Saya diamkan saja dengan alasan yang sama. I mean, writing a review is not simple for me. It has to be sincere and I HAVE TO BE CONNECTED WITH WHAT I WRITE.

I don’t know about you, guys.. But writing something require my emotion, my memory, my fondness and my willingness. You can’t simply require me to write one on the spot.

Pagi ini, dengan lancangnya Traveloka kembali mengirim e-mail KETIGA KALINYA.

SAYA MUNTAB

Keluhan pertama kali

Dibalas dengan kata-kata bahwa e-mail yang dikirim merupakan automated e-mail. Saya sih merasa kalau saya ngga segoblok itu juga buat menyangka semua e-mail dikirim secara manual. Saya justru sangat ingin tahu divisi mana yang secara lugu-nya punya ide

“Wah ini kalo customer ngga ngisi ulasan mending kita kirimin e-mail aja buat maksa mereka nulis.”

Saya pengen liat langsung muka si bodoh yang punya ide tersebut.

Lebih muntab lagi sewaktu keluhan saya tiba-tiba di-mark as solved oleh mereka.

That’s fine, Traveloka. I was happy to know you, was satisfied as your customer. But really sorry, you now lost me. Good bye.

June 14, 2019

I Like Me

simple question

Suatu hari saya ngga sengaja melihat foto ini di internet. Gambar yang sederhana, tapi membuat berpikir panjang. Iya juga ya, misalnya saya ketemu saya sendiri kira-kira apa kesan pertama? Dan mau diajak ngobrol apa?

Skenario pun mulai tersusun. Sepertinya saya akan mulai dengan ngobrol tentang hal santai, mulai dari aslinya dari mana, anak ke-berapa dari berapa bersaudara. Lalu beranjak ke kuliah di mana dan pernah tinggal di mana saja.

Selanjutnya saya akan ajak ngopi bareng. Flat white, tentu saja. Sambil ngopi, saya akan bahas buku terakhir yang dibaca. Apakah Sheryl Sandberg dan Michelle Obama memiliki karakter yang sama. Siapa yang lebih disukai, Bill Gates atau Jeff Bezos. Mengingat karakter saya, besar kemungkinan kami berdua akan lebih memandang Bill Gates ketimbang bos Amazon.

Kemudian saya akan curhat sedikit tentang bobot badan yang bertambah secara signifikan begitu usia menginjak kepala 3. Ingatan mulai berkurang dan suka lupa nama orang yang diajak bicara. Betapa dulu suka geli sendiri kalau Mama sudah memanggil dengan absen semua nama anaknya satu per satu dan sekarang mengulangi hal yang sama. Lalu kami akan tertawa bersama.

Semalam saya lempar ide itu ke suami. Respon dia?

“Nggak, aku ga akan suka kalo ketemu dia. Kamu memang bakal suka ketemu aku karena kamu cerita sesuatu dan aku mendengarkan. Tapi aku engga suka ketemu aku.”

“Lah, kenapa? Khan kalian bisa cocok dan ga saling ganggu karena toh sama-sama pendiam.”

“Iya tapi kalo ada dia khan jadinya diam. Trus aku juga diam. Ngga ada bedanya donk? Jadi mending ngga usah ketemu.

Hmmmm… Logis. Tapi ya maksudku ga gitu juga sik (–“)

June 9, 2019

Libur Tlah Berlalu

Sebutkan dua kata yang paling mengerikan minggu ini! Menurut saya: Besok masuk.

Mau gimana lagi, namanya juga orang kantoran khan ya. Mau dapat gajinya ya harus kerja. Pengen dapat fasilitasnya ya harus masuk. Saya punya tips dan trik supaya masuk kerja setelah libur panjang bisa tetap menyenangkan.

  1. Melakukan deep clean seantero ruangan apartemen. Semua ruangan saya sikat, lap, vacuum dan pel tanpa kecuali. Benda-benda yang sudah ga terpakai langsung saya singkirkan. Demi apa ternyata saya masih menyimpan kartu garansi kamera yang dibeli 2 tahun lalu padahal garansinya hanya berlaku selama satu tahun? Belum lagi nota pembelian benda beberapa bulan lalu dan corat-coret relasi table sebuah project yang sudah ga relevan lagi sekarang. Bungkus! Masuk ke tempat sampah! Yes!
  2. Body scrub, maskeran dan baby facial. Sukaaa banget kalo udah pakai scrub favorit yang beraroma kopi. Kalo facial, saya memang rutin seminggu sekali pakai Sukari Babyfacial dari Drunk Elephant. Kalau keadaan kulit lagi berantakan, langsung terasa cekit-cekit deh itu kulit muka. Tapi setelahnya.. Segaar.
  3. Ganti pengharum ruangan. Semua ruangan saya ganti aromanya.. Sekarang ruang kamar dan perpustakaan beraroma kayu-kayuan, ruang tengah disemprot dengan pewangi jeruk, sementara kamar mandi saya pasang pengharum kopi. Nuansa masing-masing ruangan bener-bener beda gitu 😀
  4. Berenang. Oh my! Ini aktivitas yang dulu rutin saya lakukan seminggu sekali dan mendadak terhenti begitu saja. Padahal renang di apartemen saya ini gratis, plus ga perlu usaha lagi buat parkir dan sebagainya. Saya niatkan mulai sekarang harus rutin lagi.
  5. Nge-gym. Ini juga sebuah niat yang dari dulu tertunda-tunda. Selama beberapa bulan belakangan jatuh-jatuhnya hanya bayar iuran bulanan gym tapi ngga pernah menjejakkan kaki di studio. Ampuuuuun!

Lima hal simpel tersebut ternyata cukup manjur lho untuk menambah semangat kerja besok. Terbukti sekarang saya siap-siap untuk istirahat, ga sabar untuk bisa memulai rutinitas kembali besok pagi 😀

June 7, 2019

Serba-serbi Lebaran 2019

Yang namanya Lebaran pasti selalu punya cerita. Bisa tentang pengalaman mudik, ucapan mohon maaf lahir batin, atau makanannya.

Mohon Maaf Lahir Batin
Sudah beberapa tahun belakangan ini saya tidak memusingkan ucapan melalui pesan singkat. Mau mengucapkan ke saya atau tidak, tidak masalah. Saya sendiri juga tidak mengirim pesan ke banyak orang, hanya orang-orang terdekat yang saya kirimi. Kata-katanya pun bukan template karena saya tidak suka yang tidak personalised langsung ke orangnya. Kalimat yang saya kirim kurang lebih

Cuy!

Met Lebaran yaa

Mohon maaf lahir batin kalo ada salah.

Dengan begini tak heran lalu sampai terjadi percakapan yang berlanjut sampai berbalas kabar. Tentu ini ga akan kejadian kalau pesan yang saya kirim berupa template, ya ga?

Baju Lebaran
Semenjak mulai kerja dan punya uang sendiri saya malah ga pernah beli baju Lebaran. Kalau momen Idul Fitri tiba, baju yang saya pakai ya baju lama, malah kadang baju kerja. Saya memang kurang suka dengan yang model gamis, karena tidak sesuai dengan keseharian saya. Ga bisa dipake ngantor, ga bisa dipake bwt sekedar turun ke bawah buat beli makan, ga bisa dipakai tidur, hanya bisa dipakai di saat tertentu. Jadinya ya baju Lebaran saya pada umumnya berupa blouse atau outer batik dan dipadu dengan celana jeans. Praktis!

Makanan
Lebaran di rumah orang berarti saya pasrah ngikut saja dengan menu yang disuguhkan. Untungnya saya dan suami sama-sama ga neko-neko nuntut Lebaran harus dengan opor dan sambal goreng atau apalah. Yang penting makan, itu sudah hamdalah.

Mudik
Jogja itu ternyata beneran murah buanget ya. Enam hari saya di Jogja, saya makan di sana sini, nonton, ngopi ke sana kemari dan untuk masing-masing itemnya hanya menghabiskan biaya maksimal 75% dari yang saya habiskan di Jakarta. Edyaaan. Mau donk dapat gaji Jakarta tapi hidup di Jogja 😄.

Hmmm.. Apalagi ya yang bisa ditulis tentang Lebaran. Nanti kalau ada tambahan lain saya tulis di blog post terpisah deh.