October 24, 2020

Home Screen dan Lock Screen

Barusan saja saya ngga sengaja melihat ada tweet yang nge-post gambar Home screen HP miliknya. Kebetulan si mbak ini kerjanya di XBox. Iya, memang di perusahaan game itu. Jadi ngga heran kalau foto beliau ini tampak keren, lagi main game!

Trus saya ngga mau kalah, langsung screen capture home screen dan lock screen di HP saya.

Home screen yang terlihat berupa salju itu diambil sewaktu roadtrip di Oregon, beberapa minggu sebelum pulang ke Indonesia. Dan secara kebetulan juga, lock screen yang saya pasang merupakan foto yang diambil di kampus saya, Unimelb, beberapa minggu sebelum pulang. Padahal ngga sengaja lho, kok bisa pas ya hahahaha.

Ga ada filosofi apa-apa sih di balik keputusan masang foto itu. Cuma ada perasaan hepi dan sedikit nostalgic, inget suasana waktu motret itu lagi ngapain trus habis itu pergi ke mana dan sama siapa. Sama siapa? Ya jelas sama Yoga, mau sama siapa lagi?

Kalau diliat-liat ya, susunan icon di HP saya itu bener-bener ga ada aturan. Ga disusun berdasarkan fungsi, warna, abjad ataupun kategori khusus. Pokoknya suka-suka saya mau naruh di mana. Sebenernya lebih ke jangkauan jari sih. Aplikasi yang sering saya buka sengaja saya taruh di pinggir, entah kiri atau kanan. Tujuannya supaya mudah di-klik saat sedang pegang HP dengan satu tangan. Trus juga empat icon di menu bawah adalah empat aplikasi yang saya gunakan setiap hari: WhatsApp, Telegram, Safari dan Mail. Kenapa ditaruh bawah? Sama dengan alasan kenapa saya taruh pinggir: supaya gampang di-klik!

Gimana dengan kalian? Foto apa yang kalian pajang di HP? Apakah ada alasan khusus di baliknya? Lalu penyusunan icon aplikasi biasanya berdasarkan apa?

July 18, 2020

Grey’s Anatomy

Serial Grey’s Anatomy muncul pertama kali di tahun 2005, beberapa bulan setelah saya mulai kerja. Dulu saya suka banget karena selain ceritanya menarik, kasus-kasus operasi yang muncul di episode seru-seru. Trus soundtrack-nya baguuus, saya sampai ngumpulin judul-judul soundtracknya dan dijadiin satu playlist di iPod. Dulu masih jamannya iPod, hehehe. Selang beberapa season, saya udah ngga ngikutin lagi. Kalo ga salah terakhir saya nonton intens itu cuma sampai season 3 atau 4 gitu deh. Bukan karena ngga tertarik, tapi memang akses untuk nontonnya ngga ada.

Kira-kira dimulai dari tiga bulan lalu, pas mulai working from home gitu deh, saya iseng-iseng buka Netflix dan menemukan serial ini di salah satu playlist. Cukup kaget juga, lha kok udah season ber-belas-belas gitu. Iseng, saya klik dan pelan-pelan menikmati sihirnya. Banyak tokoh baru selain dari beberapa pemeran yang (ceritanya) sudah mati. Meredith Grey, sang tokoh utama, saat ini sudah jauh berubah. Dulu masih kinyis-kinyis, sekarang terlihat sangat matang. Walaupun badannya masih tetep kecil nan langsing. Wow ini Ellen Pompeo jago banget jaga badan. Nggak butuh lama buat saya untuk catch up dengan alurnya, dan bisa ditebak saya langsung ngga bisa berhenti buat nonton!

Sialnya, Netflix yang saya gunakan ini adalah Netflix Australia yang ternyata hanya memiliki stok Grey’s yang terbatas. Kalau ngga salah hanya season 14 dan 15. Itupun berakhir persis di 30 Juni 2020. Jadilah saya kebut nonton dua season itu berminggu-minggu. Pokoknya weekend adalah waktu saya nonton Netflix, soalnya kalo hari kerja biasanya ga sempat gara-gara keasikan kerja sampai malam. Singkat cerita, di 30 Juni saya harus mengucapkan selamat berpisah pada serial kesayangan.

Sudah? Sampai situ saja? Hohoho, tentu tidak. Setelah tahu kalau saya nge-fans banget sama serial ini dan juga ternyata Grey’s ada di Netflix US, Yoga bergerilya cari info untuk bisa mengakses Netflix US. Pakai apa? Jelas pakai VPN.. Oh I so love technology! Satu malam, Yoga daftar VPN, langganan trus klak klik dikit di TV.. Voila! Netflix saya sekarang sudah diputar arah jadi Netflix US.

Sekarang saya masih dalam tahap mengejar ketertinggalan cerita dengan mulai nonton season 4. Kali ini tidak terlalu terburu-buru karena toh di Netflix US bakal masih ada terus, belum ada pengumuman kapan serial ini akan berhenti tayang. Nggak tahu kenapa, sampai sekarang saya masih belum menikmati nonton drama Korea atau yang sering disingkat drakor-drakor itu. Kepincutnya malah sama serial lama yang pemain utamanya bahkan sudah berusia kepala lima, hahaha.. To each their own khan yaa ūüėÄ

June 13, 2020

Menonaktifkan Media Sosial

Biasanya dalam kondisi tertentu saya akan meminimalisir buka-buka sosmed yang nagih itu, terutama kalau kerjaan lagi banyak-banyaknya. Begitu juga dua minggu lalu, kebetulan di kantor sedang ada project yang cukup signifikan menyita perhatian. Jadi deh saya nonaktifkan Instagram dan Facebook. Khusus buat Facebook, saya akhirnya mengaktifkan lagi karena: butuh login ke Goodreads buat cari buku. Dulu memang bikin akun Goodreads pake Facebook karena malas mengingat-ingat password baru. Jadi ya gitu, kalo pas lagi butuh review buku, si Facebook-nya juga harus aktif.

Ada gunanya juga sih saya deaktivasi akun, karena trus jadi lebih fokus buat baca buku. Terbukti dalam 2 minggu saya berhasil menyelesaikan 3 buku:

  1. Psych101: A Crash Course in the Science of the Mind 
  2. HBR’s 10 Must Reads on Strategy¬†
  3. Value Proposition Design

Cerita dikit deh tentang buku-buku ini ya.

Psych 101: A Crash Course in the Science of the Mind

Kalo kamu tertarik dengan psikologi buat sekedar tahu, buku ini akan berguna sebagai teaser, pembuka. Makanya dikasi judul Crash Course, karena isinya memang singkat. Di buku ini dijelaskan soal teori-teori psikologi yang terkenal, termasuk sedikit latar belakangnya. Karena singkat, kadang-kadang ada kasus yang merangsang rasa ingin tahu dan membuat saya mencari penjelasan lebih jauh. Contohnya: Stanford Prison Experiment.

Di tahin 1971, ahli dari Stanford University mengadakan penelitian untuk mengetahui perilaku dasar manusia, apakah sebenernya kita sebagai manusia normal mampu bertindak di luar batas kemanusiaan apabila ditempatkan dalam kondisi tertentu. Mengambil subyek penelitian dari 24 mahasiswa baik-baik, para sukarelawan ini dibagi menjadi dua kelompok. Ada yang kebagian menjadi penjaga penjara, ada juga yang menjadi tahanan. Situasi dan kondisi dibuat persis sebagaimana kondisi penjara aslinya, termasuk perlakuan, kekerasan dan pelecehan terhadap tahanan.

Di luar dugaan (atau malah sesuai dugaan?), penelitian ini mengakibatkan hasil yang tidak menyenangkan. Saking buruknya efek yang ditimbulkan, sampai-sampai penelitian ini dihentikan setelah enam hari. Jelas prematur, karena awalnya kondisi ini dirancang untuk dijalankan dalam dua minggu. Hiii.. Ngeri.

Stanford Experiment ini cuma salah satu cerita yang dikisahkan, masih banyak penelitian lain yang ditulis walaupun (lagi-lagi) benar-benar singkat.

HBR’s 10 Must Reads on Strategy¬†

Dulu sewaktu kuliah, saya sudah familiar dengan artikel-artikel Harvard Business Review. Berkualitas, saking tingginya kadang-kadang saya sampai ngga paham, hahahaha! Tapi saya suka, karena menambah kemampuan kosakata. Tahu sendiri khan bahasanya Harvard gimana, banyak vocab aneh yang tidak jamak ditemukan. Minggu lalu saya kebetulan ngecek website Periplus dan melihat buku-buku HBR didiskon sampai 50%. Langsung saja saya sambar satu; ya si On Strategy ini.

Ngga gampang menyelesaikan bacaan ini, karena baca satu kali kadang ngga ngerti. Apalagi tulisannya Michael E. Porter, sang Bapak Manajemen. Pemaparannya selalu panjang, dilengkapi dengan boks-boks khusus untuk memperjelas poin-poin yang disampaikan. Jujur, kalau baca tulisan yang ada boks-boks gitu kadang bikin perhatian saya teralihkan. Alih-alih membaca tulisan utama, saya jadi baca boks, trus pas balik lagi ke tulisan utama saya sudah lupa lagi itu lagi bahas apa.

Tapi berkat kenyataan jarang main sosmed, akhirnya berhasil juga selesai bacaa.. Hahahaa.. Happy sekali saya.

Value Proposition Design

Sekarang masuk ke buku ketiga yang dibeli tanggal 19 April 2020 dan baru sampai 6 Juni 2020. Wha, lama amat? Iya, soalnya beli di Book Depository dan dikirim dari UK. Website-nya Book Depository sih bilang katanya kalo barang yang di-dispatch dari UK cuma butuh waktu 7-10 hari, tapi ada kemungkinan terlambat gara-gara Covid-19. Dan dugaan saya sih mungkin proses di bea cukainya juga memakan waktu yang lumayan. Masih untung sih buku ini ngga kena pajak, jadi jatuh-jatuhnya harganya jauh lebih murah daripada kalo beli di toko buku Indonesia.

Buku ini tentang apa sih? Menarik banget lho buat yang pengen ngebangun bisnis sendiri. Karena di sini dibahas soal Business Model, how to identify your business’ key points, trus juga dikasi template buat mengaplikasikan.

Ya, kurang lebih demikian ya Bapak-bapak dan Ibu-ibu.. Cerita singkat soal buah dari ngga main sosmed. Lumayan menghasilkan juga ternyata, hihihi..

June 2, 2020

Playlist 90-an

Di awal dekade 90-an dulu saya penggemar akut radio. Awalnya gara-gara sejak kelas 6 SD mulai dikasih kamar sendiri. Kesenengan deh tuh atur-atur interior kamar, ngebikin ada pojok bobok, area main, meja rias dan yang paling berkesan: sudut komik dan radio! Aduh, sampai sekarang saya masih bisa ngebayangin kamar lama saya dulu.

Kelas 6 SD juga merupakan titik awal saya di mana mulai ngerasa kayak orang gede. Udah punya make-up sendiri yang mereknya Puteri, keluaran Mustika Ratu. Yaelah namanya anak SD make-up nya apa sih, sebenernya ya cuma pembersih, penyegar dan bedak. Plus bedak badan, pengharum tubuh dan body lotion. Aih, dibeliin begitu aja saya senang bukan main.

Pulang sekolah biasanya saya suka bercentil-centil ria di depan cermin, pakai pembersih dan penyegar lalu siap-siap tidur siang sambil: denger radio! Paling seneng kalau pas hari itu ga ada jadwal les, Pramuka atau latihan drum band karena berarti bisa denger radio seharian. Kelas 6 SD itu saya belum kenal bahasa Inggris sama sekali. Jadi kalo denger penyiar radio bilang

“Salam dari Anik buat someone.”

atau

“Duh, salamnya spesial buat someone”,

Itu membuat saya bertanya-tanya “Siapakah gerangan si Samwan ini? Kenapa semua orang kirim salam buat dia?”

Kalau diingat-ingat sekarang mah lucu dan bikin geli sendiri ini mah. Lucu-lucu gini, masa-masa itu ngangenin buat saya. Makanya trus belakangan ini saya hobi banget dengerin lagu-lagu 90-an untuk sekedar melepas rindu. Playlist yang sudah saya susun di Spotify bisa di-klik di sini

Jujur, beberapa lagu bukan hanya mengingatkan masa-masa pra ABG dan remaja, tapi lebih ke pengingat tentang orang tua. Lho kok bisa? Iya, Mama saya dulu bukan tipe kekinian, tapi beliau tahu kalau saya suka banget denger musik di radio. Pernah di suatu masa pas saya pulang sekolah tiba-tiba di meja belajar saya sudah tergeletak 3 kaset. TIGA SEKALIGUS. Tanpa note, tanpa ucapan atau kata-kata apapun, tapi saya tahu kalau itu dibelikan Mama.

Kalian punya kenangan juga ngga dengan lagu 90-an? Atau jangan-jangan malah belum lahir?